Jalu lari terburu-buru menghampiri sebuah kamar yang terletak di ujung istana. Ia mengetuk pintu kamar itu beberapa kali. Tak berapa lama, seorang pria tua mendorong pintu dari dalam. Pria itu berambut putih dengan panjangnya sebahu. Ia juga berkumis dan berjanggut putih. Janggutnya panjang sampai ke leher. Pria itu tak memakai baju untuk menutupi tubuh bagian atasnya. Ia hanya memakai celana hitam yang sepanjang mata kaki. Di dadanya tergantung sebuah kalung menyerupai tali berwarna hitam dengan taring harimau sebagai liontinnya. “Ada apa, Anak Muda?” tanya sang tabib sambil mengelus janggut putihnya. “Tabib, aku memerlukan bantuanmu,” ucap Jalu sambil berbisik. “Bolehkah kita berbicara di dalam saja?” tanya Jalu. “Baiklah, apakah ini adalah sebuah rahasia?” Sang tabib balik bertanya.

