Pagi-pagi sekali Teratai, Galuh, dan Lidya sudah bangun. Seperti biasa, mereka mempersiapkan sarapan. Ketiga gadis itu berkumpul di belakang rumah, di dekat sebuah tungku. “Non Tera, bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Galuh. “Galuh, mengapa kau lagi-lagi memanggilku dengan sebutan itu? Bukankah saat ini kita sama-sama berstatus sebagai anaknya Pak Arya?” protes Teratai. Ia ingin sekali kedua gadis yang pernah menjadi dayangnya benar-benar menganggapnya sebagai seorang kakak. “Non, di sini cuma ada kita bertiga. Lagi pula bapak dan ibu sudah tahu perihal kebenaran bahwa Nona adalah putri Raja Ragendra. Izinkan aku tetap memanggilmu Nona.” Galuh berkeras pada pendiriannya. “Hemm … baiklah. Namun, di depan para pasien dan murid-murid, kalian harus tetap memanggilku ‘Kakak’.” Perintah

