BAB - 10

820 Words
"Sepertinya kamu sudah mabuk, Sayang?" bisik Ken di telinga Eliana yang sejak tadi memeluknya seakan tidak ingin menjauh seincipun. Dentuman musik yang dimainkan oleh DJ masih terdengar menggema di sekelilingnya meskipun saat ini mereka berada di bagian dalam club yang lebih privated. Besok pagi, Ken harus pergi ke bandara untuk menunggu Istrinya dan kembali ke Paris bersama-sama. Sejak sore tadi Eliana ngotot mengajaknya pergi ke club. Eliana hanya mengg erang dan mengg eliat semakin memeluknya erat. "Jangan pergi," bisik Eliana. “Aku akan kembali lagi. Jadi tunggu aku ya," bisiknya penuh janji. Eliana menatapnya sendu. "Kenapa kamu harus menikah dengannya bukan denganku?" "Bagaimana kalau kita pulang ke hotel dan ber cinta saja?" bisik Ken lagi berharap kalau Eliana akan berhenti menangis. Eliana melepaskan pelukannya, "Tentu saja. Aku hanya tidak suka membayangkan kalau besok malam, aku akan kembali tidur sendirian." Ken berdiri menarik serta Eliana dan men cium bi bir wanita itu lembut seraya tersenyum, "Bayangkan saja tentang per cintaan panas kita selama di sini, tanpa kamu sadari aku akan datang lagi." Eliana hanya tersenyum dan pasrah ketika Ken memeluk sebelah pinggangnya dan membawanya keluar di sambut oleh suara musik dan hiruk pikuk pengunjung club yang semakin memanas. Eliana mengedarkan pandangannya selama berjalan bersisian di samping Ken menuju ke pintu keluar. "Tunggu sebentar." Eliana menghentikan langkahnya memandangi sesuatu di kejauhan. "Kenapa?" tanyanya. "Aku seperti melihat Arzetta," tunjuknya ke pasangan yang sedang ber ciuman mesra tidak jauh dari sana. "Dia berc iuman dengan seseorang?" Ken menyipitkan matanya. Eliana menepuk kepalanya dan menoleh menatap Ken dengan senyuman, "Sepertinya aku sudah mabuk jadi suka berhalusinasi. Tidak mungkin itu Zetta bukan?" "Sepertinya bukan? Coba lihat saja dari cara mereka berc iuman, sangat intens. Zetta tidak mungkin melakukan hal itu. Kalau Jason tahu dia bisa mengamuk habis-habisan." Eliana mengangguk, "Kalau begitu ayo kita keluar." Ken mengangguk dan kembali menuntun Eliana keluar dari club dan pergi dari sana kembali ke hotel. **** Zetta merutuki keb odohannya karena membiarkan Alva men ciumnya dan malah terhanyut di dalamnya. Ci uman yang dalam dan panas tapi anehnya Zetta merasakan hal lain. Kehangatan dan merasa sangat diinginkan. Selama ini Zetta memang tidak pernah berani mencoba untuk berhubungan dengan seseorang, selain karena tra umanya juga karena Jason. Lelaki yang sejak dulu selalu ada untuknya dan menjaganya. Hanya saja saat mengetahui kalau ada kemungkinan Jason hanya bermain sandiwara dengan Austin menimbulkan banyak tanda tanya di benak Zetta. Apa memang Jason hanya menganggapnya sebagai seorang Adik yang ingin di lindungi tanpa membuat Zetta salah paham hingga dia menciptakan image 'itu' atau Jason memang tidak pernah memandangnya sebagaimana selama ini Zetta memandang seorang Jason. Penuh cinta dan pengharapan. Mereka keluar dari club hampir menjelang pagi. Setelah berpisah dengan Sheila dan suaminya, mereka akan beristirahat sejenak di hotel dan sorenya pulang ke New York. Zetta berbalik setelah mobil milik Romeo berlalu dan menemukan tatapan intens Alva. Zetta mengatupkan bi birnya karena teringat dengan ciu man panas mereka tadi dan kata-kata melemahkan yang keluar dari bib irnya. Zetta tahu dengan jelas bagaimana Alva memikat wanita-wanita di luaran sana. Melumpuhkan. Sama seperti ciu man panasnya. Alva maju dan mengulurkan tangannya merapikan rambut Zetta yang tertiup angin malam. "Pikirkan tentang permintaanku. Aku tidak main-main." "Apa aku harus percaya pada perkataan lelaki yang memiliki banyak wanita di luar sana yang menghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk s ex?" "Seiring berjalannya waktu kamu akan tahu.” Zetta hanya diam.”Lebih baik kita kembali ke hotel sekarang.” Zetta mengangguk dan berbalik saat tiba-tiba Alva menarik lengannya dan membawanya masuk ke dalam dekapan hangatnya. Zetta refleks langsung mencoba melepaskan diri tapi Alva mempererat pe lukannya. "Sebentar saja." Zetta terdiam kaku. Alva membenamkan wajahnya di lekukan bahunya lalu setelahnya Alva mengurai pelukannya dan melakukan hal lain yang membuat Zetta terbelalak. Alva men cium kening Zetta dengan lembut. Belum pernah ada yang men ciumnya seperti yang Alva lakukan saat ini hingga membuat Zetta hanya bisa terdiam meresapinya. Apa dia sudah masuk ke dalam perangkap pesona Alva yang mematikan dan akan berakhir dengan menjadi salah satu wanita teman tidurnya kemudian berakhir dicampakkan? Kelebatan pikiran itu membangunkan Zetta dari terlenanya dia akan perlakuan Alva. Zetta berniat mendorong Alva menjauh tapi sebelum dia sempat melakukan itu seseorang menarik Alva lebih dulu disertai teriakan penuh amarah. "JANGAN PERNAH ME NCIUM WANITAKU LAGI, BAJ INGAN!" BUK! BUK! Zetta memekik melihat Jason datang dan memukul wajah Alva sampai dia tersungkur di jalanan. Alva berdiri dan Jason kembali mengumpat, "JANGAN PERNAH MENDEKATI ARZETTA LAGI!" BUK! BUK! Pukulan Jason kembali melayang ke sisi wajah Alva yang lainnya. Kepalan tangan Jason semakin kencang dengan bara kemarahan di matanya, "DASAR BR ENGSEK!" Jason maju berniat menghajar Alva habis-habisan tapi lelaki itu sudah bangkit dan balik menghajar Jason. Zetta terdiam kaku melihat mereka saling memukul dan menendang. Saat dilihatnya mereka seperti siap untuk saling membunuh, Zetta mendekat untuk memisahkan hingga mengakibatkan dia mendapat sasaran tinju dari Jason yang membuatnya langsung terhuyung jatuh ke belakang dan pandangannya menggelap. "ARZETAAA!!!" pekikan itu menggema di sekelilingnya. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD