Bab 3: To Good To Be True

1301 Words
Empat kali dalam setahun ini Mama dan Ibu Ratu kompak mencoba untuk menjodohkan kami, tapi nggak pernah disambut antusias, baik dariku dan Gale, alasannya karena kami sama-sama memiliki pacar. Namun cara kerja dunia memang unik, di sinilah kami akhirnya, duduk di hadapan penghulu dengan tangan terangkat untuk berdoa karena ijab kabul baru saja resmi dilaksanakan. Aku sempat mematung, merasa sulit berfungsi normal hingga hanya bisa menatap meja di depanku dengan pandangan kosong. "Kamu nggak pa-pa?" Pertanyaan yang sama diajukan oleh Gale ketika suara host menggema di sepenjuru rumahku tempat di mana akad digelar, meminta agar kami untuk tukar cincin, tapi aku hanya diam. Kutatap matanya, laki-laki yang kini sudah menjadi suamiku, dia tampak gagah dalam balutan beskap serta blangkon khas adat Jawa sementara aku mengenakan kebaya, keduanya bernuansa putih gading yang serasi. Apa yang membuat dia akhirnya berubah pikiran? Aku tahu selama ini hubungannya nggak pernah berhasil, dan karena merasa takut bahwa rahasiaku akan terbongkar, setelah obrolan singkat di ballroom, aku memberinya waktu untuk menyiapkan pernikahan selama seminggu. Sebuah permintaan yang membuat keluarga dua belah pihak termasuk Gale shock, tapi aku beralasan bahwa kami sama-sama sibuk, jadi akan lebih baik jika akadnya dilangsungkan lebih dulu, resepsi dan segala ceremony bisa menyusul nanti. Syukurlah semuanya menerima. Segalanya berjalan sangat lancar, amat mulus, tanganku sampai gemetar ketika perlahan Gale mendorong masuk cincin di jari manisku. Harusnya kini aku merasa lega, bayi yang ada di dalam kandunganku akan terjamin, dia akan memiliki nama Gale di belakang namanya, dia akan memiliki akta kelahiran, dia akan memiliki keluarga yang mungkin mencintainya. "Makasih ya Kim sudah mau menerima Gale sebagai suami kamu, Ibu berdoa semoga kalian selalu dalam lindungan Allah, semoga pernikahan kalian dilimpahkan keberkahaan, diberikan momongan yang sehat, sholeh dan sholehah, langgeng sampai maut memisahkan." Saat sungkeman, Ibu Ratu membisikkan wejangan singkat, tapi kata-katanya membuatku sesenggukan, aku berlutut di pangkuannya seakan memohon pengampunan. "Maaf Ibu ..." Hanya itu yang mampu kuucapkan. Sementara telapak tangannya dengan lembut terasa mengusapi punggungku. Sama seperti Gale, aku juga mengenal Ibu Ratu dari bocil, dia sudah menganggapku sebagai anaknya sendiri. Mengkhianatinya sama saja seperti mengkhianati Mama. Apa yang telah kulakukan? Kenapa aku sangat nekat? Bagaimana jika kebohongan ini terendus seseorang? Semakin aku dikerubungi keluarga Gale yang menyambut bahagia, semakin aku merasa terpapar, seolah setiap mata mencoba untuk menembus diriku. "Kakak cantik banget sih." Adik bungsu Gale yang masih kuliah, Sara bahkan nggak henti-hentinya memuji, entah itu sebuah pujian tulus atau hanya sekedar basa-basi karena matanya tampak awas memperhatikan perutku, lalu naik menuju mataku sebelum menyeringai lebar. "Kalau resepsi nanti mantan diundang nggak, Kak?" Aku mual jika harus membicarakan Rey, laki-laki itu sedang sibuk syuting di luar kota menikmati kehidupannya. Tapi gelengan kepalaku membuatnya kecewa. "Sayang banget padahal aku ngefans." Tanganku terasa disentuh ringan, aku refleks berjengit, tapi ketika menoleh yang kutemukan hanya Gale. "Udah semua Kim?" Aku belum merasa terbiasa dengan sentuhannya, tapi itu nggak masalah, kami hanya perlu melakukan hubungan seksual sekali. Setidaknya itulah rencanaku, semua sudah kepalang tanggung, maka jika ingin berhasil aku kudu menguatkan mental. "Udah Mas." Kuangsurkan koper berisi pakaian yang akan kubawa beserta beberapa barang lainnya. Inilah saatnya, aku akan memulai hidup baru, suatu perjalanan panjang yang nggak akan pernah kutahu bagaimana ujungnya. *** "Mas kanan atau kiri?" "Kiri." Baiklah. Aku melompat ke sisi kanan tempat tidur, merebahkan diri dan menarik selimut sampai menutupi d**a. Jantungku terasa berdebar hebat, semua lampu kamar sudah dimatikan dan hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu gantung di atas nakas. Suasana begitu tenang, selagai memejamkan mata, aku bisa mendengar suara diffuser AC, suara langkah kakinya yang ringan, suara kain dari selimut yang ditarik, kemudian kasur terasa melesak oleh bobot tubuhnya. Ketika kurasa laki-laki itu sudah menemukan posisi tidur yang nyaman, mataku seketika membuka, menoleh untuk menemukan Gale yang sedang memunggungiku. Sialan. Ludahku tertelan. Hanya sekali, sekali saja, jika aku menundanya terlalu lama, maka kehamilanku yang sudah berjalan lebih dari lima minggu nggak akan masuk akal. Semua orang jelas akan curiga. "Mas?" "Hm?" Ya ampun, jantung kurang ajar, bisa nggak santai dulu? Aku merasa seperti sedang berlari di treadmill saat tubuhnya berputar menghadapku. "Capek nggak?" "Nggak terlalu." "Aku juga nggak." Mengertikah dia dengan ajakanku yang terselubung? Mengertikah dia bahwa aku ingin menunaikan kewajiban? Kurasa Gale memang mengerti karena perlahan wajahnya mendekat lalu semakin maju, secara otomatis aku segera memejamkan mata ketika kepalanya dimiringkan, menahan napas untuk menerima ... Suara ponsel yang berdering membuat kami sama-sama membeku. Gale mendesah, dia meringis seperti meminta maaf sebelum meraup ponsel di nakas sambil beringsut duduk. "Ya?" Suaranya serak, laki-laki itu berdeham. "Gimana?" Gale menyugar rambut, alisnya tampak mengernyit, wajahnya yang kalem berubah serius selagi mendengarkan suara dari sambungan telepon. Perlahan aku ikut bangkit duduk, merasa ada yang salah. "Wait, hold on Bas, tolong dihandle dulu apapun yang masih bisa lo handle, kasih pengertian ke customer yang komplain, perketat sistem biar nggak makin melebar. Oke, oke. Gue ke sana sekarang." Kalimat terakhirnya sebelum memutus sambungan telepon sontak membuat hatiku mencelos. Gale menatapku dengan raut bersalah. "Ada kebocoran data pelanggan di sistem kami, beberapa sampai kehilangan dana yang mereka simpan, tim aku belum tau penyebabnya, tapi aku harus ke sana buat ngecek, nanti aku jelasin kalau semuanya sudah beres." "Kapan kamu bakal pulang?" "Secepatnya, tapi jangan ditunggu, kamu langsung tidur aja." When something seems to good to be true, that means to good to be true. Harusnya aku ingat kata-kata ini, nggak ada sesuatu yang benar-benar berjalan mulus. Tanpa menunda, Gale bahkan langsung bangkit, dia nyaris ingin terbang ketika mengurus kerjaan, aku ditinggalkan di malam pertama sendirian. Mungkin aku nggak akan protes jika keesokan harinya dia sudah pulang tapi sampai di hari ketiga aku menunggu, laki-laki itu belum kembali. Kimmy Eva : masih lama ya? Chat itu ceklis dua biru, tapi nggak ada jawaban. Apa-apaan coba? Aku mulai kehilangan kesabaran, di hari keempat saat Gale semakin sulit dihubungi, kuputuskan untuk menyusulnya. Kami sudah sepakat menunda honeymoon, dan meski aku sangat membutuhkan pernikahan ini, bukan berarti Gale bisa bersikap serampangan, laki-laki itu perlu tau bahwa ada seseorang yang menunggunya di apartemen sen-- Pintu kubuka dan wajah Gale muncul di sana. Dia kelihatan kusut, ada kantung hitam besar di bawah matanya, rambutnya berantakan, dan meski tampak lelah, suamiku tetep berusaha tersenyum saat menyapa. "Maaf Kim, masalahnya ternyata lebih serius dari yang aku duga, aku--" Nggak kubiarkan dia menyelesaikan kalimat dan langsung membungkam bibirnya dengan bibirku. Aku bisa merasakan Gale terkejut di bibir itu, tapi perlahan lengannya terasa merengkuh pinggulku, bibirnya mulai membalas dengan memangut lembut, rasanya seperti pasta gigi dan mint. Aku merinding saat merasakan jemarinya menyusup di sela-sela helaian rambutku lalu menahan tengkuk untuk memperdalam pangutan, sementara langkahnya dengan halus membujuk aku untuk mundur lalu ambruk lemas di sofa. Dengan gemetar tanganku mulai meraba-raba, mencoba membuka kaos yang dia kenakan. Mungkin aku sudah gila, sejak awal ide ini muncul, aku sudah memutuskan untuk mengubur semua harga diri, nggak ada jalan untuk kembali, aku harus melakukannya, aku harus menghancurkan gelembung wajah Rey yang mendadak terbayang di kepala, kini yang ada hanya Gale, suamiku, seseorang yang akan diakui sebagai ayah dari-- Pintu apartemen berbunyi, nyaring, dan berkali-kali. Bibirku terasa menebal setengah terbuka berusaha mengejar napas ketika pangutan kami terlepas. "Siapa?" Gale hanya menggeleng, matanya tampak berkabut, sayu, aku sudah nyaris berhasil kalau saja dia nggak segera bangkit lalu membuka pintu. Kulirik jam di dinding. Pukul sepuluh malam. Siapa yang akan bertamu di malam selarut ini? "Akhirnyaa, Mas maaf ganggu ya." Suara Sara. "Aku baru balik dari kampus, mau pulang kemaleman, takut kalau nyetir sendiri, boleh nggak kalau aku nginap di sini, semalem aja, besok aku langsung pulang?" Seharusnya nggak boleh kan? Kami masih dalam status pengantin baru, tapi Gale menyingkir dan mempersilakan sang adik untuk masuk. "Kak Kim, maaf, nggak pa-pa ya Kak?" Sara meringis untuk menunjukkan maksudnya. "Aku nggak mau ngerepotin, besok pagi-pagi aku langsung balik." Yah, apa bisa dikata? Aku hanya mampu menghela napas capek. Gagal lagi, sialan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD