Apakah tinggal dengan mertua semengerikan itu? Mungkin tidak jika mertuanya adalah Ibu Ratu.
Setidaknya selama ini beliau selalu bersikap manis, tapi tentu ada perbedaan antara ketika aku menjadi anak sahabatnya atau ketika aku menjadi menantunya.
"Ini cuma untuk sementara, sampai kamu sehat," kata Gale menenangkan saat membantuku menyusun pakaian.
"Kenapa Mas nggak diskusi ke aku dulu?" balasku berusaha untuk nggak terdengar ketus. "Menurut Mas pendapat aku nggak penting gitu?"
"Bukan begitu Kim."
Aku segera melengos, menghindari Gale yang ingin membujuk dengan berpura-pura menyusun makeup ke dalam pouch, padahal semua ini nggak perlu dibawa, aku berniat untuk menghabiskan isi kartu debit yang diberikan Gale.
Dia memberikan sebuah kartu black card ketika kami resmi menikah, semua uang kebutuhan untuk rumah tangga ada di sana dan akan terus bertambah setiap bulan, aku sempat mengecek isinya dan lumayan terkejut oleh nominalnya yang fantastis, tapi aku belum pernah menggunakannya, ya karena aku gengsi, aku punya uang sendiri, tapi sekarang aku sudah berubah pikiran.
"Ibu juga butuh teman di rumah, semenjak beliau didiagnosis diabetes, Ibu jarang banget keluar, kalau kamu ada di sana, selain buat memperbaiki kesehatan, sedikit banyak kehadiran kamu bisa menghibur hati Ibu."
Dia ingin menipuku ya?
Jelas-jelas Ibu Ratu mengatakan baru saja menghadiri arisan, artinya beliau tetap aktif beraktivitas!
"Aku juga nggak mau kamu kesepian sendiri di sini, Kim."
Aku kesepian juga karena siapa?
Terserahlah, kumasukkan semua jenis lipstik ke dalam kotak makeup, nggak peduli benda itu tersusun berantakan.
Sekarang aku tahu kenapa hubungannya selalu nggak berhasil, sesibuk-sibuknya aku, mana pernah aku sampai mengabaikan pasangan.
"Sebulan," kataku akhirnya dari balik gigi yang terkatup rapat, lalu menoleh untuk menatapnya. "Aku hanya akan tinggal di sana paling lama sebulan."
"Tergantung gimana kesehatan ka—"
"Kalau dalam waktu sebulan Mas nggak mau pindah, aku bakalan pergi sendiri."
Kuberikan dia waktu untuk mencerna kata-kataku. Sementara bisa kurasakan degup jantungku menggila, aku membutuhkan pernikahan, tapi aku tidak akan tunduk pada siapapun.
"Oke." Kupikir Gale akan marah diberi ultimatum lancang seperti itu, tapi yang mengejutkan dia kelihatan nggak keberatan. "As you wish, kalau dalam waktu dua minggu ini kamu udah membaik, aku juga nggak masalah kalau kamu mau pindah."
Dia kemudian melangkah mendekat, lalu dengan lembut menarik pouch di tanganku untuk bergabung disusun dengan pakaian di dalam koper. "Ada lagi yang mau kamu bawa Kim?"
Aku menggeleng. "Cukup."
Kami kembali menyusuri perjalanan panjang yang tak pernah kutahu bagaimana ujungnya.
***
"Waalaikumsalam."
Bapak dengan ceria langsung menyambut kami ketika sampai di rumah. Kesan pertamaku tentang tempat ini dari dulu nggak pernah berubah.
Rumah Ibu Ratu sama seperti namanya, sangat luas dibingkai halaman dengan penuh tanaman. Bergaya American Craftsman dengan atap model gable yang didominasi dengan wood dan besi. Berandanya sangat lebar, dilengkapi dengan paviliun dan gazebo.
"Gimana perjalanannya Kim? Kamu nggak mabuk kan?"
Karena terletak di atas bukit, jalanannya memang cukup naik turun sebelum sampai di lokasi, tapi itu sepadan karena perlu kuakui rumah Ibu Ratu memiliki vibes seperti sedang di Villa.
"Nggak Pak, lancar, Alhamdulillah."
Seorang PRT yang dikenalkan sebagai Pak Danar kemudian mengambil alih barang-barang kami untuk disimpan di dalam kamar. Sementara aku dituntun untuk ke meja makan.
"Kakak!" Sara yang sedang membantu menyusun menu di meja bahkan memekik girang saat melihatku. "Tumben banget main ke sini?"
"Mulai sekarang Kak Kim dan Mas akan tinggal sama kita Sar," jawab Ibu Ratu mengoreksi. "Kesehatan Kak Kim lagi nggak bagus, Ibu harap kamu mau bekerja sama buat menjaga Kakak."
"Loh Kakak sakit apa? Dari yang kemarin itu memang belum sembuh?"
Aku meringis.
"Aku pikir itu karena Kakak nggak suka nyium bau amis karena aku abis masak omlete, Mas bilang Kakak nggak suka telur sampai muntah-muntah."
"Makanya kamu jangan nyusahin Sar, kalau nggak ada kegiatan di kampus, langsung pulang dan temenin Kakak."
"Kakak resign kerja?"
Aku mendelik.
"Cuma cuti." Ibu Ratu sambil duduk di kepala meja tersenyum. "Iya kan, Kim?"
Kutatap Gale meminta penjelasan, sejak kapan aku setuju untuk mengambil cuti?
"Nggak Bu, kampus nggak mungkin izinin Kim buat cuti lagi setelah akad kemarin." Gale menjawab kalem.
"Loh tapi kan Kim sekarang lagi nggak sehat, kamu ini gimana sih Gal, kamu usahain dong gimana caranya biar Kim bisa istirahat." Ibu Ratu yang terbiasa keinginannya terpenuhi tampak nggak terima dengan alasan Gale.
"Ini bukan keputusan aku, kalau aku atasan Kim, baru Ibu bisa protes."
Ibu Ratu berdecak.
"Yaudah sekalian aja kalau gitu Kim resign, kalian juga harus mulai program untuk punya momongan kan?" Bapak yang sudah menciduk nasi mendadak berkomentar.
Aku menatap Gale ngeri. "I-itu ..."
"Itu belum kami diskusikan." Gale untunglah peka, membantuku menyelesaikan kalimat. "Memiliki anak adalah tanggung jawab yang besar, aku nggak mau terburu-buru, lagian semuanya terserah dengan Kim, dia yang akan mengandung, tubuh Kim adalah milik Kim, jadi dia berhak memutuskan apakah dia mau punya anak atau nggak, aku akan ikut dengan keputusan Kim."
Pendapat Gale sangat normal, dan sebagai orang yang berpendidikan tinggi, keluarga Gale tampak mengerti, tapi sepertinya Sara memiliki pandangan yang berbeda.
"Jadi untuk apa Mas sama Kakak menikah kalau nggak memiliki keturunan?"
Aku mengernyit melihatnya dengan semangat menyantap kuah pindang ikan di meja. Masakan itu sangat wangi, tapi entah bagaimana di saat bersamaan justru sangat mengganggu indera penciumanku.
"Nggak ada yang bilang kalau Mas nggak akan punya keturunan, Mas cuma nggak mau maksa. Kami akan program kalau Kim udah siap."
Sara meneguk minum sebelum menyahut. "Oh, tapi kalau itu aku sih, aku bakalan langsung punya anak. Bukannya menikah selain karena cinta juga untuk membangun keluarga? Lagian mungkin gemas juga kalau punya anak masih muda, jadi nanti umurnya nggak terlalu jauh, bisa kayak sahabat sama anak sendiri."
"Itu pendapat yang bagus," balas Gale. "Tapi jangan samakan sepatu kamu dengan sepatu orang lain, karena setiap orang memiliki ukuran kaki yang berbeda."
"Yaudah makan dulu yuk, nanti lagi dibahas masalah anak, Kim juga masih harus banyak istirahat." Ibu Ratu dengan senyumnya yang bersahaja segera mengambil alih pembicaraan agar meja makan tetap kondusif.
"Tapi pendapat Sara benar." Sekuat mungkin aku berusaha menahan keinganan untuk memuntahkan isi perutku yang kosong saat disodorkan sebuah mangkuk yang sama berisi ikan pindang di meja. "Aku mau langsung punya anak." Kuarahkan tatapan pada Gale yang duduk di sampingku. "Tapi aku juga nggak akan resign."
Entah apa yang laki-laki itu lihat di mataku, tapi bisa kusaksikan jakunnya bergerak naik turun saat menelan ludah.
"Bagus Kim, Ibu senang dengan keputusan kamu, kita pasti akan dukung sepenuhnya."
Suara Ibu Ratu terdengar sangat gembira, aku memenuhi kualifikasi untuk menjadi menantunya, dan sekarang aku bersedia memberikan apa yang dulu sangat beliau harapkan. Bagaimana mungkin dia nggak memperlakukan aku seperti seorang Puteri? Aku dilayani dengan manis, aku sangat dirayakan, bahkan dengusan Sara yang seolah meremehkan nggak terasa menggangu di telingaku.
Sayangnya perutku sulit menerima makanan di meja, aku baru menyuap dua sendok kuah di mangkuk saat tanpa sadar meremas tangan Gale.
Laki-laki itu sontak menoleh cemas. "Kenapa, kamu nggak suka makanannya?"
Aku nggak ingin dicap niretika dengan meninggalkan meja makan sebelum selesai, tapi morning sickness tidak bisa dikontrol.
"Kamar kamu di mana?" tanyaku.
"Kenapa Kim? Makannya udah?"
"Udah Bu, boleh aku izin tiduran sebentar?" Kujawab jujur.
"Ya boleh lah, kenapa pakai izin segala, ya sudah sana Gal, bawa Kim ke kamar."
Tidak perlu disuruh dua kali, aku langsung ngacir, diikuti Gale yang menjadi GPS berjalan.
Serius, rumah ini sangat luas dan berkelok-kelok, ada banyak ruangan dan koridor, meleng sedikit mungkin aku akan kesasar. Untungnya kamar Gale berada di lantai satu dan terletak nggak jauh dari living room yang bersebelahan dengan perpustakaan.
Maklum, Bapak Gale adalah seorang mantan dosen, penting untuk mereka memiliki perpustakaan sendiri di rumah, konon setiap weekend ada banyak mahasiswa yang datang untuk mengadakan book event, itu sebabnya mereka memiliki gazebo yang luas.
Tujuanku ketika sampai di kamar adalah toilet, begitu pintu dibuka, wajahku langsung menunduk di westafel.
Kurasakan jemari Gale dengan halus meraup rambutku untuk digengam selama aku mengeluarkan semua isi perutku.
"Maaf ..."
"Kenapa kamu harus minta maaf tiap habis muntah-muntah, sakit nggak bisa dikendaliin seperti game, jadi berhenti ngerasa bersalah."
Ya karena aku hamil, Mas!
Aku hanya menunduk, buru-buru membersihkan diri setelah selesai dan terduduk lesu di pinggir ranjang.
"Tidurlah, biar aku yang beresin pakaian kamu."
"Aku serius."
"Kamu pikir aku lagi becanda Kim?"
"Bukan itu, aku serius dengan kata-kataku di meja makan tadi."
Alisnya terangkat.
"Aku mau punya baby."
Napas beratnya terembus.
"Mas mau juga kan?"
Dia terduduk di sampingku. "Kamu udah pikirin ini baik-baik?"
Kepalaku mengangguk.
"Kamu tahu resikonya?"
"Ada banyak berkahnya dibanding resiko, aku tau apa yang aku mau, Mas."
"Oke."
Sudah gitu doang, aku nggak diapa-apain?
Tapi masuk akal sih, dia pasti nggak berani berbuat macam-macam karena menganggap aku sedang sakit. Pada kenyataannya aku pun nggak sanggup jika harus HB sekarang.
"Maaf ngerepotin Mas."
Dia hanya menggumam nggak jelas, gerakannya sangat kaku ketika memindahkan pakaian kami dari koper ke dalam lemari.
"Kalau nanti aku udah sehat, Mas mau nggak kalau kita honeymoon?"
Gale nggak menjawab.
"Aku pengin berduaan sama Mas."
Koper nyaris jatuh lagi dari atas lemari ketika Gale mencoba mengangkatnya. Laki-laki itu menyumpah serapah.
"Taruh aja dulu di bawah, Mas."
"Tangan aku licin." Dia beralasan, lalu menghilang ke kamar mandi.
Aku mendengus.
Sialan.
Susah sekali untuk membuat laki-laki itu tunduk dengan hawa napsu. Seleranya yang seperti apa sih?
Baru akan rebahan memandang langit-langit kamar dan memikirkan cara untuk menggoda Gale, pintu mendadak diketuk.
"Kim?"
Suara Ibu Ratu.
Astaga, bukankah tadi dia sudah mengizinkan aku untuk istirahat?
Jawabannya datang saat daun pintu menguak terbuka dan wajah Ibu Ratu yang cemas menyapa.
"Maaf ganggu kamu, Ibu khawatir kesehatan kamu semakin memburuk, kalau kamu nggak mau ke RS, Ibu bisa panggilin dokter ke sini."
"Nggak usah Bu—"
Namun beliau nggak butuh penolakan, karena dari balik bahu, kulihat seorang pria muda sedang melangkah mendekat bersama Bapak.
Pria itu sangat tinggi dalam kemeja yang tergulung sampai siku.
"Nah, ini sepupu Mas Gale, namanya Rivan, dia mahasiswa kedokteran. Untuk sekarang dia yang akan menjaga kamu."
Boleh nggak aku pingsan sekarang?
***