"Kenapa Kim?" Aku pernah menangis di hari perpisahan sekolah karena sejujurnya aku sangat menyukai dunia pendidikan, itu sebabnya saat ditawari pekerjaan di Universitas setalah wisuda, aku langsung menerimanya, dan kupikir itu akan menjadi satu-satunya tangisanku di depan orang lain. Tapi kini bendungan air mataku kembali pecah di hadapan Gale. Aku merasa kesal, emosiku nggak tersalurkan dengan baik, dan berakhir menjadi air mata. Belum lagi hormon sialan ini bikin aku jadi super cengeng. "Kim?" Gale benar-benar kelihatan bingung dan ngeri saat aku ambruk di sofa ruang kerjanya dan mulai terisak. Namun perlahan dia mendekat lalu kurasakan laki-laki itu mengambil tempat di sampingku, merangkul tubuhku dalam pelukan, aku makin ambyar di bahunya, menutup wajah dengan kedua tangan ketika

