Bukan Rey, tapi itu suara Hanan, kurasa laki-laki itu keceplosan karena dia tampak salah tingkah. Namun karena ulahnya, Rey jadi ikut menoleh, matanya seketika melebar saat menemukanku. Sialan. Dan yang lebih gila adalah mata itu perlahan turun untuk memandang perutku. Jantungku seketika berdebar. "Apa yang terjadi di sini?" Kutarik lengan Gale tanpa menjawab pertanyaannya, suamiku tampak bingung, mungkin sebenarnya dia paham, tapi fenomena dikerubungi oleh orang-orang sampai menjadi sorotan masih agak rancu di penglihatannya. "Kamu bisa terjungkal kalau buru-buru," katanya memperingatkan, menyentak lembut kaitan jemari kami agar aku melambatkan langkah. "Kepala aku pusing." Gale terdengar mendengus, seolah berkata, apa aku bilang? Lebih baik kamu diam di rumah. Aku nggak tahu apak

