Marwa melihat Jihan dari jarak lebih kurang sepuluh meter dari tempat Jihan berdiri. Ia pandang bagian tengah dari tubuh Jihan, terlihat sudah menonjol. Wanita itu memang tengah hamil. “Selamat siang, Mbak … Mau perawatan di sini ya?” Marwa menghampiri Jihan, lalu menyapa wanita itu dengan ramah. Jihan menoleh, “Kamu’kan?” Marwa tersenyum ramah, “Maaf kalau beberapa waktu lalu saya membuat mbaknya marah. Saya sudah katakan kalau saya dan pak Aldo tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya rekan kerja biasa dan waktu itu kami ada rencana kerja sama. Tapi karena ada insiden, saya batal melanjutkan kerja sama dengan beliau. Padahal saya pikir, beliau cukup berkompeten untuk bisa bekerja sama dengan saya.” Owh, jadi itu alasannya mereka mengadakan pertemuan di sana? Lagi pula tidak mungkin wan

