“El.” Rom duduk di seberang meja, lalu menatap Elaina. “Dalen membayarmu malam ini untuk menemaninya minum.”
Elaina tersenyum miring. “Sesuai dugaanku. Dia pasti akan semakin tertarik dan semakin penasaran denganmu.”
“Iya, dugaan kamu memang sangat benar. Dia sudah mencaritahu biodata lengkapmu, dan sekarang dia tahunya kamu tinggal di klub malam sebagai pelayan yang sempat diseret paksa untuk membayar hutan mendiang ayahmu. Jadi, sepertinya kamu harus lebih sering stay di kamar yang sudah disiapkan jauh-jauh hari, sesuai yang tertera di biodata palsu.”
Elaina mengangguk. “Aku paham, Kak.”
“Apa kamu benar-benar akan tinggal di sana, El? Tempat itu terlalu kecil dan berbahaya untuk kamu, karena sangat sering orang mabuk kesasar ke sana dan—”
“Kakak tidak usah khawatir.” Elaina tersenyum ke arah Rom. “Bukannya Kakak juga sudah mengirim orang yang menjagaku diam-diam dari jauh? Dia pasti akan melakukan tindakan jika aku dalam bahaya. Tidak usah khawatir.”
“Orangku mungkin bisa membantumu jika yang mengganggu pria mabuk biasa, atau preman-preman kelas menengah. Bagaimana jika orang itu adalah Dalen? Tentu saja dia tidak akan bisa berbuat apa-apa, El. Belum sempat dia membantumu, mungkin dia sudah ma-ti lebih dulu di tangan Dalen. Aku khawatir Dalen akan menemuimu ke kamarmu, karena sekarang dia sudah tahu lokasi kamarmu. Apalagi sekarang dia memang terlihat memiliki ketertarikan khusus kepadamu.”
“Bukannya itu rencana kita, Kak? Harusnya kita senang, dong. Akhirnya rencana kita berjalan sempurna.”
“Ini hanya rencanamu, El?” Rom mengusap wajahnya pelan, lalu mengembuskan napas.
Elaina terkekeh. Sedari awal Rom memang kurang setuju dengan rencananya untuk mendekati Dalen demi bisa balas dendam kepada Paumy. Rom inginnya mereka mencari cara lain untuk menjatuhkan Paumy, tetapi Elaina keras kepala memilih jalur bahaya dengan mendekati Dalen. Sekarang, mau tak mau, Rom pun harus mengikuti rencana Elaina. Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk melindungi adik mendiang kekasihnya itu.
Elaina hanya terkekeh kecil melihat wajah frustasi Rom. “Aku tidak pernah takut untuk hal ini, Kak. Yakin dan percaya ‘lah, kita pasti berhasil menjatuhkan Paumy, menyiksanya, dan membuatnya memohon untuk ma-ti.”
Aura penuh dendam itu terlihat jelas di wajah cantik Elaina. Dan, hal ini yang selalu menjadi pegangan kuat Rom setiap kali Elaina maju ke medan bahaya. Rom tahu Elaina pasti akan sangat berhati-hati, karena targetnya bukan sembarang orang.
“Sudah ‘lah, sekarang kamu ingin langsung ke klub atau bagaimana?” tanya Rom.
“Iya, aku ke sana sekarang, Kak. Mungkin sekarang Dalen belum mengirim orang untuk memantauku, tapi aku merasa dia akan segera memerintahkan orang untuk memata-mataiku. Berarti, mulai sekarang aku harus benar-benar tinggal di klub.”
“Kamu harus hati-hati, El,” peringat Rom berkali-kali.
“Iya, Kak. Pasti!”
***
Dentuman musik disko menggetarkan ruangan luas nan ramai dengan kerlip lampu temaram, menyamarkan berbagai hal gila pengunjung klub malam itu. Elaina menatap tak minat orang-orang yang saling mengayun tubuh mengikuti irama musik, dan bergidik memperhatikan pengunjung yang lebih gila karena bercin-ta di tengah keramaian.
“Heh, kau!”
Elaina menatap datar seorang pria yang berjalan sempoyongan ke arahnya. “Kau pelayan di sini, ‘kan? Tuangkan aku wine, tampah sampai penuh!” celoteh pria itu.
Tanpa menyahut, Elaina mengikuti permintaan pria itu. Namun, ketika Elaina sedang menuangi wine ke dalam gelasnya, tangan pria itu dengan kurang ajar menjalar ke pinggangnya. Elaina langsung menjauh dan mendorong pria itu.
“Jangan macam-macam, Tuan. Saya hanya pelayan biasa di klub ini!” tekan Elaina.
Pria menggeram. “b*****t! Tidak sopan sekali kau! Pelayan klub malam saja sok suci! Ke sini sekarang! Kau ingin dibayar berapa, hah? Dasar mura-han!”
Elaina meletakkan botol wine itu, berniat pergi dari sana. Namun, pergelangan tangannya ditahan oleh pria mabuk itu.
“Ingin ke mana kau? Wanita mura-han! Tidak usah sok jual mahal, sok merasa suci! Cepat berjongkok dan buka resleting celanaku!” geram pria itu.
“Aku tidak mau! Lepaskan tanganku!” Elaina berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman pria itu.
Rom yang sedari tadi berada tak jauh dari sana, menggeram melihat itu. Matanya menajam, ia siap berdiri untuk membantu Elaina. Ini adalah hal yang ditakutkan oleh Rom jika Elaina mengambil jalur main di klub malam.
Bugh!
Brak!
Prang!
Langkah Rom terhenti ketika pria mabuk itu sudah melayang oleh tendangan seseorang, dan berakhir di meja kaca yang kini berderai di atas lantai.
“Arggh!” Pria mabuk itu mengerang kesakitan.
Rom menoleh, dan terdiam melihat wajah dingin Dalen. Rupanya Dalen yang baru saja membantu Elaina lepas dari cengkraman pria mabuk tadi.
Elaina pun tak kalah terkejut melihat kedatangan Dalen yang begitu tiba-tiba. Padahal hampir saja ia mengeluarkan jiwa tangguhnya dengan menonjok wajah pria itu, tetapi beruntung Dalen tiba tepat waktu. Sehingga peran polos Elaina masih tetap terjaga di depan Dalen.
Adegan itu tentu saja langsung menarik perhatian. Ketika orang-orang melihat wajah Dalen sebagai pelaku yang menendang pria itu, semuanya langsung diam mematung. Bahkan musik disko yang tadi bergema begitu kuat, langsung berhenti begitu saja. Kini ruangan utama klub malam itu sunyi senyap, tak ada yang berani bersuara.
“Kurang ajar, siapa yang berani menendangku, hah?!” Pria mabuk itu mengumpat marah. Ia berusaha berdiri, tetapi meringis kesakitan di punggungnya yang terluka karena pecahan meja kaca. “b******n mana?”
“Berani kurang ajar kepada Tuan Gabino?! Pukul dia!” titah Toris kepada beberapa anggota Punox.
Seketika keadaan klub malam itu heboh akan teriakan para kaum hawa ketika melihat beberapa anggota Punox memukuli pria mabuk tadi. Tak ada yang berani membantu, mereka bahkan menjauh seakan tak ingin terlibat. Bagi mereka, Dalen adalah malaikat maut.
Dalen sendiri masih tenang dengan wajah dinginnya menatap tajam pria mabuk tadi mulai tak berdaya di tangan anak buahnya. Kedua tangan Dalen bahkan masih begitu santai tersimpan di saku celana.
Tiba-tiba Dalen menoleh ke samping, dan Elaina terkesiap akan hal itu. “Tangan mana?”
Elaina mendongak dengan mata bingung. “T-tangan?”
“Yang menyentuhmu,” lanjut Dalen.
“O-oh, tangan kirinya, Tuan,” jawab Elaina.
Dalen mengangguk singkat. “Patahkan tangan kirinya.”
Deg!
“Baik, Ketua!”
Krak!
“Argggh!”
Elaina memejamkan mata mendengar teriakan pria mabuk tadi. Ia tanpa sadar mundur karena ngeri dengan erangan mengerikan itu.
“Lempar dia ke kandang buaya,” titah Dalen dingin.
“Baik, Ketua!”
Napas Elaina tercekat. Ia menatap Dalen dengan wajah pucat. “Dalen benar-benar iblis pencabut nyawa yang gila,” batinnya.
Dalen membalikkan badan, berniat pergi dari sana. Baru satu langkah, ia berhenti dan melirik Elaina yang masih bergeming di tempatnya. “Kau ikut saya.”
“B-baik, Tuan,” sahut Elaina.
“Silakan lanjutkan pesta kalian.” Setelah melontarkan itu, Dalen pun pergi dari sana, seakan tak ada yang terjadi.
“Bersihkan tempat!” titah Toris kepada anggota Punox, “dan, musik kalian bisa kembali dihidupkan.”
Toris pun melangkah pergi dari sana, menyusul Dalen dan Elaina yang ikut berjalan di belakang Dalen. “Mungkin karena Tuan Gabino sudah mengklaim Elaina sebagai miliknya, jadi dia tidak sudi jika pria lain berani menyentuh wanitanya. Hanya saja, agak heran ... kenapa saat kasus istrinya yang hampir diperko-sa orang, Tuan Gabino terkesan lebih cuek dan tak mau tahu? Meski saat itu dia tetap memberi pelajaran kepada pria itu, tapi aku merasa ada sedikit perbedaan. Apa hanya perasaanku saja?” batin Toris.
***
“APAA?!”
“Benar, Nyonya. Tuan Gabino sekarang bahkan membawa gadis itu ke kamarnya di Klub SpoonX.”
Tangan Paumy terkepal kuat. Ia membanting gelas yang sedari tadi ia genggam. “Kurang ajar! Wanita mu-rahan mana lagi yang berani menggoda suamiku?! Aku kira, wanita itu hanya menarik sesaat. Aku melepaskannya meski tahu kemarin dia juga dibawa ke kamar Dalen. Rupanya sekarang Dalen kembali membawanya? b******k! Wanita ini ternyata tidak bisa aku remehkan. Wanita mura-han!”
“Apa yang harus saya lakukan, Nyonya?”
Dada Paumy naik turun. “Dalen tidak suka kesenangannya diganggu, jadi aku tidak bisa datang ke sana untuk memisahkan mereka. Aku hanya bisa tunggu besok, aku akan datangi wanita itu langsung, lalu habisi dia. Lagi pula, aku yakin, Dalen hanya menjadikannya alat untuk senang-senang. Aku juga yakin, Dalen pasti tidak akan meni-durinya.”