Mempunyai saudara selisih jarak usia yang tidak terlalu jauh membuat William merasa beruntung, sebab kedekatannya dengan Aris, sang kakak sungguh anugerah terbesar dalam hidupnya. Apalagi kakaknya adalah seorang juara kelas, siswa favorit yang cerdas dan menjadi kebanggan orang tuanya. Sikapnya yang penyayang juga lemah lembut adalah bonus yang Tuhan anugerah kan pada keluarga mereka.
"Aku berangkat sekolah dulu," William hendak pamitan pada orang tuanya, dia akan menunggu di depan pagar rumahnya sampai Aris selesai sarapan dan mengeluarkan sepedanya.
"Jangan dulu berangkat, tunggu aku di depan." Seru sang kakak saat William sudah melesat pergi keluar rumah.
"Iya." Hanya itu yang William katakan pada Aris.
Ayah William seorang pengusaha, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga pada umumnya. Mengatur dan menyiapkan segala kebutuhan anak juga suaminya, seorang wanita kebanyakan yang sehari-harinya diam di rumah melapas serta menunggu kepulangan anak dari sekolah dan suami dari kantor atau tempat kerja. Halaman depan adalah tempat favorit nyonya Victoria, sekedar melepas penat dia suka dengan beberapa tanaman hias untuk membuat pemandangan semakin indah dan sedap di pandang mata.
"Hati-hati di jalan, jangan mengebut bawa sepedanya. Pulang nya bareng lagi, tidak boleh mampir ke manapun. Langsung pulang ke rumah."
Pesan itu tiada henti terulang saat anak-anak mau berangkat ke sekolah, bahkan William dan kakaknya sudah hapal dengan dialog tersebut. Sementara pria dengan warna rambut sedikit beruban sudah berangkat lebih dulu karena ada rapat penting katanya.
"Iya, Bu. Kami mengerti." Jawab dua anak lelaki bersamaan, dan itu juga yang setiap hari mereka katakan pada ibunya.
"Pergilah, belajar dengan rajin dan menurut pada perintah guru dan mengerjakan pelajaran sekolah dengan baik."
Nyonya Victoria melepas dua putranya dengan penuh semangat dan tidak lupa memberi nasihat yang setiap hari tidak pernah lupa dia katakan.
Tidak ada perbedaan yang terlalu mencolok antara William dengan Aris, sama-sama tampan dan murah senyum. Hanya sekolah saja yang berbeda, jika William masih sekolah menengah sementara Aris sudah di tingkat satu lagi, selisih usia dua tahun membuat keduanya seperti anak kembar saja.
"Beruntung sekali nyonya Victoria mempunyai dua putra yang tampan dan sangan penurut, cerdas dan selalu juara kelas, murah senyum juga sangat penyabar."
Pujian itu datang bukan dari satu orang saja, melainkan hampir seluruh orang tua murid yang datang ke sekolah saat ada acara pertemuan dengan wali kelas juga wali murid. Tidak jarang beberapa dari mereka secara terang-terangan menawarkan putri mereka pada nyonya Victoria untuk di jadikan menantu.
"Tidak masalah, putri ku ini lumayan bisa masak. Juga rajin beres-berea rumah. Pokoknya calon menantu idaman."
Tawar salah seorang wali murid yang secara terang menawarkan putrinya pada nyonya Victoria, sontak saja hal itu mengundang banyak respon berbeda dari yang lainnnya.
"Maaf,nyonya. Putraku sedang fokus belajar, aku juga belum terpikir ke arah pernikahan."
Timpal nyonya Victoria membungkukan badannya karena merasa tidak enak, terus saja di desak oleh lebih dari satu orang yang menawarkan putrinya untuk di jadikan menantu di rumah nyonya Victoria.
William yang lebih periang selalu menjadi penghibur saat mereka berkumpul di rumah setelah makan malam, sedangkan Aris yang cenderung lebih pendiam justru menjadi tempat berlindung bagi William saat dia mendapat teguran dari Ayahnya yang tegas dan tidak menerima penolakan apapun itu.
"Lain kali, jangan bikin Ayah marah. Kamu tahu sendiri bagaimana kalau ayah tidak suka dan sedang marah, besok-besok pikirkan terlebih dulu sebelum mengambil keputusan."
Aris menasehati William yang baru saja di marahi oleh Ayahnya, sebab kesalahan sepele yang telah di lakukan. Tapi sudah berhasil membuat pria yang di segani di rumahnya itu marah besar pada putra bungsunya.
"Kakak saja yang selama ini selalu menuruti semua keinginan Ayah, memangnya kakak bahagia melakukannya? Di paksa untuk selalu menjadi yang terbaik di kelas,"
William menggerutu tidak terima karena Aris terkesan membela ayahnya.
"Ayah sudah begitu banyak berjuang untuk sekolah dan hidup kita tetap nyaman, tidak kekurangan apapun. Jadi yang bisa aku lakukan untuk berterima kasih ya menjadi juara kelas, sebab hanya itu yang membuat Ayah akan tersenyum bahagia. Selebihnya, aku tidak bisa membalas selain hal itu."
Jawaban bijak Aris selalu saja tidak menyalahkan sedikitpun perihal sikap yang ditunjukan orang tua mereka, Aris melakukan apa saja yang Ayahnya perintahkan. Sekalipun tidak pernah terlontar penolakan darinya.
"Itu kalau kakak, tidak dengan aku. Kenapa ayah tidak membebaskan kita untuk melakukan apapun yang kita sukai, tanpa harus menuruti semua aturanya."
William masih merasa kesal pada Ayahnya, tapi lagi-lagi Aris membela diri dan mengingatkan William untuk tidak beriskap seperti itu.
"Tidak baik berkata seperti itu pada orang tua, kita tidak akan mungki ada di dunia ini tanpa adanya mereka."
Dengan lembut Aris memberi pengertian pada adiknya, jika yang di lakukan ayahnya semata untuk kebaikan Aris. Sikap penurut dan penyabar yang di miliki Aris selalu menjadi bahas perbandingan antara dia dan William.
"Contoh kakakmu, dia selalu menurut apa saja yang ayah katakan. Tidak sulit untuk bisa seperti Aris, setidaknya jadilah juara kelas maka Ayah juga akan bangga padamu."
Ucapan ayahnya yang selalu saja seperti itu, menuntut William untuk bisa seperti Aris. Si anak penurut, penyabar, baik hati dan menjadi siswa favorit di sekolahnya.
Meski demikian kedekatan Aris dan William cukup lumayan, keduanya sering melakukan kegiatan bersama seperti main bakset bareng di samping rumahnya, jogging tiap libur sekolah, kelilingi tempat tinggal mereka. Tidak jarang Aris ikut ke pasar membantu Ibunya membawakan belanjaan kebutuhan rumah.
"Apa kakak tidak merasa malu harus desak-desakan di pasar menemani Ibu belanja?"
Tanya William suatu hari saat Aris baru saja pulang dari pasar menemani ibunya belanja.
"Tentu saja tudak, aku malah senang karena jadi tahu banyak tentang nama-nama sayur yang biasa ibu beli. Sekaligus membuat Ibu bahagia, sebab ada yang membantu membawakan belanjaannya."
Jawab Aris dengan penuh suka cita, sedikitpun tidak ada rasa malu atau sungkan saat dia berjalan di samping ibunya, pergi ke pasar. Kedekatan Aris dengan nyonya Victoria memang sudah tidak bisa di bantah lagi, dia sangat menyayangi ibunya. Apa saja bisa Aris lakukan jika Ibunya yang meminta, kalau sama Ayahnya sekedar memberi hormat pada pria yang telah lelah bekerja untuk memenuhi semua kebutuhan keluarganya. Jadi jika di bilang lebih dekat pada siapa? Tentu jawabannya adalah Ibu.
"Kakak anak manja, yang apa-apa selalu meminta persetujuan Ibu."
William mencibir cara Aris yang pasti akan meminta pendapat ibunya terlebih dahulu sebelum dia memutuskan sesuatu.