Beberapa saat aku menunggu Mas Tara berbicara dengan seseorang. Namun suara suamiku tak lagi terdengar, hanya suara gemercik air yang masuk ke dalam indra pendengaran.
Gegas aku melangkah ke belakang untuk berwudhu.
Aku menengadahkan tangan ke atas. Dalam hati aku berdoa, meminta Allah menguatkan pondasi pernikahan kami. Namun di tengah doa bayangan Mas Tara menggandeng mesra seorang anak sekolah tiba-tiba hadir lalu kembali menyesakkan d**a. Lagi air bening jatuh lalu membasahi pipi.
Aku sempat menepis kecurigaan ini. Namun panggilan sayang yang sempat kudengar kembali membuatku ragu. Akankah Mas Tara mengkhianati ikatan suci ini?
"Sudah belum, Lin?" Aku tersentak, buru-buru kuhapus jejak air mata yang sempat menempel di pipi. Aku tidak ingin Bunda mengkhawatirkanku.
"Sudah, Bunda." Aku membalikkan badan laku melepas mukena yang kukenakan.
"Kamu nangis, Lin? Kenapa?" tanya Bunda kala mata kami tak sengaja bertemu.
"Kelilipan, Bun." Aku melangkah keluar, menghindari pertanyaan yang sebentar lagi Bunda lontarkan.
Pukul delapan malam kami pulang dari rumah Bunda. Aluna sudah terlelap di kursi belakang. Dengkuran halus terdengar hingga di kursi depan. Putri kecilku pasti kelelahan bermain bersama neneknya.
"Dari tadi kamu hanya diam, Lin. Kamu kenapa? Bukankah tadi habis reuni dengan teman-teman kamu?" tanya Mas Tara sambil fokus menyetir.
Apa ini saat yang tepat untuk menanyakan hal itu? Bagaimana jika Mas Tara mengakuinya? Apa aku sanggup menerima kenyataan ini?
"Alin," panggilnya lagi karena aku masih menutup mulut rapat-rapat.
"Kamu tadi dari mana, Mas?"
"Dari meeting, Al. Kenapa tanya terus."
"Meeting dengan seorang anak sekolah maksud kamu?"
CIIT
Mas Tara menginjak pedal rem dengan tiba-tiba. Beruntung tak ada kendaraan lain yang ada di depan kami.
"Siapa wanita itu, Mas?" Seketika wajahnya menjadi tegang.
"Siapa wanita itu, Mas?" Seketika wajahnya menjadi tegang.
"Wanita yang mana, Lin?" Mas Tara kembali melajukan kendaraan roda empatnya. Kali ini laju mobil diperlambat.
"Yang tadi bersama kamu di mall."
Mas Tara melirikku kemudian tertawa terbahak-bahak. Seolah apa yang kukatakan sebuah lelucon yang lucu. Dia tidak tahu betapa hancur hatiku ini. Bagaimana bisa suamiku tertawa lepas setelah aku memergokinya berjalan mesra dengan wanita lain.
"Aku serius, Mas!" Aku menatapnya tajam.
Mobil segera ia tepikan di pinggir jalan. Lelaki yang telah menikahiku lima tahun yang lalu itu membalikkan badan, ia tatap lekat manik bening milikku.
"Kamu pasti salah lihat, Sayang. Dari tadi Mas berada di kantor kok. Kalau tidak percaya kamu bisa telepon OB, Riyan atau mungkin Pak Leo."
Mas Tara berkata begitu meyakinkan. Tidak mungkin kami salah lihat. Kalau hanya aku mungkin iya, tapi aku dan Monica yang melihatnya
"Model rambut dan pakaian bisa saja sama, Sayang. Kamu lihatnya dari sudut mana?"
"Dari belakang, Mas. Kamu ada di mall bergandengan mesra bersama seorang anak sekolah," ucapku tanpa ada yang kututup-tutupi.
Aku tidak tahu kejujuranku benar atau salah. Namun aku tak kuasa memendam rasa curiga yang meronta meminta sebuah penjelasan. Lugu atau naif, entahlah. Aku sendiri tipe wanita yang sulit memendam rasa marah apa lagi kecewa. Semua akan tampak jelas di ekspresi wajah.
"Ha ha ha... Kamu itu terlalu cemburu, Alin. Bisa-bisanya menuduh Mas menjalin hubungan dengan anak bau kencur. Mas bukan pedofilia." Mas Tara mengusap pucuk kepalaku mesra.
Aku gamam, tidak tahu harus menjawab apa? Semua yang dikatakan suamiku begitu meyakinkan. Bahkan tak ada keraguan dalam setiap ucapannya. Apa benar yang ia katakan, aku salah orang? Ah, tapi rasanya tak mungkin.
"Kamu masih tidak percaya, Lin?" Mas Tara mengunci netraku. "Kamu hubungi saja Pak Leo." Mas Tara memberikan ponselnya kepadaku.
Apa masih tak percaya jika ia berani menghubungi atasannya hanya untuk menjelaskan kesalahpahaman ini?
"Tidak, Mas. Aku percaya. Aku hanya terlalu takut kamu memiliki wanita lain di luar sana." Bulir demi bulir jatuh dengan sendirinya.
"Mas tidak mungkin mengkhianati janji suci yang sudah Mas ucapkan. Di hatiku hanya ada nama kamu." Aku mengangguk meski hati masih dilanda keraguan.
"Bagaimana kalau besok kita liburan, ke mall atau ke kebun binatang mungkin."
"Terserah kamu saja, Mas."
"Asyik ke kebun bintang. Kita ke Jurug, ya, Pa." teriak Aluna sambil melonjak kegirangan. Sejak kapan anak itu bangun?
"Siap, Tuan Putri," jawab Mas Tara.
Aluna berpindah ke kursi depan, putri kecilku menanyakan ini dan itu. Dia begitu antusias karena besok pergi ke kebun binatang.
***
Sesuai yang direncanakan semalam,hari ini kami akan piknik ke kebun binatang. Sengaja kami memilih yang dekat agar tidak kelelahan karena perjalanan jauh karena besok Mas Tara ada meeting pagi.
Barang-barang sudah kumasukkan ke dalam mobil. Semua adalah barang bawaan Aluna, dari pakaian ganti, makanan ringan hingga keperluan lainnya.
"Sudah siap, Sayang?" tanya Mas Tara seraya mengecup keningku.
Aku hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Kejadian kemarin masih terus membayangi. Membuat rasa percaya terhadap suamiku sedikit berkurang. Meski aku berusaha melupakan itu. Namun ternyata tak semudah mengucapkan kata maaf.
"Aluna, ayo masuk!"
Putri kecilku berlari menuju mobil. Dengan cepat ia duduk di kursi depan, tepat di samping kursi kemudi.
"Aluna tidak di belakang saja? Luas,lho, Aluna bisa tiduran." Aluna menggeleng sambil menyilangkan kedua tangan di d**a.
"Biar Aluna duduk di depan, Mama di belakang, ya, Sayang." Dia mengangguk, seketika matanya berbinar.
"Ayo kita berangkat!"
Mas Tara segera menyalakan mobil.
Kriing ... Kriing ....
Belum sempat mobil berjalan sebuah panggilan telepon masuk di nomor suamiku. Benda pipih itu terus saja bergetar hingga membuatku sedikit terganggu.
"Diangkat dulu, Mas. Siapa tahu telepon penting."
Mas Tara hanya melirik tanpa sedikit pun menyentuh benda pipih yang ada di samping jok mobil.
"Bukan siapa-siapa kok," jawabnya dengan wajah sedikit tegang.
Ponsel yang terus bernyanyi menyita perhatian putriku. Tangan kecilnya segera meraih benda pipih milik suamiku.
"Ada foto cewek cantik, Ma," ucapnya polos.
"Aduh Aluna, kemarikan hp Papa!" Mas Tara merebut paksa ponsel itu. Wajahnya juga terlihat ketakutan.
Hanya karena ponsel Mas Tara sampai menaikkan nada suaranya. Dia juga tega merebut ponsel dari tangan anakku. Jangan-jangan ada yang ia sembunyikan dariku.
"Telepon dari siapa, Mas?" Kutatap tajam lelaki yang duduk di kursi depan.
"Dari Indra, kamu tidak percaya?" Mas Tara membalikkan badan, "ini lihat saja," ucapnya sambil memberikan ponsel itu.
Tanpa menunggu segera kubuka ponsel. Kucari kontak panggilan tak terjawab. Benar saja ada foto wanita di profil itu. Namun kenapa namanya Indra?
"Itu pacarnya, masih tidak percaya?" Mas Tara segera menginjak pedal gas.
"Percaya, Mas." Kukembalikan ponsel itu.
Ya Allah, apa aku terlalu kepikiran hingga menuduh Mas Tara yang bukan-bukan.
Sepanjang jalan kami diam, hanya tawa dan nyanyian Aluna yang memenuhi mobil. Jarak antara rumah dan kebun binatang hanya setengah jam. Sebentar lagi kami akan segera sampai.
Senyum dan tawa Aluna seketika hilang. Kini raut kekecewaan tergambar jelas kala melihat tulisan TUTUP di depan kebun binatang. Terlalu fokus pada Mas Tara membuatku lupa jika kebun binatang sedang dalam renovasi.
"Tutup, Sayang. Kita pulang saja, ya," bujukku.
Aluna tidak menjawab hanya tangisan yang keluar dari mulutnya. Sungguh membuatku tidak tega.
"Bagaimana kalau kita ke mall?" usul Mas Tara.
"Gak mau!" Aluna kembali menangis.
"Bagaimana kalau kita berenang."
"Benar, Pa? Aluna mau."
Seketika tangis itu hilang berganti senyum dan tawa bahagia.
"Papa tidak bawa baju ganti, lho."
"Nanti beli di toko, Ma, yang penting Aluna tidak menangis lagi." Aku hanya mengangguk pasrah.
Mas Tara memang menyayangi putrinya. Apa pun dia lakukan untuk membuatnya tertawa. Apa mungkin lelaki seperti itu memiliki wanita idaman lain?
"Ayo, turun."
Aluna berlari ke sana ke mari. Dia begitu bahagia bisa berenang bersama papanya.
"Hati-hati, Nak. Jangan lari-lari nan...."
BRUG
Belum sempat aku melanjutkan kalimat Aluna sudah jatuh karena bertabrakan dengan seorang perempuan.
"Maafkan kakak, ya, Dek." Perempuan itu membantu Aluna berdiri.
Mas Tara justru diam terpaku sambil menatap perempuan muda itu. Tunggu, kenapa wajah itu seperti pernah kulihat?