Jisoo terbangun setelah mendengar jam weker digitalnya berbunyi. Tangannya terulur ke atas nakas. Dengan mata masih terpejam dia meraba-raba nakas mencari jam wekernya yang masih memutar intro lagu grupnya sendiri, Kill This Love. Bayangkan saja seperti apa ributnya.
Setelah berhasil mematikan jam wekernya, mata Jisoo terbuka sedikit hanya untuk melihat pukul berapa sekarang.
10.00 a.m
Jisoo membuka lebar matanya begitu mengetahui hari sudah siang. Dia langsung terduduk dan memeriksa ponselnya yang ada di atas nakas. Ada sesuatu yang aneh dan mengganjal perasaannya.
Jisoo tersenyum saat mendapat pesan tak terbaca di ponselnya, namun senyum itu luntur ketika mengetahui si pengirim,
Joon-ie Oppa
Have a nice day sooyaa?
Kalau biasanya Jisoo akan merasa bahagia dan semangat membalasnya, tidak dengan hari ini. Seperti ada yang kosong di hatinya. Jisoo keluar dari kolom chat tersebut tanpa membalasnya. Dia beralih menekan kolom chatnya dengan Haein.
Kosong, tak ada pesan baru yang masuk seperti pagi-pagi biasanya. Biasanya Haein akan selalu mengiriminya pesan seperti,
Selamat menjalani harimu, jangan lupa makan?
Namun pagi ini tidak, bahkan tak ada telfon dari Haein seperti biasanya jika pria itu tau Jisoo belum bangun. Bisa dibilang Haein selalu bangun lebih dulu dari Jisoo. Kehidupan pria itu sangat teratur.
Haein mengetahui Jisoo sudah bangun atau belum melalui info terakhir Jisoo membuka w******p nya. Jisoo memang terbiasa masuk ke aplikasi tersebut ketika baru membuka mata, meski tak menghubungi siapa-siapa. Dan Haein selalu stalking tentang apapun yang berhubungan dengan Jisoo.
Benar-benar b***k cinta.
Tak ingin terus diliputi perasaan tak nyaman. Jisoo memberanikan diri untuk mengirimi Haein pesan lebih dulu. Jisoo menggigit bibir bawahnya sembari berpikir apa yang harus dia ketik.
Me
Oppa marah padaku?
Jisoo cepat-cepat meletakkan ponselnya di atas nakas, jujur saha dia takut akan balasan dari Haein. Namun baru saja ponselnya diletakkan, benda itu langsung berdenting.
Haein oppa?
Ani, kenapa oppa harus marah padamu?
Di sisi lain, tepatnya apartment Jonggun.
"Yak! Dasar pabbo. Kenapa kau membalas pesannya dengan sangat cepat?!" pekik Jonggun pada Haein. Haein sampai menutup telinganya yang berdengung.
"Hyyaa! Aku sudah mengikuti perkataanmu untuk tak mengiriminya pesan lebih dulu! Apa salahnya aku membalas pesannya dengan cepat?!" Haein balik berteriak.
Sebenarnya semalam Haein menginap di apartment Jonggun. Itu karna dia yang mabuk berat hingga tak sadarkan diri. Dia saja baru bangun lima belas menit yang lalu. Dan saat Haein mencari ponselnya untuk menghubungi Jisoo, Jonggun melarangnya dan berkata bahwa Haein harus mulai menguji Jisoo dari sekarang.
"Kau---"
"Hentikan!" Hyunsoo dengan cepat melerai keributan mereka agar tak makin menjadi. Well, dia juga ikut menginap di sana karna Jonggun menelponnya untuk ikut membopong Haein pulang.
"Kalian ini benar-benar, umur sudah tua tapi kelakuan seperti bocah." cibir Hyunsoo membuat Haein dan Jonggun melotot tak terima.
Drtt drtt
Getaran ponsel Haein mengalihkan atensinya yang baru saja akan menyembur pada Hyunsoo. Senyumnya kembali mengembang saat melihat nama Jisoo disana. Jonggun dan Hyunsoo segera berpindah duduk di kanan dan kiri Haein untuk melihat balasan dari Jisoo. Biar bagaimanapun dia ingin rencana sang sahabat berhasil untuk mendapatkan hati Jisoo.
Soo-yaa?
Lalu kenapa oppa tak mengucapkan selamat pagi seperti biasanya?
Jonggun menepuk bahu Haein cepat, "Balas-balas kau sedang sibuk." ucapnya didukung anggukan kepala Hyunsoo.
Meski tak yakin, jari Haein tetap mengetik
Me
Mianhe, oppa sedang sibuk sekarang.
Di apartmentnya Jisoo makin merasa tak nyaman. Ini pertama kalinya Haein mengabaikannya meski hanya hal sepele. Biasanya sesibuk apapun pria itu, dia akan menyempatkan untuk menghubunginya. Bahkan berkata kalau sedang sibuk pun Haein tak pernah. Karna baginya tak ada kata sibuk dalam kamusnya bila itu menyangkut Jisoo.
Dengan wajah tertekuk, Jisoo pun membalas.
Soo-yaa?
Baiklah kalau begitu, maaf sudah mengganggu oppa. Jangan lupa makan dan istirahat:)
"Apa kubilang!"
Haein dan Hyunsoo sama-sama terperanjat kaget atas pekikan tiba-tiba Jonggun ditelinganya. Hampir saja Haein melempar ponsel mahalnya.
"Lihat! Sekarang dia sendiri kan yang lebih dulu memberikan perhatian?"
Haein yang ingin marah padanya pun tak jadi mendengar perkataan itu. Benar, ini pertama kalinya Jisoo mengingatkannya untuk makan dan istirahat lebih dulu. Biasanya gadis itu akan berpesan begitu hanya ketika Haein mengingatkannya duluan.
"Sekarang apa yang harus aku balas?" tanya Haein semangat. Dia mulai setuju dengan rencana Jonggun.
"Oke, gitukan saja!" usul Hyunsoo.
"Apa itu tak terlalu keras untuknya?"
"Tentu saja tidak, kau ingin dia balik mengejarmu tidak?!"
Bukan Hyunsoo yang menyahut tapi Jonggun dengan gas poll alias ngegas.
"Arraseo." Haein pun mulai mengetikkan balasannya seperti saran kedua sahabatnya.
Dia harap-harap cemas menunggu balasan Jisoo selanjutnya. Namun ternyata gadis itu tak membalas lagi. Haein meletakkan kasar ponselnya di atas meja.
"Lihat! Gara-gara ide kalian Jisoo tak membalas pesanku lagi!!" Haein berteriak frustasi.
"Hyung, sabarlah. Memang seperti itu. Apa yang harus dibalas dari satu kata oke?" ucap Hyunsoo dengan gestur jarinya yang membentuk simbol OK.
Bukannya jadi lebih tenang, Haein malah melotot marah sekarang.
"Yak!! Bukan seperti ini yang aku inginkan!!!" Hampir saja Haein menarik kerah kemeja Hyunsoo kalau Jonggun tak cepat menahan bahunya.
Hyunsoo sendiri sudah kabur menyelamatkan diri. Haein sangat seram bila marah.
"Tenanglah Haein-ahh. Memang begini skenarionya. Kau harus membuat dia merasa kalau kau telah melupakannya dulu."
"Percayakan saja padaku!" Jonggun menepuk dadanya bangga. "Aku akan membuat dia menyatakan cintanya padamu."
Haein mendengus kesal, "Awas saja kalau ucapanmu itu tak terbukti. Habis kau di tanganku." ancamnya.
Jonggun hanya bisa menelan ludahnya susah payah dan harus banyak-banyak berdoa setelah ini.
"S-sudahlah. Ayo masuk ke rencana selanjutnya."
"Rencana apa lagi?" tanya Haein mulai jengah karna Jonggun sama sekali tak mengajaknya diskusi.
"Kau mandi dulu, setelah itu jemput Hyejoon."
"Apa kau bilang?!" Haein memekik tak percaya atas ucapan sahabatnya.
"Aku sudah mengatur makan siangmu dengannya. Sudahlah ikuti saja rencanaku." ucap Jonggun berusaha santai dan tak mempedulikan ekspresi Haein yang seperti ingin memakannya hidup-hidup. Dia meraih majalah fashion di atas meja dan membuka halaman demi halamannya seolah sedang membacanya.
Gigi Haein bergemelatuk. Dia tak suka berhubungan dengan gadis lain meski itu termasuk dalam usaha untuk mendapatkan hati Jisoo.
"Sudahlah hyung, ikuti saja rencana Jonggun hyung." cicit Hyunsoo yang sedikit menyembulkan kepalanya dari balik dapur.
Haein memejamkan mata, mencoba menelan lagi kemarahannya yang sudah sampai ubun-ubun. Tanpa banyak bicara lagi dia pun berbalik kemudian menghilang dibalik pintu kamar mandi.
Jonggun dan Hyunsoo sama-sama menghela napas lega.
❄❄❄
Ting tong ting tong ting tong
Dengan malas Jisoo bangkit dari kasur empuknya untuk menghampiri si tamu tidak tau diri yang membunyikan bel tanpa napas dan mengganggu waktu mager sekaligus galaunya. Well, Jisoo memang agak galau hari ini. Apalagi kalau bukan karna perubahan Haein barusan.
"Unnie, I'm coming!" Rose berseru bahagia begitu Jisoo membukakan pintu. Diapun masuk tanpa dipersilahkan.
"Tumben kau ke sini, ada apa?" tanya Jisoo to the point, bahkan dia masih berdiri di dekat pintu. Berbeda dengan Rose yang sudah duduk di atas sofa tanpa permisi.
"Unnie tidak suka aku datang? Hah.. Aku sedih sekali." Rose memasang wajah sok sedih.
Jisoo menghela napas pelan, "Aniyo, bukan begitu. Hanya saja hari ini mood ku sedang buruk dan tidak ingin diganggu."
Mata Rose melotot, "Unnie sedang sedih? Kenapa? Cerita saja padaku." Rose menarik tangan Jisoo hingga dia duduk di sebelahnya.
"Bukan apa-apa, Rose-yaa." ucap Jisoo masih dengan suara lemasnya.
"Unnie lemas sekali. Ayo kita hangout untuk menaikkan moodmu. Kau pasti belum makan juga kan? Ah--- bahkan kau belum mandi." Rose menjepit hidungnya dengan dua jari, seolah-olah kebauan dengan aroma tubuh Jisoo. Padahal meski belum mandi, Jisoo tetap wangi.
Berhubung badmood, Jisoo sama sekali tak marah atas cibiran Rose. Dia hanya mengibaskan tangannya pelan. "Pergilah sendiri atau ajak yang lain. Aku sedang tak ingin kemana-mana."
"Unnie-yaa jangan begitu, semuanya sedang sibuk. Lisa dan Jennie unnie sedang ada project, hanya kau dan aku yang menganggur. Ayolah ayolah ayolah~"
Jisoo tetap tak bergeming dan Rose benar-benar pantang menyerah. Tak tahan dengan segala celotehan Rose, Jisoo akhirnya pasrah dan menuruti kemauan Rose.
||
Kini mereka sudah berada di sebuah Restoran bintang lima yang sangat menjaga privasi pelanggannya. Sebelum berjalan-jalan, Rose mengajak Jisoo untuk makan siang lebih dulu.
Mereka sudah duduk di meja yang berada di dekat jendela dan sedang membuka-buka buku menu, lebih tepatnya hanya Rose. Jisoo sendiri hanya melihat ke luar jendela.
"Unnie ingin pesan apa?"
"Samakan saja denganmu."
Rose mengangguk lalu menyampaikan pesanan mereka pada waitress. Setelah waitress tadi pamit. Rose menyapu pandangannya ke seisi restoran. Restoran tersebut tidak ramai tapi juga tidak sepi. Beberapa meja di sebrang mereka terisi oleh beberapa pasangan berbeda jenis. Hanya mereka yang sejenis. Mata Rose memicing saat melihat ke ujung ruangan. Dengan cepat dia menepuk-nepuk bahu Jisoo.
"Unnie lihat. Bukankah itu Haein oppa?"
TbC