CHAPTER 11 : TWISTED NIGHTMARE

1349 Words
LARIII!!! Hanya satu kata itulah yang Alexa pedulikan saat ini. Ia terus berusaha mengayuh langkah kakinya lebih cepat, tak mempedulikan batang-batang ilalang yang tinggi terus-menerus mencambuk nya dari berbagai sisi. Pekatnya langit di atasnya disertai kilatan guntur kemerahan, membuatnya tak ingin berhenti barang sejenak, karena setiap detiknya amat lah berharga. Ia tak ingin membuang waktunya untuk lepas dari kejaran Mr. Hemlock. Ya, sosok yang mengejarnya adalah badut iblis yang merupakan mimpi buruk nya di masa lalu, sosok itu bukanlah suaminya yang sekarang. Kali ini ia benar-benar memohon kepada Yang Kuasa, agar mau menolongnya. Karena ia sudah benar-benar merasa amat lelah, lelah dengan semua permainan busuk ini, tapi sayangnya ia belum menemukan jalan keluarnya. Ia bahkan tak tahu di mana ia berada kini, semuanya hanyalah bagaikan ilusi mimpi buruk baginya. "Ya, semua ini hanyalah mimpi buruk belaka." gumamnya berulang kali dalam benak. Namun, tetap saja ia tak bisa menampik betapa nyatanya sentuhan dan cengkraman makhluk-makhluk tadi, hingga membuat kulitnya terluka bahkan robek. Dan ia pun teringat dengan luka di pergelangan kakinya, sensasi perih menyengat seketika menyentaknya sadar jika semua ini bukan sekedar mimpi buruk belaka. Kesadaran itu malah membuat dirinya semakin panik hingga tak menyadari akar pohon yang menonjol di atas tanah. Alexa pun tersandung akar pohon itu dan terjatuh ke atas tanah dengan bunyi gedebuk lembut. Tawa sinting yang menggema di belakangnya, membuat Alexa mencoba segera bangkit berdiri. Namun, rasa sakit di kakinya membuatnya kembali terjatuh ke tanah. Salah satu akar pohon yang mencuat itu ternyata berhasil menancap ke dalam telapak kaki Alexa, menciptakan luka mengerikan yang mengalirkan banyak darah. Bunyi langkah kaki terdengar semakin mendekat, hal itu membuat Alexa dengan cepat mengeluarkan potongan akar berbentuk lancip itu dari telapak kakinya. Ia menggigit bibirnya dengan kuat guna menghalau suara rintihan yang keluar dari mulutnya. Setelah beberapa detik yang penuh dengan kesakitan berhasil terlewati, ia segera mencoba bangkit berdiri kembali. Luka di kakinya sudah ia bebat dengan robekan gaunnya untuk menghentikan aliran darah yang keluar untuk sementara. Akan tetapi, rasa perih yang amat menyengat menghambat langkahnya, sedangkan suara langkah kaki itu terdengar lebih dekat dari sebelumnya. Di tengah kepanikannya itu, suara kepakan sayap raksasa terdengar di angkasa, tepat di atasnya. Dedaunan kering saling berterbangan, pohon-pohon disekitarnya pun ikut bergoyang karena hentakan angin yang cukup besar dari sayap-sayap raksasa itu. Lalu sepasang sayap berwarna hitam legam berukuran amat sangat besar terbentang di hadapannya, sepasang sayap milik sang iblis. Kulitnya yang legam nampak sangat kontras dengan sepasang sayap miliknya, sedangkan netranya yang berwarna kekuningan memaku kedua netra milik Alexa pada miliknya. Menatap pada sosoknya yang perlahan turun menginjakkan kakinya di tanah, sebelum berubah menjadi pria tampan dengan dandanan parlente yang sama sekali tak sesuai dengan kondisi yang ada. Alexa nyaris menyemburkan tawanya ketika melihat ekspresi penuh percaya diri itu, seolah segala yang ada di semesta hanyalah berpusat padanya. Kedua netra hijau milik sosok itu pun mengernyit tak suka karena telah diremehkan. Namun, aroma darah yang memabukkan berebut masuk ke dalam indera penciuman nya, membuat sepasang netra hijau itu berubah menjadi kuning gelap. Tatapannya menajam dengan gestur tubuh yang menegang kaku. Aroma manis dan lezat sebanyak itu membuatnya tak bisa lagi menahan dirinya. Tanpa aba-aba apapun, ia mendorong tubuh Alexa hingga menabrak batang pohon yang ada di belakangnya dan mencoba membungkam bibirnya dengan ciuman basah. Alexa yang sangat terkejut nyaris tak bisa melakukan perlawanan apapun, namun ia berhasil menghindari ciuman menjijikan dari sang iblis dengan membuang mukanya ke samping, membuat ciuman tersebut mendarat di pipinya. Akibat penolakan terang-terangan itu, sang iblis justru membalasnya dengan sesuatu yang lebih mengejutkan lagi bagi Alexa. Sebuah gigitan disertai hisapan kecil terasa di bagian lehernya, membuat Alexa seketika itu juga berontak marah, mencoba melepaskan diri. Sehingga membuat mereka pun bergulingan di tanah. Alexa terus-terusan memukuli tubuh sang iblis sembari mencoba melepaskan belitan tangannya dari tubuhnya. Ia berteriak marah dan memaki lantaran sang iblis yang sudah berani menodai tubuhnya. Namun, tenaga manusianya tak seberapa jika dibandingkan dengan tenaga sang raja monster tersebut, hingga akhirnya ia pun terkungkung tak berdaya di bawah tubuh sang iblis dengan sisa tenaga yang hampir habis. Melihat lawannya yang sudah nyaris kehabisan tenaga, membuat Behemoth tertawa kesenangan. Iblis itu menyeringai lebar tepat di atas wajah Alexa, menertawakan ketidakberdayaan nya. Netra kuning gelapnya berkilat penuh nafsu saat menatap bibir ranum Alexa yang terbuka sedikit, sedangkan Alexa masih mencoba mati-matian untuk menetralkan deru nafasnya yang memburu akibat memberikan perlawanan sengitnya tadi pada si iblis. Alexa bisa merasakan kilatan nafsu menjijikan itu di kedua mata sang iblis, apalagi ketika helaan nafas panas milik sang iblis menyapu lembut bagian bibirnya. Lalu tepat ketika bibir itu nyaris menyentuh bibirnya lagi, ia pun refleks melayangkan tamparan keras dan telak di pipi sang iblis. Gema nyaring dari tamparan itu membuat sang iblis menjadi semakin marah padanya, ia mencekal kedua tangan Alexa dengan kasar lalu menguncinya tepat di atas tubuhnya dan hendak mencium bibirnya kembali. Kini ia hanya bisa pasrah sembari memejamkan kedua matanya rapat-rapat seraya berharap jika semua itu tidak lah nyata. Ia tak akan sanggup menanggung rasa jijiknya dan berharap agar segera lenyap saja setelah semua itu selesai. Namun setelah beberapa detik berlalu ia tak merasakan apapun. Lalu, ketika ia membuka mata ia nyaris dibuat menjerit sekencang-kencangnya. **** Lubang menganga tepat di tengah-tengah dadanya membuatku bisa melihat siluet seseorang yang berdiri di belakang Behemoth. Sedangkan wajahnya yang membeliak kaget tepat di atasku, sungguh membuatku langsung tak sanggup mengatakan apapun dan hanya membuka tutup mulutku dengan kaku. Aku tak tahu harus melakukan apa, apakah harus menangis bahagia atau menjerit takut ketika mendapati lubang mengerikan itu. Lubang di mana seharusnya menjadi tempat bagi jantung sang iblis. Tetesan noda darah yang berwarna hitam pekat dan berbau menyengat yang menempel di wajahku bahkan tak mampu menggerakkan tubuhku yang mendadak kaku bak patung pualam dengan noda darah mengotori bagian wajah. Barulah saat tubuhku di tarik menjauh dari tubuh mati sang iblis, aku baru bisa bernafas normal kembali. Namun, seketika aku beringsut menjauh ketika mengetahui siapa yang baru saja menyelamatkanku. "Mr. Hemlock."desahku kaget. Untuk sepersekian detik aku melihat kernyitan tak suka di wajahnya sebelum berubah kembali menjadi datar. Aku pun menggeleng mencoba mengenyahkan halusinasi ku barusan, karena hanya Nathan lah yang akan bereaksi seperti itu jika aku memanggilnya dengan nama Mr. Hemlock. Akan tetapi sosok di depanku bukanlah Nathan, melainkan ketakutan terdalam ku terhadap suamiku, sebuah ilusi gelap yang di ciptakan oleh Behemoth untuk menjeratku. Setelah agak lebih tenang, ku dongakkan kepalaku untuk menatapnya. Mr. Hemlock sedang menatap tajam gumpalan daging menjijikan berwarna hitam legam yang masih berdenyut di tangan kanannya. Gumpalan daging itu masih meneteskan darah yang juga berwarna selegam arang, membuat ku nyaris muntah karena tak tahan dengan bau busuk yang menguar dari benda itu. Lalu, tiba-tiba sebuah kesadaran menyentakku. Gumpalan daging itu pastilah jantung milik Behemoth. Suara serak yang terdengar terputus-putus, membuatku menoleh dan mendapati iblis itu nampaknya sedang bersusah payah untuk mengatakan sesuatu. Mulutnya terlihat terbuka dan menutup, namun yang keluar hanya suara erangan parau. "Dassarr...k—ka—kau...ib—liss....sial—lann...hah...hah...", suara erangan yang keluar darinya terdengar putus-putus dan tak jelas. Meski aku merasa kasihan padanya, akan tetapi aku tak sudi jika harus menolongnya setelah apa yang sudah ia perbuat padaku. Jadi, aku pun memilih membuang muka ku, karena aku pun tak sanggup melihatnya meregang nyawa di depanku. Namun, sudut mataku menangkap sesuatu yang aneh. Rasanya tak mungkin jika sosok ilusi yang mirip dengan Nathan melakukan hal seperti itu, seperti memakan jantung sang iblis dengan sangat rakus, ekspresi wajahnya pun begitu dingin ketika menatap mayat Behemoth yang perlahan berubah menjadi abu. Lalu, kemudian tubuhku tersentak ketika aku baru menyadari potongan kepala yang dipegangnya di tangannya yang lain. Potongan kepala dengan separuh wajah Mr. Hemlock sedang separuhnya lagi terlihat seperti wajah bangsa alien, berwarna hijau gelap dan nampak berlendir. "Hah...aku benar-benar benci kurcaci peniru wajah yang menirukan wajah tampanku ini. Seharusnya dulu ku musnahkan saja mereka semua. Iblis kelas rendah, berani sekali mengincar istriku!" decihnya kesal, membuatku kebingungan dengan kalimat-kalimat yang ia ucapkan barusan. Haruskah ku pukul saja kepalanya? "Dan kau, Sayang. Kau akan segera mendapatkan hukuman dariku, Nyonya Hemlock. Akan ku buat kau tidak bisa bangkit dari ranjang selama seminggu karena sudah memanggilku dengan sebutan yang ku larang." TUNGGU. APA?!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD