“Kalau kamu mau pulang saya yang akan antar!” ujar Rafa “Nggak! Humairah mau pulang sendiri.” “Saya tidak akan mengizinkan.” Humairah mengepalkan kedua tangannya. Saat ini ia tidak peduli sekalipun mereka ada di tempat umum. Lebih tepatnya di kantor suaminya, Rafa. Laki-laki itu yang memulai lebih dulu dan Humairah tidak bisa diam saja. Harga dirinya sebagai seorang perempuan dan istri telah diinjak-injak oleh suaminya sendiri. “Tanpa izin atau tidak dari Mas Rafa, Humairah tidak peduli.” desis Humairah dengan tajam Bahkan Humairah melayangkan tatapan tajam pada suaminya. Ia benar-benar muak dengan sikap Rafa selama ini. Ternyata dirinya sendiri yang terlalu bodoh karena berharap Rafa akan berubah. Tapi ternyata sampai detik ini tidak ada perubahan darinya. Yang ada dirinya yang

