Keributan

1011 Words
Ibu? Entah kenapa perasaan Nana menjadi asing. Apakah Bian sengaja membual di hadapan anak kecil itu. Ckk, sungguh menggelikan. "Ada urusan apa kau datang kemari?" Tanya Arsen mengalihkan topik perhatian, agar tak tertuju pada sosok anak kecil yang ada di samping Bian. "Aku datang ke sini hanya ingin ikut berkumpul bersama keluarga, dan juga memperkenalkan anak saya, Billy. Sayang, salam dulu pada ibu, kakek dan nenek!" Bian menjawab, kemudian menoleh ke arah sang putra yang masih duduk dengan senyum mengembang di bibirnya. Anak polos itu tak mengerti dengan suasana yang ada. Keluarga Abraham tentu saja merasa harga dirinya jatuh, setelah melihat anak Bian dari wanita lain. Mereka sama sekali tidak berniat menerima kehadiran Billy, bocah cilik yang masih menatap mereka dengan penuh harap. Namun, keluarga Abraham juga tidak ingin bertindak gegabah, yang bisa saja membuat rumor buruk bermunculan mengenai keluarga mereka. Tak hanya itu, Arsen dan juga Oliver tidak ingin menyakiti perasaan seorang anak kecil yang tak bersalah. Ya, meskipun demikian, mereka tak ingin menerima Billy. "Duduklah nak!" Oliver mempersilakan menantu dan juga cucunya agar segera duduk. Cucu? Rasanya Oliver tidak akan tahan dengan semuanya. Ini sama saja dengan menyakiti hati putrinya, tapi ia juga tidak ingin bersikap dingin seperti Arsen dan juga Nana. Hati nuraninya sebagai ibu merasa iba, tatkala melihat tatapan binar sosok Billy, yang dibalas dengan tatapan tajam dan dingin dari suami dan sang putri. "Makasih banyak Ma," ucap Bian dengan tersenyum canggung, seraya menempatkan Billy agar sesuai dengan meja makannya. Oliver tak menanggapi Bian dan kembali makan dengan tenang. Namun, baru saja Bian serta Billy hendak makan, tiba-tiba saja Nana bangkit dari tempat duduknya. "Aku sudah selesai," kata Nana tanpa banyak bicara, dan segera bergegas pergi dari sana. "Nana, kau belum makan sarapan mu. Kau mau ke mana?" Tanya Bian sambil memegang pergelangan tangan Nana. Wanita itu segera menepis tangan Bian, dan membalas pria itu dengan sorot mata tajam. "Kau pikir aku akan sudi, makan dengan dirimu dan juga anak haram ini?! Aku tidak akan sudi, mas! Lepaskan aku, jika kau tidak ingin aku memutuskan, keputusan buruk saat ini juga!" Nana membentak Bian dengan lantang dan sorot mata tajam, hingga membuat semua orang yang ada di sana terkejut, termasuk Arsen dan juga Oliver sebagai orang tua. Tentu saja Bian juga terkejut dengan perubahan sikap Nana, yang menurutnya sangat besar. Tidak, bukan hanya itu. Anak haram? Nana menyebut putranya anak haram? Bian menggertakkan giginya berusaha untuk sabar. "Na, kau boleh membenciku, tapi jangan katakan hal buruk pada Billy. Dia tak salah. Di sini akulah yang salah. Aku harap kau mau menerima Billy sebagai anakmu juga. Bukankah selama ini kita juga mengharapkan anak dalam pernikahan?" "Ayah, apa ibu sedang memarahi Billy?" Tanya Billy sambil menarik-narik kemeja yang dikenakan oleh Bian. Anak kecil itu merasa takut serta gugup, manakala pandangannya bertemu dengan mata Nana. "Billy tenang ya, ibu hanya sedikit kesal saja." "Nana, jangan mengatakan hal buruk seperti itu, nak. Mama tidak pernah mengajarkan kamu untuk bersikap seperti itu," ucap Oliver yang kali ini tidak setuju dengan sikap Nana yang keterlaluan, bahkan menyebut seorang anak yang suci dengan sebutan anak haram. "Apa Mama juga berpihak padanya?" Tanya Nana sambil tersenyum smirk. Hatinya terluka karena sang ibu justru membela Bian, seorang pria yang sudah mengkhianati dirinya. "Nana, pergilah ke kamar mu, biar papa yang mengurus ini," tutur Arsen dengan tenang tapi seolah menjadi perintah. Tak butuh waktu lama, Nana pun akhirnya pergi dari sana menuju kamarnya. "Lancang sekali kau berkata seperti itu di hadapan putriku! Bukankah sejak awal, hal ini adalah salah mu? Kau berselingkuh hingga menghasilkan anak, lalu berharap putriku akan menerimanya begitu saja? Kurasa otakmu itu tidak berfungsi dengan baik. Rasa kepercayaan dirimu begitu tinggi. Kau tidak menganggap kesalahan mu begitu fatal dan tak seharusnya dimaafkan. Keluarga Abraham bukan tempat penampungan anak hasil perselingkuhan, dan berharap diterima dengan baik seperti layaknya keluarga. Sebaiknya kau cepat pergi dari sini dan jangan menginjakkan kaki di sini lagi." "Pah, maafkan saya karena sudah lancang, tapi saya mohon, tolong berikan Bian kesempatan sekali lagi untuk membuktikan kesungguhan Bian. Saya datang ke membawa Billy karena tidak ingin ada yang ditutup-tutupi lagi. Billy tak bersalah, jadi saya mohon, tolong jangan benci dia," ucap dengan memelas, berharap sang mertua mau bermurah hati menerima kesungguhan dirinya. Akan tetapi, bukannya menjawab, Arsen justru bangkit dari tempat duduk, dan bergegas pergi dari sana tanpa sepatah kata pun. Sehingga membuat Bian merasa semakin bersalah dan hampir putus asa. Ia tidak ingin bercerai dengan Nana, apapun yang terjadi. Namun, suara Oliver memecah keheningan mereka. "Nak, berikan Nana dan juga papa mu waktu untuk menerima kalian. Mama yakin, mereka berdua mau menerima kalian, terutama Billy. Mereka memang keras kepala, tapi Mama harap kau mau berusaha lebih keras lagi. Meskipun Mama juga tidak bisa memaafkan apa yang telah kamu perbuat, tapi Mama menerima takdir yang menimpa keluarga kami, terutama keluarga mu. Tolong buktikan apa yang telah kamu ucapkan. Namun, apakah kamu benar-benar tidak ingin bercerai setelah melihat Nana berubah? Mama yakin, akan lebih sulit menaklukkan hati Nana yang sudah mati, daripada menaklukkan hati papa mu." "Makasih ma, tapi aku benar-benar ingin mempertahankan rumah tangga kami. Aku tak ingin bercerai dari Nana, karena aku mencintainya. Aku ingin menebus kesalahanku. Apapun akan kulakukan agar bisa mendapatkan maaf serta cinta darinya." * Setelah insiden keributan waktu sarapan, kini Oliver menemui sang putri dalam kamarnya. Ia yakin, jika Nana terguncang setelah melihat anak suaminya bersama wanita lain, dengan mata kepalanya sendiri. Ia mengetuk pintu beberapa saat, hingga seseorang dari dalam membuka pintunya dengan penampilan yang sangat kusut. "Ada apa ma?" Tanya Nana dengan datar. Namun, Oliver tahu jika putrinya sedang menangis. "Apa Mama boleh masuk?" Tanya Oliver, yang dijawab sebuah anggukan kepala oleh sang putri. "Ada apa Mama kemari?" Nana bertanya kembali, saat pertanyaan sebelumnya tidak ditanggapi. "Apa keputusan mu mengenai pernikahan kalian? Mama harap kau memutuskan keputusan yang terbaik. Satu hal yang Mama minta, tolong bahagiakan dirimu lebih dulu." "Mama tidak perlu khawatir tentang pernikahan ku. Bercerai atau tidak, aku masih memiliki kalian dan itu sudah lebih dari cukup bagiku." "Lalu bagaimana kau akan menyikapi anak tirimu? Apa kau akan sanggup melihatnya jika terus menerus bertemu?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD