2. Gak Tertarik!

1130 Words
Jasmine mencari ruang inap dimana bosnya yang sedang sakit dirawat. Setelah menanyakan ke bagian administrasi akhirnya Jasmine sampai pada ruangan yang dituju. Mengetuk pintu pelan, jasmine membuka panel pintu secara perlahan. “Permisi selamat siang, Pak Susilo..” Sapa Jasmine kepada pemilik perusahaan tempatnya bekerja. “Jasmine, Wah kamu tak perlu repot-repot datang kesini, pakai bawa bingkisan segala lagi..” Susilo menyambut kedatangan Jasmine dengan ramah. Jasmine tersenyum sembari menganggukkan kepala melihat kedatangannya disambut dengan hangat. “ Tidak Pak. Saya tidak merasa merepotkan, sekalian kedatangan saya kesini untuk membawa beberapa berkas yang perlu bapak tinjau.” “Oh iya saya juga bawakan dessert kesukaan, Ibuk Ranty.” Lanjut Jasmine memberikan buah tangan yang disiapkan untuk bos dan istrinya. “Ya Ampun nak Jasmine.. Terimakasih ya sudah repot-repot, Nak.” Ranty mengambil alih bingkisan pemberian Jasmine dan mengelus lembut lengan wanita tersebut. Ini yang dia suka dari keluarga pak Susilo dan ibu Ranty. Mereka memiliki kepribadian yang sangat bersahaja, sudah hampir 8 tahun bekerja di perusahaan milik Susilo tapi tak pernah sekalipun ia diberlakukan tidak adil. Justru sebaliknya, mereka memperlakukan Jasmine selayaknya anak sendiri. Yang terkadang membuatnya rindu dengan kehangatan kedua almarhum orang tuanya. Apalagi setelah 3 tahun belakangan ini Jasmine dipercayai oleh Susilo untuk memegang jabatan sebagai pengganti Susilo, mengingat anaknya yang berada di US belum juga ingin melanjutkan perusahaan milik Susilo. “Kalau soal pekerjaan kan bisa nanti di rumah seperti biasanya Jasmine.” Susilo kembali bersuara “Gak papa Pak, Saya juga gak begitu sibuk di kantor.” “Oh iya! Kamu belum pernah ketemu sama anak saya kan? Kenalin Abimana Reksadeva namanya, barusan saja landing dari US..” Lanjut Susilo mengenalkan Abi kepada Jasmine dengan mengarahkan tangannya ke arah Abi, sedangkan yang empunya nama hanya menatap ayahnya dengan tangan melipat di d**a, kemudian beralih menatap wanita yang beberapa menit lalu bergabung bersama mereka. Mendapat respon Abi yang hanya menatapnya, Jasmine membuka suaranya lebih dulu tanda hormatnya kepada anak sang majikan. “Selamat datang kembali di indonesia, Pak Abi.” Sapa Jasmine sedikit menundukkan kepalanya. “Datar banget mukanya! Biasa aja kali, kayak gak seneng gitu ya. Tapi ganteng sih hihi upss!” Batin Jasmine kelakar. Abi hanya membalas dengan anggukkan kepala. Dia lelah. Lelah dengan sandiwara kedua orang tuanya. Dan sekarang apalagi ini, harus menyapa orang-orang yang tak dia kenal. Energynya sudah habis terbuang untuk hal-hal gak penting. “Dih sombong amat! Beda banget gak kayak ibuk dan bapak. Anak yang ketuker kali nih!!”Batin Jasmine yang mendapatkan respon cuek dari Abi. “Ck! Cuek banget sih, Mas. Disapa balik gituloh, Jasminenya.” Bisik Ranty kepada sang anak. Ranty gemas sendiri melihat anaknya ini. Ada wanita cantik, dewasa, pintar mandiri lagi tapi malah dicuekin. Abi hanya mengedikkan bahunya cuek sambil sesekali memperhatikan Jasmine yang sedang ngobrol bersama sang ayah membahas tentang pekerjaan. Sekarang tinggallah mereka bertiga. Jasmine, wanita itu sudah pamit kembali ke kantor karena jam istirahat kantor akan segera berakhir. Abi rasanya juga sudah ingin merebahkan dirinya ke kasur, toh sedari tadi tak ada yang bisa ia lakukan selain memperhatikan orang tuanya dan jasmine ngobrol tanpa menghiraukan dirinya, mereka seolah-olah melupakan keberadaanya. “Gimana bi? Jasmine tadi yang menggantikan posisi ayahmu sementara dikantor.. cantikkan anaknya? Pintar dan mandiri lagi..” “Bunda salut sama Jasmine, sekarang hidup sebatang kara tapi keadaan gak membuatnya untuk menyerah..” Ucap Ranty sambil meneduhkan matanya ketika teringat tentang Jasmine. Bagaimana tidak ditinggal oleh kedua orang tuanya di usia yang terbilang cukup muda, berjuang sendiri untuk menamatkan biaya pendidikan S1nya dan menghidupi dirinya sendiri dengan bekerja di beberapa tempat sekaligus. Mendengar ceritanya saja hati Ranty tersentuh. Gadis tangguh begitu Ranty melabelinya. “Biasa saja. Semua wanita juga cantik.” Jawab Abi santai. “Ku rasa anakmu sedikit kurang, Ranty! Pintar dalam berbisnis dan intelektual tapi bodoh perihal wanita!!” Ucap Susilo menatap sang anak dengan sinis. “Setidaknya Abi tidak suka berbohong.” Balas Abi enteng dengan menaikkan alisnya sebelah bermaksud menyindir sang ayah. Susilo hanya bisa berdehem mendapatkan sindiran dari Abi dan memilih diam daripada meladeni ucapan Abi. Ranty berusaha menghampiri sang anak mengelus lengannya lembut, ada niat terselubung kenapa Ranty berusaha menceritakan tentang Jasmine sedikit kepada Abi. “Mas, kalau kenal sama Jasmine dulu mau? Kamu juga belum punya pacarkan?” Tanya Ranty pelan, ia tahu sang anak sangat tak suka dengan kegiatan jodoh menjodohkan. Tapi kalau menunggu Abi yang bergerak keburu Ranty dan Susilo mendekam dibawah tanah juga tidak akan, mengingat usia Abi sekarang sudah 35 tahun. Abi menatap bundanya sambil mengerutkan alis. Dia tau kemana arah pembicaraan ini. “Abi mau pulang, Bun. Capek dari perjalanan jauh, pengen istirahat.” Jawab Abi tak menanggapi ucapan bundanya. Ranty sudah hafal sekali dengan respon anaknya yang mencoba mengalihkan pembicaraan. “Kenalan dulu saja. Jadi teman begitu maksud bunda.. mau ya, Mas?” Lanjut Ranty lagi. Mencium kepala bundanya sayang. “Gak tertarik.” Abi langsung saja pergi dari ruang rawat inap sang ayah tanpa perduli panggilan dari sang bunda. “Ck!” Ranty yang kesal menatap melas kepada sang suami. “Anakmu.” Respon Susilo santai sambil membuka tangannya lebar-lebar mengisyaratkan sang istri untuk datang menghampirinya. Ranty melangkahkan kakinya gontay menyambut pelukan suaminya. “Kalau nunggu Abi nyari jodoh sendiri keburu kita mendekam di tanah juga gak akan, Mas!” Suara Ranty bergetar menahan tangis. Pasalnya gak ada yang pernah tau sampai kapan ia dan suaminya diberi usia yang panjang. Ranty hanya ingin melihat anak satu-satunya menikah dan memiliki keluarga bahagia, ia juga ingin segera menimang cucu. “Sabar, nanti kita pikirkan.” Jawab Susilo menenangkan hati istrinya sambil mengelus lembut punggung sang istri yang berada di dalam pelukannya. ** Abi baru saja memasuki kamar pribadinya yang ada di rumah kedua orangtuanya. Menatap sekeliling dan tak ada yang berubah. Kondisi kamar tetap sama seperti saat dia pergi pertama kali dulu, sepertinya bundanya selalu menyuruh ART untuk membersihkan kamarnya. Karena meskipun tak ditinggalin kamar ini masih tetap bersih dan wangi. Abi meletakkan kopernya dan segera melepas jaket yang sedari US ia kenakan guna menghangatkan tubuhnya di sepanjang perjalanan. Abi ingin segera membersihkan badan dan membaringkan tubuhnya diatas kasur. Sungguh ia rasa badannya benar-benar remuk setelah menempuh perjalanan 20 jam di udara dan begitu sampai ia dikejutkan dengan drama kebohongan kedua orang tuanya. Setelah membersihkan diri dan membaringkan badannya Abi memeriksa beberapa notifikasi di ponsel genggamnya, dari perihal kantor tempatnya bekerja di USA dan beberapa dari teman Abi yang ada di indonesia yang mengetahui kepulangannya ke tanah air. Selesai dengan membalas beberapa pesan kegiatan Abi berakhir dengan menatap langit-langit kamar. Meskipun badannya lelah sepertinya matanya enggan untuk dibawa tidur. Sepertinya ia terkena jetlag. “Jasmine.” Ucap Abi pelan. “Nama yang indah.” Lanjutnya dengan senyuman yang sangat tipis. Menyadari tingkah absurdnya Abi langsung menutup matanya menggunakan lengan sebelah kiri dan menggelengkan kepalanya pelan. Dan memaksakan untuk tidur. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD