Di rumahnya, Pak Anton kocar-kacir mencari celana dinas. Jika tidak segera menemukannya, guru mata pelajaran Sejarah untuk kelas 10 di SMA Paradiso ini bisa-bisa terlambat mengajar. Seluruh isi kamar telah digeledahnya hingga terlihat seperti ruangan yang habis diaduk gempa.
Istrinya pun ikut mencari. Dia membongkar seluruh isi lemari. Pakaian beragam jenis centang perenang di seantro lantai dan ranjang. Belum lagi ditambah dengan mainan anaknya yang berhamburan yang belum sempat disimpuninya. Itu semua membuat sang istri pusing tujuh keliling.
"Kemarin waktu pulang ngajar kamu taruh dimana, sih, Pah?"
"Langsung kugantung di tempat biasa, Mah," sahut Pak Anton sambil berjalan menuju toilet. "Aduh, kalau begini aku bisa telat."
Istrinya memandangi dengan tatapan aneh. "Ngapain kamu nyari celana dinas di toilet, Pah. Mana mungkin ada di situ. Mama baru aja dari sana."
Sampai di depan pintu toilet baru dijawab oleh Pak Anton. Saat ini dia masih mengenakan handuk, tapi sudah memakai baju dinas mengajar. "Aku bukan mau nyari celana, Mah, tapi kebelet."
"Oh, astaga, kirain," istrinya tersenyum kecil.
Bunyi pintu toilet tertutup menjadi suara berikutnya di kamar mereka.
"Pak Anton, Anda dipanggil oleh Bu Aulia," sambut Bu Rugun di depan pintu kantor.
"A-ada apa, ya, Bu?" Pak Anton mendadak gugup. Yang ada di dalam pikirannya, jangan-jangan kepala sekolah sudah melihat dia tidak mengenakan celana dinas. "Kok, tumben pagi-pagi sekali!"
"Ya, Bapak menghadap aja sana! Saya juga tidak tahu, Pak," Bu Rugun mengeluarkan tatapan yang sinis. Ada sesuatu yang seolah dibencinya dari guru Sejarah itu.
Dengan langkah yang getir, Pak Anton melangkah menuju ke ruang kepala sekolah. Dia gugup tak karuan. Dia masih saja memikirkan celana dinas yang tiba-tiba hilang itu. Kemana, ya, celana dinas itu? Padahal seingatku kemarin kugantung di tempat biasa, kok. Trus, kenapa bisa nggak ada, ya?
Dia mengetuk pintu ruangan Bu Aulia tiga kali dengan sangat lembut, seolah ada harapan yang digantungkannya di situ, sebuah harapan agar dia tak mendapat teguran karena keteledorannya kali ini. Kalau Bu Aulia sampe negur aku karena masalah celana dinas ini, bisa-bisa gajiku dipotong bulan ini. Aduh, bayar kredit motor sama kredit daster istriku gimana, ya, nanti?
"Permisi, Bu, ini saya Anton Parhusip!"
Langsung terdengar teriakan dari dalam. "Ya, silakan masuk, Pak! Saya sudah menunggu Anda dari tadi."
Pak Anton pun masuk.
Dari luar, Bu Rugun bisa mendengar Bu Aulia sedang memarahi guru Sejarah itu habis-habisan, meski hanya terdengar samar-samar. Dia terkekeh, "Makanya, Pak, jangan cari masalah. Baru mengajar beberapa bulan di sini sudah berani macam-macam."
Pada jam istirahat, Ajeng memilih untuk menyendiri. Dia naik ke sebuah tempat yang menjorok ke depan, serupa atap bagi ruangan yang ada di bawahnya, dan terbuat dari campuran pasir dan semen yang kokoh karena sudah mengering sejak lama. Tempat ini terletak di daerah belakang sekolah. Dari atas sini, dia dapat melihat semua siswa-siswi yang beraktifitas di bagian samping perpustakaan, kelas-kelas 11 dan bagian belakang kantor. Kakinya tergantung-gantung di pinggiran tempat yang ia duduki itu. Sebenarnya ada sesuatu yang dipikirkannya.
Dia memandangi celana olahraga yang hingga kini masih setia dikenakannya. Hatinya begitu sedih. Dia kemudian menatap kosong ke arah jauh di sana, di mana siswi-siswi sedang riang gembiranya bercanda tawa dalam balutan rok abu-abu yang manis, sedangkan dia merasa tak bisa seperti kebanyakan dari mereka. Semua hal yang dapat membuatnya bahagia seolah terkurung dalam balutan celana olahraga ini, tapi dia akan lebih tidak bahagia lagi jika memakai rok abu-abu.
Dan mendadak Rama muncul, lalu langsung mengambil tempat duduk di sampingnya. Tentu saja Ajeng kaget. Bahkan dia sempat berpikir untuk pergi.
"Lo itu ngikutin gue, ya?" tanya Ajeng ketus. "Perasaan lo selalu aja muncul di saat..."
"Di saat lo butuh bantuan seseorang, kan!" Rama tersenyum.
Ajeng mendengus kesal. "Lama-lama gue muak, ya, dengan pembawaan lo yang terlalu kepedean terus itu."
"Emang bener, kan, beberapa hari ini lo selalu ngalamin hal-hal yang membuat lo butuh bantuan orang lain!" Rama menegaskan. "Lo bayangin, deh, gimana jadinya kalo kemarin waktu lo pingsan nggak ada yang nolongin."
"Eh, Ram, gue, kan, udah bilang makasih sama lo kemarin. Apa itu kurang?"
"Kurang."
Ajeng tersenyum dipaksa. "Lo itu sebenarnya ikhlas nggak, sih, nolongin gue?"
"Kalo gue nggak ikhlas, ngapain juga gue nolongin lo."
"Trus, barusan lo bilang kurang. Maksudnya apaan?"
"Lo kurang tulus ngucapin terima kasihnya kemarin."
"Kurang tulus? Perasaan gue kemarin-"
Rama langsung memotong kata-kata Ajeng. "Kalo orang tulus itu, nggak bakalan jutek waktu ketemu lagi sama orang yang udah nolongin dia. Biasanya, nih, marah itu sebagian dari tanda awal sebuah cinta."
Ajeng tersenyum meremehkan, tapi dia tak sadar ada degup berbeda yang kini menjadi detak di jantungnya. "Udahlah, sekarang jawab, dari mana lo tau gue di sini?"
"Lo aja dari kemarin nggak ada jawab pertanyaan gue."
"Pertanyaan yang mana?"
"Nggak usah pura-pura bego. Lo itu cantik, manis, jadi ketahuan banget kalo lo lagi pura-pura sama sesuatu."
Setengah dari mimik wajah Ajeng cemberut, tapi setengahnya lagi dia tersipu, seolah Rama adalah cowok pertama yang memujinya. Semua itu karena dia tak ingin salah tingkah di depan cowok super kepedean itu.
"Gue bakal jawab pertanyaan lo, kalo lo jawab pertanyaan gue soal celana olahraga itu," Rama menawarkan.
"Udahlah, gue juga nggak butuh, kok, jawaban dari lo. Terserah lo, deh, mau tau dari mana gue di sini, gue nggak terlalu peduli."
"Susah banget, ya, ngungkapin alasan tentang celana olahraga, kayak ngungkapin isi hati sama gebetan aja. Gue pengen tau, Jeng, kenapa, sih, lo pake celana olahraga terus?"
"Buat apa lo tau? Lo nganggap gue aneh juga, kan, kayak mereka!"
Rama menatap Ajeng dalam. "Gue cuma nggak mau, Jeng, lo dihukum terus gara-gara celana olahraga itu."
Ajeng tak menyangka Rama akan berkata seperti itu.
Rama melanjutkan. "Emangnya lo nggak punya rok abu-abu, ya? Atau mau gue beliin?"
"Nggak usah, makasih. Gue punya, kok."
"Terus kenapa nggak dipake?"
"Nggak papa."
"Robek? Kenapa nggak dijahit?"
"Masih bagus, kok, baru lagi."
"Iya, kenapa nggak dipake, sih, Ajeng? Pake, dong. Nanti kalo lo dihukum lagi gimana? Emangnya lo mau dihukum terus-terusan cuma gara-gara celana olahraga? Gue nggak mau lo sampe pingsan lagi, Jeng. Bagi gue, cewek pingsan itu memprihatinkan banget."
Ajeng terdiam mendengar kalimat dari Rama yang begitu menyentuh setiap dinding di hatinya itu. Dia sungguh tak menyangka kalau cowok yang satu ini begitu perhatian terhadapnya.
"Ya udah, maaf kalo gue maksa-maksa lo. Ini semua gue lakuin demi lo, Jeng. Tapi kalo lo nganggapnya lain, ya udah. Sekarang lo jawab pertanyaan gue yang lain aja."
"Masalah kelas gue lagi? Gue nggak bakal ngasi jawaban apa pun kalo masalah itu lagi. Lo kayak nggak ada topik lain aja, sih, buat dibahas."
"Bukan. Lo sensitif banget, sih, kayak cewek lagi dapet aja. Gue cuma mau nanya, kenapa lo kelihatan murung aja dari tadi?"
Ajeng terdiam dan menundukkan kepala.
"Nggak mau jawab lagi, ya!"
Ajeng tetap diam.
Rama mengambil ancang-ancang untuk berdiri. "Ya udah, kalo nggak mau jawab. Sori, ya!"
"Pak Anton dikeluarin dari sekolah, Ram," Ajeng menyahut tiba-tiba.
Rama cepat-cepat kembali duduk. "Apa, Jeng, Pak Anton dikeluarin?"
"Iya."
"Dari mana lo tau?"
"Seharusnya jam pertama di kelas tadi itu pelajarannya Pak Anton, tapi tiba-tiba Bu Rugun datang dan ngasi tau informasi itu. Jadi mulai hari ini, pelajaran Sejarah bukan dia lagi yang ngajar."
Rama terdiam. Entah kenapa dia terpikir oleh kata-kata Andika kemarin soal kutukan cewek aneh itu.
"Terus kenapa lo yang kelihatan bersedih, Jeng?"
"Gue takut aja dia dikeluarin dari sekolah karena kemarin dia menghukum gue."
Rama bergumam dalam hati, benarkah Ajeng memiliki kutukan?
Ketika Rama merenung di kelasnya sambil menunggu jam istirahat habis, Andika memecah segala kesunyian yang kini terdapat di dalam diri teman sebangkunya itu.
"Lo udah denger belum, Ram, kalo Pak Anton dikeluarin dari sekolah kita?"
"Uda, Dik."
"Tau dari mana lo?"
"Tadi Ajeng yang ngasi tau gue," Rama langsung menatap Andika serius. "Dik, jangan-jangan bener, ya, yang lo bilang kemarin, kalo Ajeng itu punya kutukan. Masalahnya sudah dua orang yang kena imbasnya."
"Tuh, kan, gue bilang juga apa. Lo juga musti hati-hati, Ram. Jangan terlalu sering deket-deket sama cewek aneh itu. Nanti lo bisa kena sial juga."
"Tapi menurut gue dia itu nggak aneh, Dik. Dia pasti punya alasan kenapa pake celana olahraga tiap hari."
"Justru di situ keanehannya, Ram. Apa pun alasannya, tetep aja itu aneh. Lo liat aja, mana ada siswi di semua sekolah yang pake celana olahraga tiap hari."
Rama mengacak bagian rambutnya. "Tau, ah, gue pusing. Eh, gimana kalo kita cari tau, Dik? Lo mau, kan, bantuin gue!"
"Ih, ogah, ah. Nanti kita kena sial juga lagi. Kalo kita dikeluarin dari sekolah gara-gara berurusan sama tu cewek, emangnya lo mau? Gue, sih, nggak mau."
"Tapi, Dik-"
"Udahlah, Ram, nggak usah nyari penyakit. Masih banyak cewek normal yang bisa lo deketin."
Apa bener, ya, yang dibilang sama Dika soal kutukan itu? Apa di zaman sekarang masih ada hal-hal mistis semacam itu? Rama berkata dalam hati. Ah, gue nggak percaya. Gue musti selidikin semua ini. Terutama tentang celana olahraga itu.