5. H-1 Pernikahan

1242 Words
Kini semua orang tampak sibuk, selama seminggu ini Ara sama sekali tidak bertemu dengan Calvin. Jujur saja ia merasa sangat merindukan sosok lelaki itu. Daddy, begitu dia memanggilnya. Dalam sekali helaan napas Ara kembali terbaring asal di atas tempat tidurnya. Di luar, lebih tepatnya di halaman belakang rumah gadis itu kini tampak berseliweran para Wedding Organizer yang terlihat sibuk menyiapkan tempat untuk pesta pernikahannya. Pernikahannya digelar dengan nuansa outdoor di siang hari dan juga indoor pada malam harinya. Memang bukan sebuah pesta pernikahan yang akan diselenggarakan dengan begitu mewah dan fantastis, karena Ara hanya menginginkan pernikahan yang cukup sederhana. Yang terpenting adalah dia bisa bersama dengan lelaki yang dicintainya, Calvin. Itu saja sudah cukup, bahkan jika ada opsi dia bisa menikah dengan lelaki dingin itu tanpa sebuah pesta pernikahan pun, Ara tak akan mempermasalahkannya. Namun itu hanyalah sebuah bayangannya saja, karena kini meskipun Ayahnya berkata bahwa pesta pernikahannya sangatlah sederhana tapi justru yang ia lihat adalah sebuah tempat yang disulap dengan begitu menakjubkan. Yah sebelumnya Ara memang hanya ingin rebahan saja di tempat tidurnya, tapi rasa penasaran kembali mengusiknya. Membuat Ara kini hanya bisa menatap takjub halaman rumahnya yang berubah menjadi sebuah tempat yang selama ini ia impikan. "Sayang, bukannya kamu bilang mau istirahat saja sampai hari pernikahanmu tiba?" "Aku hanya penasaran Pa, Papa yang menyiapkan semua ini untuk Ara?" Dengan binar riang Ara menatap Papanya sambil memegang kedua tangan Papanya. "Apapun untukmu princess." "I'm not a princess, Ara akan jadi seorang istri sebentar lagi." "Papa rasanya belum rela melepasmu ke pelukan pria lain." Dengan segera Ara memeluk Papanya erat. "Makasih Pa, udah ngerawat dan jagain Ara selama ini. Ara sayang Papa." "Iya sayang, Papa juga sayang sama Ara." Selama beberapa saat keduanya masih larut dalam pelukan hangat antara Ayah dan Anak. Sebelum kemudian Ara mulai melepaskan pelukan Papanya dan memandang tepat pada Papanya yang menatapnya lembut. "Pa..." "Iya sayang, kamu mau apa?" "Ara pengen ke makam Mama." Kedua mata besarnya menatap tepat pada netra sang Papa dengan sorot memohon. "Baiklah, akan Papa antarkan." "Makasih Papaaa." "Sekarang?" Dengan cepat Ara mengangguk dan menggandeng lengan Papanya untuk pergi ke makam Mamanya. Sudah lama rasanya Ara tidak pergi berkunjung ke makam Mamanya dan Ara begitu merindukannya. Setibanya di makam Mamanya, kini Ara dapat melihat deretan gundukan tanah yang telah ditumbuhi rumput hijau di atasnya dengan rapi. Makam itu tampak terawat dan bersih, sudah dapat dipastikan kalau Papanya pasti rajin datang ke makam Mamanya secara berkala. Hal itu ditunjukkan dengan adannya bunga yang baru saja layu dan kini digantikan dengan yang baru ia bawa dari rumah tadi. "Ma, Ara besok mau nikah, Mama restuin Ara yah sama Calvin. Dia pria yang baik kok Ma, bahkan dia yang menyelamatkan aku dulu. Sampai sekarangpun dia satu-satunya lelaki yang selalu jagain Ara selain Papa tentunya." 'Dan juga Ara mohon Ma, bantu Ara agar bisa kuat sampai saatnya nanti. Ara sekarang mungkin belum bisa bilang ke Papa dan Calvin mengenai penyakit Ara, karena Ara belum siap. Ara takut Ma, kalau seandainya mereka tau terus pernikahan Ara akan ditunda. Ara cuman gak mau kalau Ara harus menyesal nantinya kalau terlambat.' Setitik cairan bening tampak menetes di pelupuk mata gadis itu, ia tampak berusaha menahan kedua matanya yang sudah berkaca-kaca sejak tadi. "Sudah sayang, ayo pulang." Setelah mengusap batu nisan Mamanya, tiba-tiba rintik hujan yang cukup deras langsung saja datang mengguyur bumi. Meninggalkan jejak tanah basah, dimana hal itu membuat Ara dan Papanya harus berlari untuk menerobos hujan menuju ke arah mobil mereka diparkirkan sejauh 20 meter dari makam Mamanya. Memang tak begitu jauh, namun rintik hujan yang cukup besar itu mampu membuat basah kuyup badan mungil Ara yang kini menggigil kedinginan di dalam mobil. Tak ingin memperburuk keadaan, Ayah Ara kini dengan cepat melajukan mobilnya. Hingga dalam waktu 30 menit menembus derasnya hujan, kini mereka telah sampai di rumah. Papa Ara begitu khawatir akan keadaan Ara yang tampak kedinginan. "Ara, kamu nggakpapa sayang? Badan kamu menggigil, apa perlu Papa panggil dokter?" "Nggak usah Pa, Ara cukup mandi air hangat aja pasti udah baikan." Dengan senyum terkesan dipaksakan kini Ara menarik kedua sudut bibirnya ke atas, meskipun bibirnya jelas begitu pucat bahkan sampai bergetar. Dengan ragu Papa Ara membiarkan saja anak gadisnya itu menaiki satu demi satu anak tangga menuju ke kamarnya. "Apa perlu Papa gendong ke atas Ara?" "Enggak Paaaa, Ara udah gede." Sekali lagi gadis itu manampakkan muka pura-pura sebalnya karena perkataan Papanya. Pada pijakan anak tangga ke lima, Ara dapat merasakan pandangannya mulai kabur. Ia sedikit oleng dan segera ia atasi dengan berpegang pada pinggiran tangga. Ia harus berjalan dengan normal paling tidak sampai di kamarnya. Karena Papanya masih mengawasinya berjalan di anak tangga menuju kamarnya. Gadis itu tak ingin membuat Ayahnya khawatir. Kepalanya mulai terasa memberat dan pusing, suhu badannya juga terasa mulai naik seiring dengan badannya yang masih menggigil. Ara pada akhirnya berhasil menaiki anak tangga hingga ia kini telah sampai di dalam kamarnya. Dengan cepat ia mengambil obat yang ada di dalam tasnya dan meminumnya dalam sekali tegukan air putih. Suhu tubuhnya menghangat, ia mencoba menguatkan diri untuk berendam air hangat. Paling tidak ia ingin tetap terlihat sehat sampai hari H pernikahan. Ia tidak ingin memperburuk keadaan dengan kondisi tubuhnya yang drop karena sakit, meskipun sebenarnya ia memang sakit. Gadis itu melepas satu per satu bajunya yang agak basah, lalu beranjak menuju bath up untuk berendam. Pening di kepalanya masih terasa, ia berusaha memijit pelan kepalanya untuk mengurangi pusing. Suara getar ponselnya yang ia taruh di samping bath up membuat Ara yang tadinya memejamkan kedua matanya untuk menangkal rasa pusingnya, kini kembali teralihkan. Ia melihat sebuah panggilan video-call dari w******p-nya. 'Daddy' nama itu tertera dengan jelas, membuat Ara yang melihatnya langsung tersenyum senang. Dengan segera ia mengangkat panggilan video-call tersebut dengan wajah cerah. "Halo daddyyyy!" Dengan semangat Ara melambaikan sebelah tangannya pada sosok Calvin yang kini hanya diam tanpa kata di seberang sana. 'Apa yang kau lakukan gadis nakal? Menerima panggilan video-call saat sedang berendam?' dapat Ara dengar  geraman pelan dari pria itu di seberang sana. "Karena Daddy sudah melihatku dalam keadaan seperti ini, maka Daddy harus bertanggung jawab. Daddy harus menikahiku dengan sungguh-sungguh besok." Sebuah senyum cerah lagi-lagi ditampilkan Ara saat Calvin hanya bisa mengalihkan pandangannya dari pemandangan di layar ponselnya. 'Cepat selesaikan mandimu!' "Siap komandan!" Ara membuat gerakan layaknya hormat pada sosok Calvin di layar ponselnya, membuat buah dadanya menyembul barang sesaat dari air bath up. Lagi-lagi Ara dapat melihat Calvin mengalihkan pandangannya enggan melihat Ara, dapat dilihatnya kedua rahang pria itu tampak mengeras barang sesaat. Bahkan ketika ia mematikan panggilan video call-nya Calvin tetap tidak mau menoleh ke arahnya. Setelah menaruh ponselnya di samping bath up, dapat gadis itu rasakan bahwa jari-jarinya mulai keriput karena kedinginan. Bahkan kepalanya semakin terasa pening dan pandangannya mengabur. Rasa hangat pada hidungnya, Ara sudah bisa menduganya. Dengan sekuat tenaga gadis itu berusaha bangun dan kembali ke kamarnya. Ia tak lupa membersihkan darah yang mengalir dari hidungnya. Sebelumnya ia sudah mengunci pintu kamarnya sebagai bentuk antisipasi kalau Papanya datang dan melihat kondisinya kini. Ara kembali mengambil obatnya saat mimisannya tak kunjung berhenti, ia meminum sekaligus yang seharusnya diminum untuk 2 kali, ia minum dalam satu kali telan. Tak lama kemudian mimisannya mulai berhenti, Ara menyimpan semua tisu dengan bercak darah untuk ia masukkan dalam sebuah kresek hitam. Ia tidak mau mengambil risiko dan nantinya akan memperburuk semua rencananya. Setelahnya, Ara membaringkan tubuhnya yang tak kuat lagi barang untuk berdiri. Tak butuh waktu lama gadis kedua mata Ara terpejam erat. Membawa dirinya dalam sebuah kegelapan. To be Continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD