3. Perjodohan Konyol

1048 Words
Aku pulang kerumah dengan wajah yang masam kecut bak asam jawa, tidak pernah hatiku seberantakan ini sebelumnya, Gentala dosen sialan berhasil mengacaukan hariku, kemanapun aku berada di kampus dia selalu muncul seperti siluman, terakhir kali aku mengajukan permohonan penggantian dosen pembimbing di sekretariat, dia juga muncul di sana. Perdebatan hebat pun terjadi antara aku dengan Gentala, di dalam surat pernyataan yang ku buat Gentala menentang keras alasanku untuk menggantinya sebagai dosen pembimbing skripsiku. "Dia tidak menyertakan bukti bahwa saya tidak objektif dalam mengoreksi skripsinya!" ucap Gentala dengan raut santai. "Memangnya ini masalah kekerasan dalam rumah tangga harus melampirkan bukti!" Aku yang terlanjur tersulut emosi berbicara sambil menunjuk-nunjuk pada Gentala. Beberapa dosen wanita membela Gentala dan dosen laki-laki membelaku, tapi tetap saja aku kalah. Kubu ku kalah karena pasukan dari Gentala adalah wanita, mana ada yang bisa mengalahkan ras terkuat di muka bumi ini. Akhirnya aku pulang dengan menelan pil pahit kekecewaan, Gentala menolak untuk di ganti sebagai dosen pembimbing, entah alasan apa dia ingin sekali menjadi dosen pembimbing skripsiku. Kepalaku hampir pecah memikirkan masalah ini, lulus dengan nilai hampir sempurna, menjadi mahasiswa terbaik dengan sebutan cumlaude saat di wisuda hanya akan menjadi impian semata gara-gara Gentala. Gentala manusia kutub telah berhasil menghancurkan mimpiku dalam sekejap mata, aku bersumpah akan membuat Gentala menyesal telah melakukan itu. "Sayang, nanti malam kita akan kedatangan tamu." Mama menghampiriku saat aku uring-uringan di atas kasur empuk ku. "Tamu apa sih ma?" Aku bergeliat malas merespon ucapan mama, rasanya pikiranku yang pening belum pulih seutuhnya di sebabkan urusan kampus yang sama sekali belum ada jalan keluarnya. "Rekan bisnis papa kamu." Aku segera duduk, memeluk mama dan menciumnya, kalau sudah berada di dekat mama rasanya semua masalah hilang seperti gas yang di tiup oleh angin. "Terus apa hubungannya sama Shena?" Aku bergelayut manja di tubuh mama yang masih langsing, mama membelai rambutku yang panjang dengan mesranya. "Tentu saja ada nak, kamu putri satu-satunya papa dan mama, kamu harus ikut serta makan malam bersama tamu kita nanti malam sebagai bentuk menghargai mereka." ucapan mama yang lembut dan penuh kasih sayang mampu menentramkan suasana hatiku yang hancur berantakan karena ulah dosen sialan itu. Selalu seperti itu, papa dan mama selalu melibatkanku dalam urusan bisnis mereka, aku tau maksud mereka agar aku belajar tentang bisnis yang sedang mereka jalankan, namun aku adalah manusia yang tidak mau repot, dan tidak mau berpikir yang berat-berat, aku tidak mau membuat otakku bekerja terlalu keras. Sesuai dengan permintaan mama dan papa, berdandan cantik dan anggun demi menyenangkan hati mereka telah kulakukan, gaun selutut bewarna putih tulang dengan motif bunga-bunga bewarna pink muda membalut bentuk tubuhku dengan sempurna, rambut ku biarkan tergerai panjang, wajahku yang memang sudah cantik tidak perlu menggunakan riasan tebal, cukup tipis saja sudah cukup mempesona. "Non Shena, kata nyonya tamunya sudah datang!" Bi Tuti membawakan pesan mama, artinya aku sudah harus turun untuk bersatu padu dengan mereka di bawah. Aku dengan senyum percaya diri turun kebawah melalui tangga yang melingkar tepat di ruang tamu, mama dan papa menyambut ku dengan senyuman manisnya dan tamu mereka adalah dua orang laki-laki yang duduk membelakangi tangga. "Itu putri kami." ucap papa sambil berbicara pada seorang laki-laki yang sepertinya lebih sepuh dari papa, dapat ku tebak dari rambutnya yang bewarna putih semua serta kaca mata yang di pakainya, dan penilaian ku tidak salah saat ada satu tongkat bersandar di sampingnya. Aku terus berjalan menapaki tangga satu persatu hingga aku sudah sampai di lantai dasar, masih dengan senyum percaya diri yang sengaja ku persiapkan untuk menyambut kedatangan tamu spesial papa. "Ayo sayang, sini dekat mama." Mama melambaikan tangan agar aku segera menghampirinya. Jantungku rasanya ingin meledak karena memompa darah terlalu keras saat melihat wajah laki-laki yang berdiri tepat di depanku, setiap nadiku terasa di aliri oleh darah panas yang siap memecahkan setiap pembuluh darahku. Laki-laki yang telah berhasil memporak-porandakan suasana hatiku hari ini tiba-tiba berdiri di depanku, memandangku dengan sorot mata tajam yang siap menguliti ku hidup-hidup. Gentala dosen sialan pemutus harapan-harapan indahku tidak menampilkan ekspresi apapun, terkejut pun tidak, dia masih tetap sama seperti kutub utara. "Pak Dirga, ini putri saya satu-satunya." ucap papa kepada laki-laki yang kepalanya penuh uban itu, aku semakin penasaran apa pula hubungan diantara mereka, papa, Dirga dan si Gentala, atau jangan-jangan mereka terlibat cinta segitiga? Otak senewen ku bekerja semakin liar saja, pasti gara-gara si songong ini ada di depanku jadinya aku langsung korslet. "Ayo kenalan!" Mama menyentuh lenganku agar aku segera menjabat tangan para tamu spesial nya malam ini. "Selamat malam, saya Shena, saya manggilnya apa ya?, Pak, Om atau ada panggilan khusus yang lainnya?" Sapaku sambil mengulurkan tangan pada laki-laki berkepala putih itu. "Hm, Shena kamu cantik sekali, melebihi dari ekspektasi ku, hehe" ucapnya sambil terkekeh dengan suara seraknya, dia menyambut tanganku tampa ragu. "Panggil saja Bapak, atau Papa boleh juga karena sebentar lagi kamu akan menjadi anak saya, hehe." Apa? Aku memandangi mama dan papa yang tersenyum-senyum saat mendengar ucapan laki-laki beruban ini, mama mengusap lenganku sedangkan papa ikut terkekeh bersama laki-laki tua itu, apa maksud ucapan pak Dirga? Apakah dia akan mengadopsi ku? Tega sekali mama papa memberikanku pada orang lain setelah bersusah payah membesarkan ku, atau jangan-jangan aku bukan anak mereka, ah! berbagai hipotesis bermunculan di otakku membuatku semakin pening. Kenapa dengan otak ini? Mudah sekali terkontaminasi dengan hal-hal buruk? Baiklah tenangkan dulu dirimu Shena! Kita lihat apa yang telah mereka rencanakan. "Gen! Papa gak bohong kan sama kamu, Putri pak Frans pasti cantik." bisik si tua Bangka pada laki-laki di sebelahnya, siapa lagi kalau bukan Gentala si kutub utara pembawa sial bagiku. Tapi tunggu dulu, barusan dia menyebut dirinya apa? Papa? Jadi mereka adalah bapak dan anak!. Ini patut di curigai, jangan-jangan maksud ucapannya tadi adalah ingin menjadikanku anak menantunya, jangan-jangan mereka sedang mengatur perjodohan bidadari bumi secantik diriku dengan makhluk kutub Utara yang ada di depanku, oh tidak! Betapa sialnya hidupku jika benar dugaan ku itu terjadi. "Nak Shena, perkenalkan ini anak saya insya Allah yang akan menjadi calon suami kamu atas dasar perjanjian kami berdua, saya dan Papa kamu hehe!" Tepat sekali, dugaanku tepat, tapi aku tidak boleh bersikap berlebihan di depan orang-orang ini, aku tidak boleh bersikap kekanak-kanakan dengan meloncat-loncat, atau pingsan, ataupun kesurupan karena tidak rela dengan perjodohan seperti tokoh wanita yang ada di dalam novel-novel, ini dunia nyata! aku harus menolak perjodohan ini dengan elegan dan berkelas!.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD