"Em ... Kangmas." Agak ragu, tetapi Lintang Ayu menyapa sang suami yang sedang berdiri membelakanginya, seperti biasa lelaki itu berdiri menghadap jendela yang terbuka dengan kepala menengadah menatap langit hitam menjatuhkan rintik-rintik air dari atas sana, Lintang Ayu sudah hapal jika kegalauan sedang melanda hati sang suami maka sudut kamar mereka itu tempatnya menghabiskan waktu. "Hem ...." Wengi hanya berdeham untuk menjawab panggilan sang istri, tanpa sedikit pun menoleh pada wanita yang sudah mendampinginya hampir tiga puluh tahun lamanya itu. "Kangmas mau dibuatkan kopi atau teh hangat?" tanya Lintang Ayu sembari memegang bahu sang suami dari belakang dan berdiri di sebelahnya lalu mulai menatap langit yang sama, mencari kata dan momen yang tepat untuk mulai mengajak suaminya

