Gadis duduk termenung di jendela kamarnya yang terbuka, duduk di atas kusen dengan menekuk kaki, kedua tangannya terlipat di atas lutut. Pandangannya menerawang jauh, sejauh jaraknya dengan sang kekasih kini, dan rasanya menyakitkan. Kamar itu kini kembali berpenghuni, kamar yang masih tetap sama seperti saat dulu Gadis meninggalkannya, yang ia lakukan juga tetap sama duduk di jendela yang menghadap ke taman belakang rumahnya dengan memikirkan seorang lelaki tampan itu tetapi kini rasanya berbeda. Jika dulu cintanya hanya bagai sebuah biji bunga dandelion yang melayang-layang di udara, tidak pasti hanya ada sebuah asa tetapi kini cinta itu sudah tumbuh bersemi di tempat yang tepat dan mengakar kuat dan jika sampai cinta itu tercabut dari tempatnya maka kematianlah yang akan terjadi. Se

