"Tuan Hans, sekarang ceritakan pada kami tentang kehidupanmu dengan Ibu Andini setelah meninggalkan rumah ini." Hans menatap Wengi dengan tatapan penyesalan yang begitu terlihat, sementara lelaki yang dipandangnya menatap lurus ke depan seolah tidak sudi menatap seorang lelaki yang sempat menjadi sahabatnya tetapi telah memberikan begitu banyak luka. "Wengi, aku tau kalau aku memang sama sekali tidak pantas kamu maafkan. Aku tau diri, tapi aku hanya memohon padamu, maafkanlah Andini." Dengan cepat Wengi menoleh dan menatap Hans, sementara kelima orang lain yang ada di sana hanya diam menjadi pendengar. "Kenapa? Kenapa aku harus memaafkan dia? Dia sama saja dengan kamu," jawab Wengi dengan suaranya yang masih agak bergetar, bagi Wengi Andini memang salah seorang penghianat tidak perna

