Rencana Sakala

1375 Words
Plak! Lengan Saka kena tepuk begitu saja. “Bebe,” rajuk Saka sekali lagi sambil menjauhkan wajahnya. Pedas juga tepukan Ala di lengan kirinya. “Behave ya, Pak Saka,” Ala menutup mulut dengan telapak tangan kanannya yang sudah menabok lengan Saka, membuat lelaki itu menjauh darinya. “Biar kamu yakin kalau ciuman saya gak buruk,” sanggah Saka dengan seluruh kepercayaan diri yang membuat Ala mengeryitkan keningnya. Ala berdecak pelan, “Jangan cium-cium saya sembarangan, ya, Pak Saka,” pintanya langsung pada intinya. Sakala yang ia kenal memang tidak suka berbasa-basi dan selalu straight to the point. Jadi ia akan bicara terus terang dan tidak bertele-tele. “Kok gitu?” Mata Ala mendelik pada pertanyaan yang tidak bertanggung jawab itu. “O-kay,” Saka mengangguk melihat bombastic side eyes itu terarah padanya. Senyumnya mengembang kemudian. “Yang penting kekhawatiran aku udah clear,” katanya lega. “Bisa khawatir apa sih seorang Sakala Rangga?” tanya Ala benar ingin tahu. Bukan pertanyaan ledekan seperti apa yang ditanyakan orang-orang sekali lewat padanya. “Banyak, Ala. Banyak hal yang menjadi kekhawatiran seorang Sakala Rangga,” jawab Saka dengan nada yang serius juga. Ala menyimpan garpu di atas mangkuknya, kembali menoleh pada Saka yang tumben-tumbenan menggunakan nada serius padanya. Tangannya menopang dagu dan menunggu Saka melanjutkan ucapannya. “Membawa dua nama di pundak, berusaha menjaga reputasi, tidak menambah rekor buruk, semuanya harus sempurna,” Saka ikut menopang sisi kepala kirinya, menatap Ala yang diam mendengarkannya, “dan membuat keputusan yang tidak akan disesali di kemudian hari.” Mata Ala berkedip. Teringat pada gosip yang beredar soal ayahnya Saka yang 'dibuang'. Apa itu maksud lelaki yang duduk di sampingnya ini? “Apa menjadi orang kaya juga sulit?” tanya Ala yang berbeda jauh dengan apa yang jadi pertanyaan di kepalanya. Tentu saja, Ala tidak mungkin berani mengungkit hal itu di depan Saka. Tawa Saka terdengar begitu Ala selesai bertanya. “Kenapa kamu pikir kalau orang kaya gak punya kesulitan?” Ala menghela napas, bibirnya manyun-manyun selagi kepalanya mengangguk-angguk pelan, “Bener, jadi Pak Saka memang gak mudah, ya. Masih tiga puluh tahun tapi udah punya banyak tanggungan seperti ini. Aku cuma punya dua orang yang harus di hidupi aja rasanya kewalahan.” Alis Saka bertautan, melihat wajah serius Ala yang memikirkan perkataannya dengan sungguh-sungguh. “Kamu juga mengkhawatirkan saya?” tanyanya. Mata Ala melihat seringai menggodanya lagi, “Ih, buat apa. Saya udah pusing mikirin diri sendiri, ya,” elaknya. Kekehan kecil terdengar dari mulut manis Saka, “Kamu gak tanya apa yang saya khawatirkan dari kemarin?” pancingnya. Sambil mengambil kembali garpu, Ala bertanya, “Memangnya apa?” “Kamu.” Kepala Ala menoleh cepat. Tangan kirinya mengacungkan jari telunjuknya, menurunkan jari telunjuk itu mengarah pada wajahnya sendiri. “Aku?” “Hm,” Saka mengangguk, “aku khawatir kamu gak suka ciuman aku.” Plak! Sekali lagi tepukan bersarang di lengan Saka, kali ini di lengan kanannya. Saka meringis sambil terkekeh lagi, “Belum juga berumah tangga, udah ada aja kekerasannya,” keluhnya dengan mata menyipit menahan tawa. “Makan aja, Pak Saka, biar saya bisa cepet-cepat beres-beres,” Ala menggulung spaghettinya lalu cepat-cepat menyuap. Tangan kirinya terlipat di atas meja, menutup wajahnya yang memerah. Malu. Bisa-bisanya lelaki itu membicarakan cium-cium dengan mudahnya seperti ini. Ala benar tidak habis pikir. Ia kira Saka memang serius saat bicara tentang kekhawatirannya yang banyak itu. Ternyata ujung-ujungnya tetap membicarakan ciuman mereka kemarin. Ada gila-gilanya bosnya ini. Oh, tidak, memang sejak kemarin sudah ada gila-gilanya. Ia sudah menyadari itu. Tapi ia membutuhkan pekerjaannya dan tempat tinggal murah ini. Jadi, Ala meyakinkan dirinya untuk bisa menahan semuanya. Saka masih menatap pada punggung tangan Ala yang menutupi wajah cantiknya itu. tangannya terulur, meraih tangan itu, “Oke, maaf ya,” ucap Saka. Suaranya penuh perhatian, sedikit penyesalan, juga ada setitik menggoda. “Minta maaf yang bener, dong, Pak Saka. Saya udah dua kali kena begal bibir,” tanpa sadar Ala merajuk dengan suaranya yang terdengar kesal. Genggaman tangan Saka terasa lebih erat, Ala menoleh. Setelah raut menggoda itu, kini wajah Saka terlihat serius. “Saya gak pernah minta maaf dua kali,” Saka mengangkat sebelah alisnya. Kepala Ala menggeleng, “Pak Saka bilang maaf dua kali kemarin,” katanya dengan kerlingan matanya. Saka berkedip, mengingat. “Di kertas dan diucapkan waktu saya turun ke dapur,” Ala tersenyum. Senyum kemenangan karena sudah berhasil membuat Saka berkata maaf dua kali. Mata Saka berkedip lagi. Benar. Sejak kapak seorang Sakala bisa berkata maaf dua kali? -o0o- “Ini yang anda minta kemarin, Pak,” Dimas menyerahkan folder hitam di hadapan Saka. Tangan Saka membuka dan matanya menatap isinya satu per satu. Isinya sesuai dugaannya. Apa yang ia curigai dari semua ucapan yang ia dengar malam itu dari ibu tiri-nya Ala. “Saya sudah melengkapi juga dengan peternakan ayam yang ditinggalkan Pak Aman kepada Ibu Arum. Juga status rumah yang mereka tempati sekarang. Tabungan yang Pak Saka curigai benar atas nama Bu Alara dan ada salinan tanda tangan Bu Ala yang bersedia juga memberi kuasa pada Ibu Arum,” jelas Dimas pada lembar-lembar yang Saka buka. Ujung bibir Saka naik, menyeringai kecil, “Sudah mendapatkan semuanya tapi masih ingin memeras domba kecil gue,” gumamnya tak senang, “pantes tangisannya malem itu menyedihkan banget.” Dimas tidak menjawab apa-apa. “Dim, gimana kalau kita bermain sedikit dengan perempuan tua ini?” tanya Saka dengan ringannya, seakan-akan itu hanya adegan Anna yang mengajak Elsa main boneka salju. Tidak bisa menolak, Dimas mengangguk, “Apa yang harus saya lakukan?” tanyanya. “Kita buat kaget dulu,” Saka tersenyum. Tapi senyumnya bukan senyum bersahabat, itu seringai kesal yang sudah Dimas hapal, “enak banget mau main-main terus sama mainan saya.” -o0o- Semuanya kembali seperti biasa. Ala kembali ke lantai dua puluh tiga dan berada di sebelah meja Lisa. Bekerja seperti biasa, benar-benar seperti biasa. Sakala tidak lagi datang ke lantainya hanya untuk membawanya pulang. Ia pulang pergi dengan motor barunya, pekerjaan rumahnya juga tidak banyak yang berubah, kecuali satu. Saat ia makan malam, Saka kadang menempel padannya. Untuk menudian mereka duduk berdua, membahas apa saja yang ingin Saka tanyakan. Kebanyakan hanya menggodanya, memancing-mancing dengan pertayaan “Kenapa ia menangis setelah ciuman pertama mereka?” atau seperti membicarakan apa yang harus mereka lakukan saat ada di pesta yang mereka datangi. Atau membahas bagaimana cari naik kuda yang baik dan benar. Karena minggu depan, mereka harus kembali menghadiri acara yang diadakan Kakeknya Sakala, Darja Hadi lagi-lagi membuka acara. Kali ini adalah berkuda. Di pacuan kuda miliknya, di Lembang. Lagi-lagi mereka akan ke Bandung. Ala mengikuti semua permainan Saka dengan baik. Ia masih mengikuti pekerjaan dengan baik. Tidak ada yang aneh dengan hidupnya sekarang. Kecuali dengan jadwal yang tiba-tiba jadi padat. Ikut dengan Saka pada pertemuan-pertemuan dengan teman-temannya. Ala mengingat apa yang ia lewatkan selama dua minggu pertama lalu. Yang ia ingat adalah Saka biasanya menghabiskan banyak waktu di ruang game, kini lebih sering pergi keluar dan membawanya bertemu dengan orang-orang. Yang berubah lainnya adalah waktu sendirinya yang jadi sedikit. Bahkan saat di rumah Saka akan menempelinya. Gina juga sepertinya tidak memberi tahu mama karena ia masih merasa aman-aman saja dengan semua pesan dan telepon dari Mama Arum. Ini aneh, sih. Biasanya Gina hanya bisa menahan rahasia selama satu hari. Ini sudah mau tiga hari dan semuanya masih baik-baik saja. Seperti tenang sebelum badai. Membuat Ala tidak nyaman. Tidak tenang. Kenapa? Karena ia mengenal Mama Arum dan Gina dengan baik. Ia tidak mungkin dibiarkan begitu saja jika Mama Arum sudha mendapat info dari Gina. Ia tidak akan bisa diam tenang seperti ini. Pasti akan ada serangan dari Mama Arum yang membuatnya merasa itu salah. Merasa langkahnya salah. “Kamu kenapa?” Ala mengangkat wajah, menatap Saka yang memakai setelan baju tidur seperti biasanya. Namun kali ini, rambutnya tersisir rapi, wajahnya juga tidak kusut seperti yang lalu-lalu. Tentu saja Saka sedang main game saat ia mengetuk pintu kamar mainnya itu. memberi tahu kalau makan malam sudah siap dan mereka bisa makan. “Saya?” Ala mengerjap. “Hm,” Saka mengangguk. Ia menatap bagaimana Ala yang kebingungan, “Apa yang salah?” “Salah?” Ala mengunyah nasi bakar cumi-cuminya dengan lahap. Kepalanya menggeleng. "Iya, mau kasih tau saya?" tawar Saka. Ala menimbang, apa harus ia membagi cerita dengan Sakala? -o0o-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD