Pengumuman

1404 Words
“Saya tidak di rumah malam ini, kamu oke?” Ala sendiri masih syok dengan kenyataan bahwa ia sudah mabuk tadi malam. Bahwa yang ia minum itu benar-benar air mabuk? Air alkohol yang selama ini tidak pernah dilihatnya ternyata sudah diteguknya begitu saja dan membuatnya tidak sadar dan melakukan hal memalukan sepagian tadi? Sumpah. Ala bersumpah dalam dirinya sendiri, selain berwarna bening, ia tidak akan meminum air yang sudah terbuka botolnya. Kecuali dari galon. Benar. Tidak mungkin aya yang menjual air mabuk dalam galon, bukan? Kepala Ala mengangguk-angguk dalam kesepakatan yang terjadi di dalam kepalanya sendiri itu. “Dan untuk yang tadi, kamu tenang saja. Semuanya akan berjalan seperti biasa.” Ala menoleh, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Saka mengangguk sekali lagi menegaskan apa yang sudah diucapkannya. “Saya masih kerja? Beneran gak dipecat? Masih boleh tinggal di sini juga?” tanyanya tak percaya. Ala benar-benar tidak percaya dengan telinganya sendiri sekarang. “Benar. Apa yang terjadi tadi pagi dan yang sudah terjadi selama kamu tinggal di sini gak mempengaruhi apapun,” jawab Saka. Tangan Ala meraih tangan Saka dari pangkuan bosnya itu, “Makasih, Pak Saka,” serunya bersemangat, wajahnya yang sedari tadi penuh kekhawatiran kini terurai semuanya. Cemas dan takutnya menguap, berganti lega yang tidak bisa ia ungkapkan selain dengan ucapan terima kasih. Mata Saka menatap tangannya yang digenggam begitu saja oleh gadis terlalu bersemangat di sampingnya ini. Padahal sejak pagi tadi, setelah rapat selesai, wajah kusut dan kuyu itu menghiasi sepanjang hari. Bahkan sampai tidak mau pulang segala. Tatapan Saka beralih pada wajah cerah ceria di depannya, senyumnya yang lebar, matanya yang kini terlihat hidup, dan cahaya yang terpancar dari ketulusan ucapan terima kasih berkali-kalinya itu. “Hm,” Saka mengangguk kecil. Ia menggerakan dagunya, “sudah sampai. Turunlah. Kunci pintu dengan benar.” Pandangan Ala melebar ke sekeliling, baru sadar mereka sudah sampai, senyumnya sekali lagi mengembang, “Hah?” tanyanya setelah sadar apa yang Saka katakan tadi, “Pak Saka gak turun?” “Kamu mau banget bisa serumah sama saya?” Alis Ala bertaut, matanya mengerjap, “Permisi, punten, Pak Saka, ini rumah anda—“ Ala menundukan pandangan menatap tangannya yang menggenggam tangan Saka. Lalu tanpa sadar menyentakkan tangan lelaki itu begitu saja. “Maaf— itu, gak sengaja, Pak Saka.” “Hm, saya mengerti. Semua cewek memang maunya genggaman tangan sama saya.” “Enggak gitu ya, Pak. Ih, apaan sih, maksudnya gak gitu,” panik Ala dengan nada suara Saka yang terdengar menyeramkan. Sekali lagi, Saka menahan diri untuk tidak tersenyum. “Turunlah, saya masih punya jadwal lain,” pintanya sekali lagi. Ia sendiri bingung kenapa bisa sesantai ini dengan Ala yang ada di depannya. “Oh, oke,” Ala meraih totebagnya, lalu tangannya menarik tuas, kakinya turun disusul dengan tubuhnya. Ala berbalik sebelum menutup pintu, “Makasih, Pak Saka,” katanya menunduk sekali lagi, lalu melirik lelaki di belakang roda kemudi itu. “Makasih, Pak,” katanya lagi padanya. Tangannya menutup pintu mobil dengan hati-hati lalu kembali menunduk kecil. Matanya mengikuti arah perginya mobil sampai tidak terlihat lagi di belokan keluar komplek. Ala baru bernapas lega. Ia berbalik dan melihat bangunan rumah dua lantai yang sudah ditempatinya selama dua minggu ini. Apa malam ini ia kabur saja? Ponselnya bergetar di dalam tasnya, tangan Ala merogoh tas dan mendapati pesan dari sang pemilik rumah. Bulu kuduknya meremang, ia menoleh ke kanan dan kiri. “Pak Saka beneran nyeremin,” gumamnya sambil menatap layar ponselnya. [Pak Sakala : Jangan pikir buat kabur. Kamu udah bayar buat tiga bulan. Gak ada refund.] -o0o- Maybach hitam itu melewati gerbang tinggi lalu melaju di jalanan dengan sisi kiri dan kanan berjajar pohon pinus dengan pencahayaan kuning hangat. Melewati taman lengang di depan yang hanya penuh ditumbuhi rumput jepang. Jalan berbelok memperlihatkan bangunan rumah di ujung jalan. Rumah mewah dengan tiang-tiang tinggi dan jendela-jendela kotak-kotak di lantai satu dan lantai dua. Dindingnya full berwarna putih. Ada tangga lebar dengan lima anak tangga menuju teras luas dengan lantai marmer berwarna hitam. Pintu besar dengan dua bukaan berdiri gagah di sana, di dinding itu juga ada jendela-jendela lebar yang semuanya berukiran. Lampu chandelier turun dari langit-langit tinggi yang menerangi teras luas itu. Maybach hitam itu berhenti di sana. Saka keluar setelah pintu terbuka oleh Dimas, lelaki yang mengemudi sejak tadi juga sekaligus assisten pribadi Saka. “Gak usah ditunggu, Dim, saya menginap di sini malam ini.” Dimas mengangguk dengan perintah Saka, “Baik, Pak. Saya jemput besok pagi,” jawabnya. Saka mengangguk lalu melangkah menaiki anak tangga, kaki panjangnya membuat langkahnya lebar dan sampai di pintu tak lama kemudian. Pintu berayun terbuka oleh seorang art, Saka melewatinya, masuk ke dalam area foyer dengan meja bulat di bawah chandelier mewah yang tergantung di tengah-tengah ruangan kosong itu. Satu pintu kaca besar ada di sisi kanan, pintu menuju ruang tamu yang luas dan berisi kursi-kursi dan meja-meja yang banyak. Pintu hitam di kirinya adalah pintu menuju ruang-ruang kerja milik satu per satu anggota keluarga. termasuk milik Saka juga ada di sana. Di samping itu ada pintu lift untuk ke lantai dua. Langkahnya membawanya menuju ruang lain, melewati tangga melingkar menuju lantai dua juga. melewati meja bulat yang di atasnya terdapat vas bunga besar yang hari ini dipenuhi bunga-bunga berwarna putih. Saka berbelok ke kiri, ruang keluarga berada di sana. Sedangkan pintu kaca yang selurus dengan pintu utama adalah pintu menuju taman tengah yang atapnya terbuat dari kaca. Ruang keluarga itu hangat, oleh lampu berwana warm white. Gordennya berwarna cream, sofa-sofa empuk yang membentuk keliling ruang keluarga dibuat custom, meja-meja kecil di samping sofa adalah yang memudahkan untuk menyimpan gelas. Sedangkan tengah-tengahnya lapang dan diisi oleh karpet-karpet empuk. Satu buah televisi berlayar besar ada di sana. Tapi yang mencolok di ruang kelurga itu adalah deretan foto keluarga yang dipajang di dinding lebar di sisi lain disimpannya tv. Foto semua anggota keluarga ada di sana. “Saka,” suara perempuan menyambutnya dengan hangat. “Mah,” Saka menunduk, meraih tangan kanan perempuan yang ia panggil mama dan mencium punggung tangan itu. Indi Jandra terseyum lebar, mengusap rambut Saka dengan sayang selagi anak lelaki yang sudah lebih tinggi darinya itu menunduk. Ia merentangkan tangan saat Saka kembali berdiri. Dengan senyum masih di bibirnya, Indi tenggelam dalam pelukan anak lelakinya. “Sehat, Sayangku?” “Hm,” Saka mengangguk, “Mama sehat?” balik tanyanya. Senyumnya ikut naik. “Mama baik-baik saja selama kamu baik juga,” jawab Indi ceria. “Lika belum pulang lagi,” katanya mengadukan adik Saka, Nalika. “Kerjaan dia memang begitu, kan, Mah,” jawab Saka tak acuh. Sebagai pengacara, Nalika memang lebih banyak menghabiskan waktu di kantor Lawfirmnya. “Tapi dia keluyuran di The Six tiap hari, Saka,” lanjut mamanya. “Mending di The Six, Mah, ada Gerhana di sana. Lika lebih terpantau,” jawab Saka lagi. Indi merajuk, “Ih kamu mah, mama mau kamu marahin adik kamu tuh.” “Biar itu tugasnya Papa aja, Mah,” jawab Saka yang mendapat cebikan dari mamanya. “Yaudah kamu bisa pantau Lika lewat Gerhana, tapi yang ini harus kamu selesaikan sendiri.” “Apa?” tanya Saka bingung. Juga panggilan dari kakeknya yang memintanya datang malam ini. “…” “Saka,” panggil suara lain di belakang mamanya. Saka menoleh, dan mengangguk pada mamanya untuk melepaskannya. “Iya, Kakek,” jawabnya sambil melangkah menuju lelaki tua yang duduk di kursi singel berlengan itu. Kursi tetapnya sebagai kepala keluarga yang sangat disegani oleh semua anggota keluarga. Langkah Saka berhenti sebentar saat ia melihat seorang perempuan yang berjalan dari arah dapur ke arah kakeknya duduk juga. Matanya memicing. Tapi ia tetap pada tujuannya, menunduk berlutut di depan kakeknya, meraih tangan kanan berkeriput itu lalu mencium tangannya hormat. “Kakek,” sapanya setelah melepaskan tangan itu lalu kembali berdiri. “Ada yang mau kakek bicarakan dengan kamu dan Amara.” Tatapan Saka kembali melirik perempuan yang sudah sampai di sampingnya. Perempuan tinggi, dengan tubuh langsing, memakai kebaya kutubaru berwarna lilac dan trousers putih. Rambut panjangnya yang berwarna hitam digelung sederhana di belakang kepala. Amara yang seumuran dengan Nalika, adiknya. Amara yang adalah sepupunya dari kakak papanya yang sudah meninggal. Amara yang entah kenapa selalu membuatnya tidak nyaman berdiri di sampingnya. “Kakek mau memilih antara kamu atau Amara, yang bisa meneruskan Wise Corp. Menggantikan Kakek.” “Papah,” Indi berseru kaget di belakang Saka. “Kakek?” Amara ikut kaget. Sedangkan Saka diam mematung di tempatnya. Sama kagetnya. -o0o-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD