Part 11

1304 Words
Gadis berbola mata belo tersebut baru saja pulang dari sekolah. Meski jam sudah menunjukan pukul lima sore, namun ia baru saja pulang. Saat hendak masuk rumah, suara barinton pria berumur hampir enam dekade tersebut terdengar di telinganya.            “Salam dulu sebelum masuk rumah. Di ajarkan sopan santun tidak kamu!” bentaknya padahal Meesa baru saja hendak mengucapkan salam tadinya.            “Assalamu’alaikum, Kakek? Waahhh ... Kakek udah pulang?”            “Wa’alaikumussalam. Ingat Lavanya, kamu hanya numpang di sini. Setidaknya bersikaplah sopan dan santun.”            “Iy ... iya, Kek,” gagap Meesa menunduk takut.            “Jangan iya-iya saja. Jam berapa ini kamu baru pulang! Jangan mentang-mentang ayah dan ibumu tidak ada, kamu bisa bebas.”            Meesa menduduk takut, “maaf Kek, hari ini Lavanya ada bimbingan olimpiade karena minggu depan olimpiadenya di mulai.”            “Alasan saja! Memang ada murid baru yang ikut olimpiade? Kamu dari main kan? Jakarta memang bebas Lavanya, tapi jangan harap kamu bisa hidup sebebas itu. Kamu harus tau tata krama, apa kata tetangga jika anak gadis sepertimu pulang magrib?” omel Atreya dengan nada ketus dan penuh sindiran.            “Maaf, Kek.”            “Masuk! Setelah itu siapkan makan malam. Anwa sedang ada di rumah mertuanya sedangkan Agnia sedang ada urusan di restoran. Ekavira juga bilang malam ini dia akan menginap di apartemenya, sementara Denallie sedang sakit. Jadi, hanya kamu yang menyiapkan makan malam untuk malam ini,” jelas Atreya.            “Iya, Kek.”            “Di ajarkan sopan santun tidak kamu! Saya terangkan panjang lebar kamu hanya iya-iya saja.”            “Meesa faham, Kek. Setelah bersih-bersih Meesa akan langsung menyiapkan makan malam.”            “Ya, sana pergi.”            Meesa pun pergi ke kamarnya dengan buru-buru.. Ia tidak ingin Atreya marah kembali. Atreya merupakan kakeknya yang berprofesi sebagai seorang arsitek sekaligus seniman yang terkenal. Ia memang jarang ada di rumah, maklum jika baru saat ini dia bertemu dengan Atreya padahal sudah hampir sebulan dia tinggal.            Atreya tidak jahat, dia hanya begitu tegas dan tidak menerima penolakan apalagi bantahan. Tidak ada sedikitpun kesal atau benci di benak Meesa meski kerap kali Atreya memperlakukannya dengan kasar. Atreya tetaplah sosok kakek yang begitu ia sayangi.            Setelah salat magrib, Meesa langsung berkutat dengan alat-alat dapur. Ia sebenarnya bingung ingin masak apa. Meesa membuka isi lemari es, ada beberapa sayuran dan daging ayam. Mungkin sup ayam tidak terlalu buruk.            Satu jam lamanya Meesa berkutat dengan peralatan dapur, akhirnya selesai juga. Gadis itu mulai menata semua masakan ke mangkuk, piring, serta beberapa alas makanan lainya. Meja makan kali ini hanya berisi Kaivan, Rafa dan Rafandra serta Atreya.            Setelah menata semua makananya Atreya mulai mencicipi hasil masakan Meesa. Ia membuang piring keramik itu begitu saja, menatap tajam kedua bola mata belo tersebut.            “Kamu bisa masak gak sih?” Murka Atreya pada Meesa yang mulai meringsut takut.            “Jangan di makan, Rafandra!” peringat Atreya saat Rafandra hendak memakan masakan Meesa tersebut.            “Kamu niat gak sih masaknya? Kalau gak ikhlas bilang! Terlalu di manja dengan Elakshi bahkan masak sup begini saja tidak becus.”            “Kamu bisanya apa, Lavanya? Coba rasakan apa ini layak untuk di sajikan?” lanjut Atreya yang mendorong kepala Meesa kedalam mangkuk sup ayam panas tersebut.            Wajah Meesa memerah karena kuah panas sup tersebut, perlahan liquit bening mulai mengalir di pipi gembul itu. Wajahnya rasanya sangat panas bahkan sakit. Untung saja dengan sigap tadi matanya terpejam.            “Rasakan, Lavanya! Jangan hanya diam saja. Atau saya tidak akan mengangkat wajahmu,” suruh Atreya begitu kejam.            Dengan segera Meesa merasakan sup ayam yang baru saja ia buat tersebut. Ternyata rasanya terlalu asin. Atreya menarik kepala Meesa dengan kasar sembari menjampak rambut sebahu tersebut.            “Bagaimana? Enak? Kamu mau menyelakai saya dengan menaruh garam terlalu banyak di sup itu, hah?” sergah Atreya semakin mengeratkan genggaman rambut Meesa.            “Jawab, Lavanya! Kamu bisu?”            “Ma ... maaf, Kek. Meesa tidak tahu kenapa rasanya terlalu asin.”            Atreya terkekeh sinis, “Kaivan, ambilkan garam di dapur.”            Kaivan pun menurut, ia bergegas mengambil garam dan memberikanya pada Atreya.            “Buka tutupnya.”            “Untuk apa, Yah?” heran Kaivan.            “Buka saja.”            Kaivan pun menurut, Rafa dan Rafandra terkejut saat Atreya menumpahkan hampir setengah toples garam ke mulut Meesa. Tangan kriput Atreya masih belum melepas jambakanya, sementara tangan satunya lagi ia gunakan untuk menumpahkan garam tersebut ke mulut Meesa.            “Bagaimana rasanya? Telan Lavanya, jangan di buang,” seru Atreya tak punya hati.            Mau tak mau Meesa menurutinya, kepalanya rasanya sangat sakit dan mulai pusing karena jambakan Atreya yang begitu kuat. Rasanya rambutnya ingin lepas semua atau bahkan kepalanya seperti ingin putus dari leher.            “Maa ... maaf, Kek. Lavanya gak tau kalau supnya telalu asin. Lavanya buatkan lagi ya?” tawar Meesa tergagap menahan perih di wajahnya serta rasa asin yang menjadi pahit menjalar di tenggorokanya.            “Saya sudah tidak nafsu gara-gara kamu. Kaivan, pesan saja makanan delivery,” suruh Atreya pada Kaivan kemudian pergi meninggalkan meja makan begitu saja.            Meesa bersimpuh, rasanya sangat sakit dan perih. Terutama bagian kepala serta wajahnya, sungguh ia tidak tahu bahwa sup barusan begitu asin. Setaunya rasanya tadi tidak seperti itu.            Kaivan berjongkok di hadapan Meesa. “Gimana Lavanya Meesa? Sakit?” bisik Kaivan begitu lirih.            Kaivan menendang Meesa tak punya hati, kemudian meninggalkan gadis itu begitu saja. Rafa dan Rafranda diam melihat semuanya, tidak ada pembelaan dari mereka. Bukan apa-apa, mereka hanya takut menjadi sasaran kekasaran Atreya jika mereka melawan.            Rafandra yang merasa iba, ia berjalan membawa lap untuk membersihkan bekas air sup di wajah Meesa. Rasanya sangat kasihan, melihat kakak sepupu perempuanya tersebut terluka tanpa bisa melakukan apapun.            Ia jadi teringat pesan Denallie tempo lalu.            “Rafa, Rafandra, Radhika, kalian harus jaga Lava ya? Walaupun dia kakak kalian, tapi Lava tetaplah perempuan. Nenek yakin Lava sangat sayang ke kalian, maka jagalah Lava sebesar rasa sayang dia ke kalian.”            Hati Rafandra mencelos mengingat pesan Denallie saat Meesa akan datang ke Jakarta. Mereka tahu bahwa kakak sepupunya tersebut merupakan gadis yang sangat baik dan lugu.            “Kak, perlu bantuan?” tanya Rafandra membantu Meesa hendak bangkit.            “Maaf Fandra, gara-gara aku masak keasinan kalian gak jadi makan,” sesal Meesa meminta maaf.            “Gak apa, Kak. Biar Rafa dan Fandra bantu Kak Meesa bersihin ini,” timpal Rafa yang sudah cekatan membersihkan meja makan.            “Gak usah, Rafa. Nanti kakek akan marah kalau kamuu bantuin aku. Kalian ke ruang tengah saja nunggu makanan deliverynya datang,” tukas Meesa.            “Masih lama juga, Kak. Kita bantu Kak Meesa dulu, kasian Kak Meesa pasti udah capek masak ini semua. Tapi ayamnya ini enak kok, Kak,” ujar Rafandra sembari mencomot satu ayam goreng buatan Meesa.            “Jangan di makan, Fandra. Nanti kamu bisa kena marah kakek,” larang Meesa saat melihat Rafandra memakan ayam tersebut.            “Gak papa, lagian ayam ini enak kok.”            “Emm ... Kak,” panggil Rafa nampak ragu-ragu.            “Iya, Raf?”            “Aku yakin sup buatan Kak Meesa itu aslinya enak. Tadi aku lihat Kak Kaivan ke arah dapur saat Kak Meesa lagi nata piring di sini. Kayanya sup Kak Meesa di sabotase sama Kak Kaivan,” beber Rafa mengingat tadi saat ia hendak mengambil minuman dingin, ia melihat Kaivan tengah di dapur.            “Hush, jangan suudzon. Mungkin Kak Kaivan lagi ambil minum? Atau mau makan apa gitu. Ini emang kesalahan ku, kayanya aku terlalu banyak kasih garam,” balas Meesa berpositif thingking.            “Kenapa Kak Meesa tetap belain Kak Kaivan padahal Kak Kaivan selalu jahat pada Kak Meesa?” heran Rafandra. Pasalnya Meesa kerap kali terlalu naif.            “Gak ada orang jahat di dunia ini, Fan. Udah jangan di bahas. Ini murni kesalahan aku. Nanti aku akan belajar masak lagi.”            Baik Rafa maupun Rafandra terdiam, Meesa memang sosok yang begitu baik. Ia sangat bijak dan tidak pernah marah. Sebesar apapun kesalahan orang lain, Meesa akan memaafkanya dan berusaha melihat dari sisi lainya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD