Cahaya mentari pagi yang menyusup masuk melalui sela-sela jendela kamar telah membangunkan Selina dari tidurnya. Ia menggeliat kecil dan mengernyitkan keningnya. Kedua kelopak matanya terasa sangat berat untuk dibuka. Kepalanya berdenyut hebat seperti ada suatu beban berat yang menghantamnya. Selina kembali memejamkan matanya. Memutuskan untuk tidur kembali, tetapi ia merasakan ada sepasang lengan yang sedang memeluk pinggangnya dengan erat. Akhirnya ia membuka kedua matanya dengan enggan dan menoleh ke samping. Kedua netranya mengerjap berulang kali. Memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Ia mendapati sesosok pria yang sedang terlelap di sebelahnya. Perlahan bibirnya terbuka syok ketika mengetahui siapa sosok pria itu. Selina mengerutkan bibirnya dengan masam, lalu menggeser

