No Voice 10

885 Words
Dering ponsel mengusik tidur David. Dengan mata mengantuk ia coba angkat panggilan tersebut tanpa membaca nama si pemanggil. "Pagi Sayang... apa tidurmu nyenyak?" Hanya mendengar suaranya mampu membuat David tersenyum. Cecilie meneleponnya sepagi ini. "Nyenyak sekali, sampai aku bermimpi mendapat ucapan selamat pagi dari bidadari." Cecilie terkekeh begitu mendapat gombalan dari David. Tak menyangka laki-laki yang pada awalnya ia kira hanya dapat bersikap datar kini berubah layaknya playboy di luar sana. Kemajuan pesat untuk hubungan mereka. "Berhentilah menggodaku. Cepatlah bersiap karena kau memiliki pekerjaan pagi ini." "Tentu. Aku akan bersiap. Ah, andaikan kau bukan anak dari Tuan Stuart pastilah kau ku angkat menjadi sekertaris pribadiku." "Kau betul, andai aku tak memiliki peran penting di perusahaan Ayahku, tentu aku akan dengan senang hati menjadi sekertarismu. Dan melayani segala kebutuhanmu Sayang." "Aku yakin kau pasti bisa diandalkan." *** "Hahaha dasar gadis cacat!" "Cara bicaranya seperti kera. Ha hi hu uu aa." Tawa-tawa mengejek memenuhi pendengarannya. Sampai sebuah suara keras menghentikan semuanya. Mengusir orang-orang yang sejak tadi mengusiknya. "Alanis, kau tidak apa-apa?" Alanis mendongak lalu menggeleng pelan. Nafas Nick terdengar memburu setelah memarahi teman-teman mereka yang mengejek Alanis. "Mereka sudah pergi," ucapnya begitu tubuh Alanis luruh ke lantai. Gadis kecil itu memilih duduk diam di atas lantai yang berdebu. Nick menarik nafas pelan. Ia tahu Alanis butuh ketenangan setelah kejadian buruk yang menimpanya. Salah satu kebiasaan gadis itu yang mulai Nick hafal. "Jangan takut. Aku akan memberi mereka pelajaran jika masih berani mengganggumu." Ucap Nick sungguh-sungguh. Meskipun umur mereka hanya terpaut beberapa bulan tapi Alanis lebih layak ia anggap seperti adiknya sendiri. "Terimakasih..." senyum tulus terukir di bibir Alanis. Nick menatap bangga pada majalah bisnis yang ia pegang. Sebuah artikel yang memberitakan tentang David Matthew. Walau tak pernah bertemu secara langsung, namun ia ikut bahagia mengetahui bahwa sahabat yang sudah ia anggap sebagai adik mendapatkan seorang pasangan yang layak. Nick berharap dengan status sosial David saat ini tidak akan membuat Alanis terbebani. Cukup sudah sejak dulu ia melihat Alanis selalu terdiskriminasi karena kekurangan yang ia punya. Tak bisa banyak melawan karena kebanyakan dari mereka adalah anak laki-laki yang meski sudah ia tegur dan marahi tetap mengambil kesempatan untuk mengolok-olok Alanis saat gadis itu terlihat sendiri. Jika dipikir-pikir, sudah lama ia tak bertemu dengan Alanis. Terakhir kali mereka berkomunikasi adalah ketika Alanis menghubunginya ketika wanita itu mengabarkan kehamilannya. Mengambil ponsel, Nick mengetikkan sebuah pesan untuk Alanis. "Alanis, apa kau memiliki waktu luang?" Tak perlu waktu lama untuk membalas Pesan dari Nick. Alanis langsung mengetikkan balasan untuk sahabatnya itu. "Ada apa? Kau ingin menemuiku?" Nick tersenyum karena Alanis dapat menebak lebih dulu apa yang ingin ia lakukan. "Aku ingin mengajakmu ke taman kota nanti sore. Hanya berbincang-bincang sebentar." "Baiklah kalau begitu. Aku akan datang Nick." "Akan ku tunggu kau disana. Jangan lupa minta izin dulu pada suamimu." Suami? Tanpa Nick tahu, di tempatnya Alanis tersenyum miris. David tidak akan perduli apapun yang ia lakukan. *** "Sudah lama menunggu?" Alanis tersenyum seraya menggeleng. Bahagia melihat cengiran di wajah sahabatnya. "Kau pulang lebih awal?" Nick mengangguk, "hari ini pekerjaanku selesai lebih awal. Kau baik-baik saja? Apa kandunganmu sehat?" "Ya, aku dan kandunganku sehat." Hampir satu jam berlalu, Alanis dan Nick benar-benar menghabiskan waktu mereka untuk membicarakan banyak hal. Saking serunya obrolan mereka hingga mengundang tatapan ingin tahu dari orang sekitar, Nick dapat menangkap beberapa pasang mata yang memperhatikan Alanis. Bahkan terang-terangan memberikan tatapan aneh begitu melihat gerakan tangan Alanis. "Alanis," "Ha?" Alanis mendongak menatap Nick yang sibuk mengerutkan dahinya. Nick lalu mengarahkan Alanis untuk melihat ke arah yang sedari tadi ia perhatikan. "Bukankah itu suamimu? Sepertinya ia bersama seseorang." "Tidak... kau pasti salah lihat Nick. David tidak mungkin ada di tempat ini." Nick memperhatikan bahasa isyarat Alanis. Ia mengerti apa yang Alanis sampaikan padanya namun ia tetap merasa kalau laki-laki yang ia lihat adalah David. Bahkan baru tadi pagi ia membaca berita tentang suami sahabatnya itu. Nick terus memperhatikan seseorang yang ia curigai sebagai David hingga orang itu masuk ke dalam mobil dan pergi bersama seorang wanita. Alanis menyentuh lengan Nick. Ia tak ingin Nick sadar bahwa hubungannya dan David tidaklah seperti pasangan suami istri umumnya. Ia tahu bagaimana perangai sahabatnya, Nick akan melindunginya dari apapun. Termasuk dari David jika Nick tahu bahwa David tidaklah memperlakukan ia seperti janjinya di depan Tuhan. "Langit sudah semakin gelap. Aku harus pulang." "Aku antar." Nick berdiri dan berjalan di samping Alanis. "Jangan sungkan padaku, jika kau ada masalah. Kau tidak pandai menutupinya Alanis. Aku percaya kau bisa mengatasi masalahmu sendiri, tetapi jika kau sudah tidak bisa menahannya lagi, ceritakanlah padaku." Pinta Nick sungguh-sungguh. Alanis menatap Nick dari samping, laki-laki itu tetap menatap lurus ke depan. Alanis tak akan pernah lupa bahwa di saat terberat pun Nick adalah orang pertama yang mengulurkan tangan ke arahnya. Andai ada kata lebih dari terimakasih, tentu ia akan sampaikan kepada sahabatnya ini. . . . . . . . . . Jangan lupa tap love dan komen❤ No Voice part 11 dan seterusnya bisa dibaca di KBMApp atau W*ttp*d ya^^ Untuk W*ttp*d kalian bisa buka lewat browser tanpa download apkikasi (search dikolom pencarian google, dengan kata kunci 'No Voice Ratuqi') Untuk KBMApp Caranya, kalian bisa download Aplikasi KBMApp di Playstore setelah itu kalian tinggal search cerita ini dengan judul: "Pernikahan Wanita Bisu (No Voice)" penulis:RatuQQ . . . Okee.. selamat membaca kisah Alanis dan David di sana gaisss^^ byebye~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD