"Biarkan aku keluar," pintaku pada Irene sambil memutar gagang pintu. "Jangan Mbak, biar aja mereka, jika suami mbak udah kayak gitu sikapnya, artinya memang gak cocok diperjuangankan lagi." "Dia nahka tidak berpikir untuk mencariku," ujarku yang meluncur jatuh terduduk di lantai aku menangis sambil memeluk lutut sendiri. "Aduh, aku gak tahu harus bilang apa, tapi kumohon, Mbak harus sabar dan bangkit untuk buktikan bahwa Mbak bisa tanpa mereka, suami dan sahabatnya Mbak." "Aku terluka sekali," keluhku menangis. "Tentu, tentu saja ... Aku bisa mengerti, tapi ... Ayo bangun, aku akan antar Mbak ke kamar," ajaknya dengan lembut. * Kucoba untuk memejamkan mata, berpikir bahwa apa yang terjadi pada istri sah berbanding terbalik dengan pelakor yang kini bergelayut di ranjang asmara. Sa

