20

1089 Words

"Tunggu, Ariska, Maaf, tadi aku hanya bertanya," ungkapnya menahan lenganku. "Menuduh dalam pertanyaan, kan, Mas?" "Mungkin pemilihan kata yang salah," ujarnya pelan. "Mungkin iya, dan maaf aku terlanjur tersinggung, lepaskan lenganku," jawabku sembari menyapu air mata untuk terakhir kalinya. Aku naik ke lantai tiga, menutup pintu dan sekali lagi mengemas tangis yang masih tersisa. Irene yang melihatku datang dengan air mata, hanya menatap miris dan mendekat. "Aku udah cegah, makanya mbak gak usah turun," ujarnya datang dan menepuk bahuku pelan. "Aku hanya ...." Aku mendongak padanya dengan deraian air mata. "Ya, aku paham, masih ada nilai kasih sayang yang tertinggal dalam hati Mbak terhadap Mbak Bella, tapi, kini semuanya udah beda," jawabnya lirih. Kutatap wajah Irene yang iba,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD