Sepuluh menit telah berlalu dan teh dalam gelas mug di genggaman Dami tak lagi hangat. Sebenarnya Dami bisa membuat lagi tehnya, namun ia memutuskan untuk tidak melakukannya. Api unggun sudah cukup sebagai penghalau udara dingin malam hari baginya
Ia memandang kekejauhan pada mulut hutan di depannya. Tak terlihat tanda-tanda keberadaan satu makhluk pun kecuali kegelapan dan sepoi-sepoi angin malam.
Mereka pasti sedang bersenang-senang, pikir Dami.
Jika dia masihlah seorang Vampir, apakah Jadrian akan mengajaknya mengelilingi hutan Lembah? Pastilah hal itu bagaikan permainan saja bagi Vampir. Namun menakutkan bagi seorang manusia.
Dami menghela nafas. Sesaat ia berpikir ada rasa sesal dengan perubahannya. Namun, jika ia harus memilih dengan pikiran terbuka, tentu ia tidak ingin kembali menjadi Vampir. Ada hal-hal yang membuatnya merasa nyaman dengan dirinya yang sekarang. Seperti rasa hangat api unggun. Vampir tak pernah merasakan rasa hangat.
Ia berdiri, meregangkan tubuhnya sesaat, lalu memilih tempat untuk membaringkan diri ke atas rerumputan lembut yang melapisi bumi. Ia mengerang nyaman. Dalam posisi ini ia bisa melihat langit malam secara luas. Bulan separo bersinar terang, ditemani kelap-kelip bintang-bintang. Sayangnya ia tidak hapal formasi-formasi para bintang. Kalau Jadrian, si Vampir tentu hapal gugus bintang. Jadrian bisa mempelajari apa saja. Entah apa yang tidak bisa Jadrian lakukan. Sayangnya sesempurna apa pun yang bisa dilakukan Jadrian, Vampir hanya bisa hidup dalam bayang-bayang.
Embusan lembut angin malam dengan hangatnya api unggun membuat Dami mulai mengantuk.
Benar kata Topaz, ia telah menjadi gadis si tukang tidur.
Rasa kantuk semakin menggelayuti dirinya, entah beberapa detik sepertinya ia sempat terlelap.
Bunyi injakan rerumputan menyentaknya. Seketika Dami bangkit duduk. Ia mengerjapkan mata, waspada. Rasa kantuk telah lenyap begitu saja.
Suara apa itu?
Apakah mereka sudah kembali?
Namun tidak terlihat siapa-siapa di dekatnya, selain seekor hewan berkaki empat yang berdiri tak jauh dari tempatnya.
Sesaat Dami hanya membelalakan mata memandang hewan yang tertutupi bayang-bayang itu. Akhirnya ia bergerak berdiri dengan gerakan perlahan, mencoba mendekat.
"Rusa?" Dami berbisik tertahan setelah ia mencapai batas di mana ia dapat mengenali bentuk hewan itu.
Karena masih sangat penasaran, ia bergerak maju lagi, menginjakkan kakinya dengan hati-hati di atas rerumputan, berharap rusa itu tidak akan menyadari pergerakannya. Rusa dikenal sebagai hewan yang sensitif. Mereka dapat meloncat pergi jika mendeteksi bahaya mendekati mereka.
Tapi aku tidak bermaksud jahat kepadanya, bisik Dami dalam hati.
Ia berhenti ketika jaraknya sudah cukup dekat untuk dapat melihat bentuk rusa itu dengan jelas di bawah sinar bulan. Rusa itu sedang merumput, dan ketika ia mengangkat kepalanya, Dami melihat pita merah di leher si Rusa.
"Oh!" Dami nyaris memekik, namun ia segera menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan.
Rusa perburuan?!
Dami menoleh ke arah mulut hutan. Tak terlihat gerakan yang menunjukkan kehadiran salah satu dari para makhluk malam, kawan-kawannya, yang sedang asyik menjelajahi hutan demi seekor rusa.
Jangan-jangan mereka tidak tahu jika rusa itu di sini, pikir Dami. Apakah aku harus memanggil mereka?
Dami bergelut dalam pikirannya sendiri hingga akhirnya si rusa meloncat pergi.
"Ah, tidak!" seru Dami. "Jade!" serunya sambil berlari mengejar rusa menuju ke mulut hutan.
"Jade! Rusanya di sini!
--
Dami berhenti ketika ia sudah berlari masuk ke dalam hutan. Sementara si rusa terus berlari dengan gesit, meninggalkannya, kemudian lenyap ke dalam kegelapan hutan.
Dami menyadari jika seharusnya ia tidak berada di sini. Ia harus kembali.
Dami berbalik namun tubuhnya menegang ketika ia mendengar suara tapak kaki tanah di dekatnya. Ia menoleh waspada.
"Jade?" bisiknya tertahan. Namun hening. Ia mulai kedinginan karena udara malam. Ia menyesal meninggalkan lingkaran api unggun yang nyaman.
Ia berbalik ke arah sumber suara. Nafasnya berembus gugup membentuk kepulan uap di udara. Ia bisa merasakan keberadaan seseorang di dekatnya.
"Topaz? Apakah itu kau?"
Ia berharap hanya Topaz yang sedang mengamatinya. Biasanya begitu. Tapi jika orang itu Topaz, seharusnya ia sudah mendengar sahutan pria bersuara bariton itu.
Hening.
"Victor?"
Dengan bodohnya Dami menuduh Victor. Mungkin saja serigala Victor sedang mencoba mempermainkannya dengan diam-diam mengamatinya, seperti predator yang sedang mengawasi mangsa.
Tetap tidak ada sahutan.
Keheningan terasa janggal. Tak terdengar suara hewan apa pun, bahkan serangga. Udara mendingin namun tak berangin.
Dami menoleh ke sekitarnya. Ia menyadari jika ia telah kehilangan orientasi sekitarnya. Pepohonan bagaikan sekelompok kembar yang mengelilinginya. Ia lupa dari mana arah ia datang.
"Dami..."
Dami tersentak mendengar panggilan itu. Ia menoleh ke sekitarnya dengan panik. Bisikan itu sangat jelas seperti berbisik di dekat telinganya.
"Si... siapa?!" Dami berseru, suaranya bergetar ketakutan. "Siapa di sana?!"
Lalu terlihat sosok gelap, bertubuh jangkung, muncul di antara pepohonan.
Dami yang ketakutan segera berbalik lalu berlari. Ia belum sempat melihat sosok itu dengan jelas, namun rasa takut menguasainya lebih dulu. Ia terus berlari tanpa tahu arah.
--
Dami terus berlari. Napasnya terengah-engah, dadanya mulai terasa sesak untuk mengumpulkan udara selama berlari. Kecepatan berlarinya mulai berkurang, sementara pepohohan tak habis-habisnya menyelimutinya, padahal ia sangat ingat jika ia baru beberapa langkah saja ketika memasuki hutan.
Keseimbangannya mulai tak terkontrol, sebelah kakinya terselip di antara bonggol akar pohon yang timbul, ia terjungkal ke tanah. Dami mencoba bangkit namun pasang kakinya terasa sangat lemah. Ia hanya bisa terduduk. Ia menoleh, kemudian membelalakan mata ketika melihat sosok jangkung itu telah berdiri tak jauh dari tempatnya berada. Ia tak mampu bergerak lagi.
Sosok itu melangkah maju hingga rambut emasnya yang panjang tertimpa cahaya bulan. Namun bulan tak berhasil menyinari wajah sosok itu yang disembunyikan kegelapan.
"Si...siapa?" Bisik Dami, suaranya serak karena kelelahan berlari.
"Dami, akhirnya kita bertemu." suara pria itu terdengar lembut dan indah, berbisik seperti tepat di samping telinga Dami.
Dami bergidik mendengarnya.
"A... apa aku mengenalmu?" tanya Dami, tergagap.
Pria itu menjulurkan sebelah tangannya. Jemarinya yang panjang dan pucat tertimpa cahaya bulan.
"Ikutlah bersamaku, Dami."
Dami menggelengkan kepalanya. Ia menyeret tubuhnya ke belakang.
"Dami..."
Sosok itu mendekat.
"TIDAK!"
--
Jadrian bersuit. Dan tak berapa lama satu persatu kawan-kawannya berdatangan. Dael lebih dulu, baru kemudian Solaris dan Topaz yang datang nyaris bersamaan namun dari arah yang berbeda. Hanya Victor yang belum terlihat kemunculannya.
"Wah," komentar Topaz, terkejut memandang rusa betina yang menjadi mangsa mereka sudah tergeletak tak bernyawa dengan bersimbah darah. Sebuah pita merah kecil terlihat masih menempel di kulit leher rusa itu yang robek.
Solaris mengendusi hewan malang itu, ekspresinya menunjukkan jika rusa yang mati itu memang rusa perburuan mereka.
"Hewan buas apa yang menyerangnya?" tanya Topaz, sementara Jadrian sudah berjongkok untuk memeriksa penyebab kematian si rusa. Hanya saja gagasan hewan buas apa yang menggagalkan perburuan mereka perlu dijawab.
"Aneh," komentar Jadrian.
"Ada apa?" tanya Topaz segera.
"Tidak ada bekas cakar," Jadrian mengumumkan. "Tapi lehernya dirobek."
"Hewan apa yang bisa merobek leher rusa tanpa cakar?" tanya Topaz heran.
Jadrian mengecek robekan di leher rusa yang mati itu, seketika matanya membelalak. "Bukan hewan..." desisnya. Ia segera berdiri. "Dami..." bisiknya cemas.
--
Perburuan mereka berakhir. Jadrian dan yang lain kembali ke lokasi api unggun. Ia menemukan Dami namun gadis itu sedang tertidur di atas rumput tak jauh dari api unggun. Posisi tidur gadis itu terlihat janggal.
"Dami?" panggil Jadrian panik, menghambur mendekati Dami.
Dami berbaring menghadap ke atas, kedua kakinya terjulur rapat, sementara kedua tangannya terlipat di atas perut. Tercium aroma darah pada Dami, hal itulah mengapa Topaz mengurungkan niat untuk datang mendekat. Kedua tangan Dami sedang memegangi sesuatu. Terlihat bercak darah di sekitar tangan dan pakaian Dami.
Jadrian mengambil benda dari genggaman kedua tangan Dami di atas perut, yaitu setangkai bunga mawar berwarna hitam yang tangkainya masih berduri, dan kedua telapak tangan Dami berdarah karena tertusuk duri itu.
Jadrian tak mampu mengekspresikan keterkejutannya ketika mengenali bunga mawar hitam itu.
"Dami, oh tidak..." Jadrian mengambil sebelah tangan Dami. Ia mencabut duri yang menusuk telapak tangan Dami.
Lalu terdengar suara auman panjang. Jadrian dan Topaz menoleh ke sumber suara, yaitu pada hutan di belakang mereka. Kedua werewolf rupanya masih di dalam hutan, dan auman itu dapat dimaknai oleh para Vampir.
"Korban lainnya." Gumam Topaz, ekspresinya tegang.
Jadrian bisa mencium aroma darah werewolf terbawa angin dari dalam hutan. Sesuatu juga telah terjadi pada Victor.