Sinar matahari dan hujan adalah hal yang paling tidak disukai oleh Vampir, dan sekarang hujan turun dengan lebat setelah langit malam sempurna, sehingga Topaz terjebak di dalam klinik bersama Jadrian. Bukannya hujan itu akan membunuhnya, hanya saja para Vampir tidak suka saja tubuh mereka menjadi basah. Dan semua Vampir akan mengatakan hal yang sama.
Topaz juga tidak perlu cemas absen dari mengawasi Dami. Jadrian sudah memasang kamera pengamat di dalam apartemen. Saat ini mereka berdua menonton Dami yang baru saja selesai makan malam, kemudian masuk ke kamar. Tidak ada kamera pengamat di kamar Dami, Jadrian tahu bagaimana harus menghormati privasi Dami. Tapi ia yakin Jadrian belum memberitahu Dami tentang kamera pengamat yang dipasang.
"Tentang pelaku yang ditangkap," kata Jadrian. Mereka berdua telah menonton pernyataan Kapten Polisi yang menyelidiki penemuan dua mayat hari ini. "Apakah kau yakin orang itu pelakunya?"
Pertanyaan Jadrian sama persis dengan yang ditanyakan oleh Dami. Kakak beradik ini sungguh pasangan yang tidak mudah percaya.
"Kau pikir mereka akan menugaskan Kapten Polisi yang tidak kompeten?" tanya Topaz. Ia menahan diri untuk tidak membongkar aktifitasnya sejak pagi, yang menyebabkannya tidak dapat mengawasi Dami.
Jadrian tersenyum pada Topaz. "Aku hanya bertanya pada seorang mantan Kapten Polisi."
Topaz menyengir. "Kau tahu aku mati muda. Aku belum mendapat banyak pengalaman sebagai seorang Kapten."
"Hmm," Jadrian berputar di kursi kerjanya, sambil memandang langit-langit. "Dami tidak berhenti menyapaku hari ini."
"Oh ya?"
"Apakah dia marah padaku?"
"Soal apa?"
"Dia sangat ingin ikut dalam perburuan."
"Kenapa tidak kau perbolehkan saja?" Topaz sengaja bertanya. Setidaknya ia mencoba walau tahu Jadrian adalah orang yang sangat keras kepala, benar-benar seperti batu saja.
Jadrian berhenti berputar. Ia memberikan sorot tajam pada Topaz.
Topaz nyengir lagi mendapat sorot itu.
"Apakah kau sudah menyelidiki tentang penggalian di North Oak?" Topaz mengubah topik.
"Aksesku terbatas." jawab Jadrian. "Dan kita belum bisa berpergian. Kita baru bisa berpergian keluar kota setelah tinggal selama satu tahun di Burdenjam. Ada beberapa syarat jika memaksa ingin pergi. Tapi aku tidak ingin mengekspos diri."
Topaz mengangguk. "Itu artinya kita akan terjebak di dalam Burdenjam selama satu tahun."
"Aku khawatir para manusia mulai dapat mendeteksi kita yang tinggal di Burdenjam," kata Jadrian. "Kasus ini baru permulaan."
"Dan kuharap sebagai akhir." Topaz ingin menutupi pembicaraan.
"Ya, jika orang itu pelakunya." Jadrian mengangguk. "Aku tahu kau juga meragukan penangkapan ini. Terlalu cepat, terlalu kebetulan."
Topaz menyerah. "Hanya ada dua kemungkinan. Kepolisian Burdenjam ingin menutupi kasus ini atau pelaku sebenarnya membuat polisi menangkap orang yang tidak bersalah. Tapi yang pasti, pelakunya adalah Vampir."
"Aku pikir orang-orang di Burdenjam tidak sebodoh itu," kata Jadrian. "Apalagi dengan Neutralist yang tinggal satu atap dengan kita. Kuduga mereka meminta Neutralist menyelidiki hal ini."
"Itu juga yang kupikirkan," Topaz menjentikkan jarinya. "Astaga, Jade! Sejak kapan pikiranmu seluwes ini? Apakah ini karena kita telah bersama sejak puluhan tahun? Aku bangga padamu, kau sudah memiliki dasar-dasar seorang penyelidik selain sikap keras kepalamu."
Jadrian tersenyum seolah Topaz sedang memujinya. "Kau yang melatihku untuk dapat memikirkan segala kemungkinan. Dulu aku hanyalah Vampir bodoh."
"Kau merendah, Jade. Polisi detektif memang harus banyak belajar sebelum mereka turun ke lapangan." dengus Topaz. "Kami menyelidiki kasus kecil hingga besar. Pencopetan menuju perampokan, kemudian naik tingkat menjadi pembunuhan, selanjutnya hingga pembunuhan dengan katagori berat, p***************l. Hingga akhirnya..." ia mendadak terdiam.
"Kau teringat dengan kasus terakhirmu?" tanya Jadrian, memandang Topaz dengan sorot simpati. Topaz memang tidak pernah menceritakan persisnya kejadian yang menyebabkan Topaz berakhir dalam kematian, yang kemudian terlahir kembali menjadi Vampir. Namun ia tahu jika di luar sana ada Vampir yang masih sedang diincar Topaz.
"Seandainya aku tahu siapa Vampir laknat itu," kata Topaz. "Setelahnya pasti aku siap mati dengan damai."
"Oh ayolah..." kata Jadrian. "Jangan pergi mendahuluiku."
Topaz tergelak. "Ini susahnya terjerat bersamamu."
Jadrian tersenyum kecil. "Jadi, kau ingin pergi menyelidiki?"
"Argh, kau tahu isi pikiranku..."
"Aku tahu kau bosan. Dan kau akan tetap pergi tanpa izinku. Daripada aku bertengkar denganmu, lebih baik kita berdamai."
"Ini mengejutkan," Topaz menaikkan sebelah alisnya. Ia memandang Jadrian dengan sorot heran. Biasanya Jadrian akan melarang keras jika ia berniat melakukan penyelidikan karena itu bisa mengekspos keberadaan mereka.
"Aku merasa..." kata Jadrian. "...kita perlu tahu apa yang sedang terjadi di dalam Burdenjam jika ingin Dami tinggal dengan damai di sini."
"Oh ya... ini pasti tentang Dami," Topaz nyaris lupa pada objek terpenting mereka.
"Bisakah kau melakukannya secara diam-diam?"
"Pasti, Kapten!" Topaz menjawab dengan bersemangat, ia memberi hormat pada Jadrian "Tapi bagaimana dengan Dami?"
"Aku akan mengawasinya." Jadrian memandang layar komputernya yang menampilkan hasil tangkapan kamera pengintai secara online. Dami sudah tidak lagi keluar dari kamarnya. "Dami sedang beristirahat. Malam adalah waktunya para manusia tidur."
"Ya, dan malam adalah waktunya para Vampir berkeliaran." seringai Topaz terbit di bibir. Beruntung, hujan telah mereda. Kini malam yang dingin dan sunyi menyelimuti Burdenjam.
---
Jika ingin memulai penyelidikan, ia harus datang ke lokasi terlebih dahulu. Dan ia sudah cukup tahu di mana saja lokasi kedua penemuan mayat. Mayat pertama ditemukan di jalanan area pemukiman. Sementara mayat kedua ditemukan di bangunan yang sedang dalam perbaikan.
Topaz sudah mengunjungi kedua lokasi itu untuk kedua kalinya. Ia berhasil menyelinap dari para polisi penjaga. Kadang ia merasa nyaman menjadi Vampir, ia bisa bersembunyi dalam bayang-bayang dengan mudah. Manusia-manusia bodoh seperti para polisi penjaga yang dikirimkan tidak memiliki kepekaan tinggi sehingga ia dengan mudah berkeliaran.
Tapi ia tidak mendapatkan apa pun dari kunjungannya. Dapat disimpulkan jika kedua tempat itu hanya digunakan sebagai tempat untuk membuang mayat. Tidak ada tanda-tanda perlawanan, bahkan tetesan darah sekali pun. Lokasi penemuan mayat benar-benar bersih.
Sungguh mengherankan. Untuk apa pelakunya meninggalkan mayat di dua tempat yang berbeda?
Topaz melanjutkan kunjungannya ke lokasi tempat penangkapan pelaku. Ia melewati penjagaan dan berhasil masuk ke dalam rumah kayu. Rumah itu berbau bangkai namun tidak terlalu mengganggunya. Samar-samar tercium bau darah manusia yang sudah basi. Yeah, basi. Vampir seperti dirinya tidak akan mau mencicipi darah basi atau darah dari orang yang sudah mati beberapa jam. Darah segar adalah yang terbaik. Meminumnya selagi si mangsa masih hidup...
Topaz segera menghilangkan pemikiran sintingnya. Sudah puluhan tahun ia tidak melakukan hal b***t itu. Pertemuannya dengan Jadrian telah membuatnya tobat, meski ia perlu beberapa tahun sampai benar-benar tidak menghadang manusia bodoh di tempat gelap untuk meminum darah mereka. Sementara yang terakhir adalah sebelas tahun lalu. Dan itu adalah ketidaksengajaan, namun sempat mematahkan kepercayaan Jadrian kepadanya.
Kali ini, dia tidak ingin membuat Jadrian meragukannya.
Rumah itu terbuat dari kayu dengan papan berkualitas, namun bangunannya dibuat tidak terlalu besar. Aneh sekali. Seorang Vampir tinggal sendirian di dalam rumah yang cukup bagus. Ada banyak figura di sana. Dan jika pelakunya adalah pria dewasa dalam foto, itu artinya dulu si Vampir memiliki keluarga yang bahagia. Entah apa yang membuat si pria menjadi Vampir, dan pastinya anak dan istrinya tidak ikut menjadi Vampir karena disebutkan jika pria itu tinggal sendirian, dan fakta jika Si Vampir lolos untuk tinggal di Burdenjam, artinya Vampir ini memiliki record yang bagus sebagai Vampir.
Namun Topaz mengabaikan segala kemungkinan itu.
Ada dua lokasi yang disebut tempat pembunuhan terjadi. Satu di kamar tidur dan yang kedua di kamar mandi. Topaz memasuki kamar mandi terlebih dahulu.
Diperkirakan korban pertama meninggal kehabisan darah di dalam bak mandi. Topaz mengamati bak mandi, dan mengakui jika penemuan polisi benar adanya. Ada bekas genangan darah yang mengelilingi bak mandi. Korban pertama dibiarkan di dalam bak mandi sampai darahnya habis keluar dan merendam tubuhnya sendiri.
Topaz meninggalkan kamar mandi setelah puas memeriksa. Ia masuk ke dalam kamar tidur. Darah kering telah membentuk cetakan di karpetnya. Korban kedua meninggal kehabisan darah di sini.
Topaz berkeliling memeriksa namun ia tidak mendapatkan apa pun selain semua pernyataan yang dijabarkan oleh polisi.
Setelah mengunjungi lokasi kejadian perkara, selanjutnya adalah melihat mayat korban. Ini akan agak sulit karena ia harus masuk ke dalam tempat publik.
Topaz menuju ke rumah sakit dimana mayat diperiksa oleh bagian forensik. Ia sedikit ragu bagaimana cara agar ia dapat memiliki akses melihat kedua mayat itu. Iseng, ia mencari-cari identitas kelompok polisi yang menangani penyelidikan.
"Sean Gelsel," Topaz memilih seorang polisi yang tampak muda, cocok untuk dijadikan penyamaran. Ia langsung memasuki rumah sakit, membuat penyamaran dengan hipnotis terbaik yang bisa ia lakukan.
--
Topaz berhasil melakukan tipu muslihatnya dengan meyakinkan pegawai rumah sakit yang ia temui dengan memperkenalkan dirinya sebagai Sean Gelsel.
"Kenapa Anda ingin melihat kembali mayatnya, Pak?" Tanya petugas forensik yang mengantarkannya. "Anda baru saja melihatnya kan?"
Wah, polisi muda ini cukup aktif, Topaz sama sekali tidak menduga karena kelihatannya di foto wajah si polisi terlihat tidak begitu kompeten. Sepertinya dia perlu mengasah penilaiannya lagi.
"Aku harus mengecek lagi," kata Topaz. "Jangan sampai ada yang terlewatkan."
Si petugas forensik menganggukkan kepala, terlihat mengerti.
Mereka berdua memasuki ruang penyimpanan mayat. Si petugas forensik segera menarik keluar laci penyimpanan kedua mayat satu-persatu.
"Dilihat berapa kali pun, sangat mengerikan," kata si petugas forensik. "Keduanya meninggal kehabisan darah. Hanya meninggalkan tulang dan daging yang lembek."
Topaz mengamati mayat pertama. Seorang pria muda yang mungkin berusia di awal 30an. Tak ada tanda-tanda gigitan. Tidak ada bekas gigi Vampir dimana pun. Namun tubuh pria itu dipenuhi luka sayatan. Pastinya dia menunggu ajal dengan tubuh dipenuhi luka sayatan yang mengeluarkan darah.
Topaz beralih pada mayat kedua. Seorang wanita yang juga berusia kurang lebih 30an tahun. Berbeda dengan mayat pertama yang disayat, ada tusukan di bahu gadis itu, tusukan dari benda berrongga, mungkin selang. Darahnya disedot dengan menggunakan selang.
"Keduanya meninggal dalam waktu yang kurang lebih sama. Pembunuhan sadis." Keluh si Petugas Forensik.
"Apa ini?" Tanya Topaz, menunjuk pada dua titik kecil di pergelangan tangan pada mayat wanita.
"Oh," si petugas Forensik mengatur letak kacamatanya. "Kau sudah menanyakannya tadi." Ia memandang Topaz dengan ekspresi bingung.
"Begitu?"
Sean Gelsel benar-benar teliti rupanya.
"Ya, ini seperti tusukan dari benda tajam. Tapi kami tidak bisa mengidentifikasi benda tersebut. Darah juga keluar dari dua titik ini."
Topaz mengangguk-angguk.
Ini bekas taring Vampir yang masih muda. Pikir Topaz. Mungkin usia Vampir itu tujuh hingga delapan tahun, atau bisa lebih kurang.
Tapi tidak ada pernyataan tentang keterlibatan seorang anak kecil. Apakah Vampir kecil itu adalah putra dari si Vampir yang ditangkap?
Seandainya ia punya akses untuk melihat pelaku sebenarnya. Ia ingin tahu alasan mengapa kedua mayat itu dipindahkan ke tempat yang berbeda jika pada akhirnya pelaku dan lokasi pembunuhan sebenarnya ditemukan tak berapa lama kemudian?
Yah, sayang sekali Topaz harus mengakhiri penyelidikannya hari ini. Dia akan mencoba kemungkinan untuk dapat menyelidiki lebih jauh. Mumpung Jadrian memberikannya kebebasan. Karena kapan saja Jadrian bisa memintanya berhenti jika situasi menjadi memburuk. Yang jelas, kasus ini tidak semudah itu terselesaikan.