"Sialan! Dasar babi!" gerutu si tatto mengepalkan tangan dan menepuk ke telapak tangan satunya dengan keras berkali-kali setelah dibantu oleh temannya bangkit. Badannya yang besar membuat geli semua orang karena posisi jatuhnya jadi tampak menggelikan.
Mereka segera menyusul Kevin ke luar warung. Di luar, mereka belum menemukan Kevin berada.
"Di mana, dia? Cepat sekali anjing itu pergi," gerutu si kurus.
"Mana gelap lagi," sungut si gondrong, menoleh ke kanan dan kiri.
"Kita harus temukan dia! Jangan sampai dia lari lagi! Ayo, cepat! Mendingan kita berpencar untuk cari dia!" ujar si kurus.
"Oke!" sahut si tatto.
"Ndrong, kamu ke kanan, Kurus ke kiri, aku lurus!" tambah si tatto, seraya mengedarkan pandang.
"Siap!" sahut Gondrong dan Kurus segera berlari ke arah tugas masing-masing.
Tatto mulai berlari lurus, menyeberang jalan raya. Di sana ada sebuah pondokan kosong. Tatto perlahan mendekat dengan percaya diri. Dia melihat sekelebat bayangan melintas di dalam.
"Huh, aku tau kamu di dalam! Keluar!" teriaknya.
Namun, tidak ada jawaban, apalagi pergerakan.
"Ck, apa yang aku takutkan! Lelaki i***t macam dia, cuma dipukul sedikit saja, keok!" gumam Tatto.
Tatto mulai masuk ke dalam pondokan yang gelap. Dia menyalakan senter pada ponselnya. Mencoba menerangi tempat gelap itu. Tatto melangkah perlahan-lahan. Meski dia yakin bisa menangkap Kevin, tapi ada rasa khawatir juga di dalam ruangan gelap itu. Tiba-tiba, baru masuk ke ruang tengah, tangannya ditendang oleh seseorang dan membuat ponselnya terpelanting ke lantai.
Tatto mengerang, merasakan pergelangan tangannya sakit luar biasa. Sebuah tendangan saja membuat pergelangan tangannya serasa patah tulang. Tangan kanannya nyeri dan terasa bengkak, tidak bisa digerakkan. Sepertinya tepat mengenai syaraf tulang dan lelaki yang menendang tahu tentang tekhnik menendang.
"Siapa!" bentak Tatto di tengah-tengah rasa sakitnya. Meski sempat menduga, tapi dia tidak yakin itu Kevin karena baginya Kevin adalah lelaki yang lemah.
"Siapa? Siapa yang kamu tanya? Bukankah aku yang kamu cari?" tanya Kevin, dengan wajah mendekat ke wajah Tatto seraya menyalakan senter ponsel dia taruh di dagu, membuat jantung Tatto nyaris copot karena melihat wajah Kevin tiba-tiba muncul di hadapannya dengan cahaya senter. Tampak mengerikan seperti hantu.
"Hahaha! Katamu tidak takut apa-apa tadi? Apa kalo aku hantu, kamu takut? Wajahmu pucat!" kekeh Kevin.
Tatto mundur ke belakang, tidak lagi melihat Kevin karena senter dimatikan lagi.
"Aku sudah mati dan apa yang kamu lihat ini adalah hantuku," canda Kevin dengan niat mengerjai Tatto.
"Bohong!" sahut Tatto, mencoba waspada. Dia menendangkan kaki kanannya ke segala arah berkali-kali agar mengenai Kevin, tapi Kevin menarik kakinya dengan cepat sampai Tatto terjatuh dengan kepala mengenai lantai yang keras.
"Itu saja kemampuan kamu? Masa kamu kalah sama hantu?" tanya Kevin, berjongkok mengejek, mendekati Tatto yang mengerang kesakitan karena kepalanya sakit sekali terkena lantai. Badannya yang besar sudah jatuh dua kali hari itu.
"Huh! Kamu beraninya di tempat yang gelap!" sungut Tatto, memegangi kepalanya seraya merasakan sakit luar biasa di kepalanya.
Kevin menjejakkan kakinya ke tubuh Tatto, lalu menarik kedua tangan lelaki besar itu, menyilangnya di belakang punggung Tatto sampai Tatto menelungkup tak berdaya. Kevin menginjak kedua tangan itu, terkunci di ataa lantai. Dia menggenggam rambut Tatto dan menariknya dengan kencang. Tatto tambah mengaduh kesakitan karena sakit di kepalanya belum reda, tapi sudah ditambah dengan tarikan rambut.
"S-sakit!" jerit Tatto.
Kevin terbahak mendengar jeritan Tatto.
"Menggelikan. Badan sebesar kamu, masa bisa kesakitan? Kukira kamu cuma bisa menyiksa orang aja?" desis Kevin.
"Terus, gelap katamu? Begini rasanya aku waktu itu. Kepalaku memang sedang mengumpulkan ingatan dan gelap ingatan, sudah kalian keroyok habis! Nyaris aja aku kehilangan nyawa!" geram Kevin, tambah menarik rambut lelaki besar itu.
"L-lepakan aku," rintih Tatto.
"Hah? Lepaskan? Waktu itu aku juga memohon sama kalian seperti ini, kan? Tapi apa? Kalian malah mencemooh! Memamerkan uang seuprit itu! Membunuh orang demi uang? t***l!" maki Kevin menekan tangan Tatto sampai tambah kesakitan. Rasanya sangat nyeri di kedua pergelangan tangan Tatto karena ditekan oleh kaki Kevin.
Tiba-tiba, bunyi derap langkah dua orang yang tergesa masuk ke dalam pondok gelap itu. Tatto yang hapal dengan langkah dua orang temannya, berteriak minta tolong.
"Tolong!"
Kevin melirik ke arah suara dan hanya tersenyum santai.
"Badan doang yang gede. Menghadapi aku saja, minta tolong," gerutunya, melepaskan cengkeraman tangan di rambut Tatto dan melepas injakan kakinya.
Dua orang berdiri di hadapannya sekarang dalam kegelapan. Sinar senter dari ponsel salah satu orang itu, menyilaukan kedua mata Kevin.
"Hei! Rupanya kamu di sini, anak t***l! Awas kamu kalo lari lagi! Aku sudah lari-lari jauh mencarimu!" gertak si kurus pada Kevin.
"Lho, Tatto! Kamu kenapa malah tiduran di situ? Mentang-mentang udah nemu si bego ini? Jadi santai kamu?" celoteh si gondrong.
"Tiduran gundulmu! Buruan kalian tangkap bocah ini! Ringkus dia lalu bawa ke Tuan Andre!" pekik si tatto dengan terengah-engah menahan rasa sakit.
"Ck, tenang aja, sekali tendang seperti kemarin, dia akan lemas!" sahut si gondrong dengan congkak.
"Apalagi, aku pukuli dia! Dia nggak akan bakal bisa lari! Aku akan patahkan kakinya!" imbuh si kurus.
"Aah! Jangan banyak bicara! Buruan kalian hantam dia!" ujar si tatto.
"Hei, bocah t***l! Sini kamu, jilat dulu sepatuku! Tadi nginjek kotoran ayam waktu nyari kamu di rumah warga!" ujar si kurus mengayunkan tangan, memanggil Kevin dan menunjuk ke sepatunya.
Kevin berdecih, sungguh lelaki itu terlalu sombong dan perlakuannya menjijikkan.
"Nanti kamu sendiri yang akan menjilat kotoran itu!" gertak Kevin marah. Rahangnya sudah mengeras, ingat akan perlakuan ketiganya di perukoan kosong waktu itu. Ditambah lagi sekarang mereka merendahkannya.
"Ngomong apa kamu itu, bocil? Beraninya kamu," sahut si kurus.
Si kurus melayangkan pukulan ke arah rahang Kevin. Dia kira, Kevin akan terhuyung terkena pukulannya. Namun, ternyata tangannya sudah dicengkeram oleh lelaki yang dianggap i***t itu. Kevin memelintir tangan si kurus sampai lelaki itu mengerang kesakitan.
"Kurang ajar!"
Melihat itu dalam remang cahaya senter, si gondrong menyerang Kevin. Kevin menangkis serangan si gondrong hanya dengan satu kaki saja. Gondrong tersungkur dengan kepala mengenai batu. Kevin mengibaskan kedua tangannya yang dirasa kotor setelah menyentuh tiga manusia itu. Dia ingat Yura.
"Jadi, kalian mau menangkapku sekarang?" tanya Kevin.
Ketiganya masih diam merasakan kesakitan. Mereka tidak bisa menjawab. Bagaimana mereka menangkap lelaki yang super kuat itu?
"Masih untung aku tidak menghabisi kalian. Itu balasanku. Saranku, kalian pergi saja ke luar kota, di mana Andre tidak akan bisa menemukan kalian. Jadi, nyawa kalian aman," gelak Kevin, lalu berlalu dari hadapan ketiga lelaki itu.
Kevin cepat-cepat pergi dari tempat itu. Pasti, Yura sedang mencarinya.