Bab 3

1503 Words
Banyak gadis hamil ketika belum sah. Namun malah jadi janda saat sudah menikah.   "Abang Kenjiiii...." Panggilan kerasnya kepada anak sulungnya mulai terdengar. Daster besar serta rambut yang diuntel asal-asalan selalu menjadi kebiasaan favoritnya. Malah kadang perempuan itu dengan santainya menyusui sambil mempersiapkan menu sarapan setiap pagi. Yah begitulah kebiasaan emak-emak. Kalau sudah bergulat dengan kehidupan perdapuran pasti yang paling nyaman adalah menu daster ditambah konde cepol. Sama seperti perempuan satu ini. Dia adalah Ayami Kaiya. Atau biasanya dipanggil ibu Ami. Dia adalah perempuan yang usianya sudah terbilang berumur dengan dua anak. Kalau boleh disebutkan usianya akan memasuki 31 tahun. Anak pertamanya berusia 10 tahun. Dan yang keduanya ini berusia satu tahun. Untuk kalangan emak-emak, Ami terbilang sangat menarik. Walau tubuh moleknya hanya terbalut daster. Tapi jangan salah. Perempuan-perempuan perawan di luaran sana akan kalah dengan kemolekan tubuhnya. Paras indah wajahnya juga tidak bisa ditipu dengan celemotan bahan masakan. Ami tetap memikat dan rupawan. Namun siapa yang akan menyangka perempuan seksi dan begitu memikat ini adalah seorang janda. Janda yang statusnya mengambang seperti ikan mati di kolam. Pernikahannya harus kandas setelah 10 tahun membinanya. Katanya sih dengar-dengar mantan suaminya itu terpikat oleh perempuan-perempuan yang rela di ngangkangi dengan iming-iming handphone baru. Tapi seperti panjangnya kereta api, semua orang banyak yang kepo kehidupannya. Ami hanya menjawab dengan senyuman. Tidak menjawab benar atau salah. Karena baginya kehidupan rumah tangganya bukan untuk konsumsi publik. Mau dia bercerai pun, Ami rasa bukan urusan orang banyak. Walau mantan suaminya itu salah satu pejabat nomor satu di Indonesia. Baginya hidup akan terus berjalan, kan? Mungkin jika ada satu sampai dua orang yang tahu masalah ini, mereka akan heboh memberitahu kepada yang lainnya. Tapi balik lagi, kotoran yang mengalir di sungai aja akan hanyut. Begitupun kisah percintaan dia. Jadi. Sedikitpun dia tidak dibawa baper. Setiap harinya Ami akan menjadi ibu rumah tangga seperti yang lainnya. Dia akan memasak, mencuci, mengasuh dua jagoanya. Serta membersihkan rumah. Bukannya Ami miskin, setiap bulan pun mantan suaminya itu masih terus mengirimkan segepok uang untuk kehidupan dua jagoan mereka. Tidak dari situ saja pemasukan bulanan Ami. Dia juga bekerja sebagai dosen senior yang gajinya lumayan besar untuk kehidupan dia dan anak-anaknya. Namun lagi-lagi Ami kurang percaya jika anak-anaknya diurus oleh pengasuh atau pekerjaan rumahnya dibantu oleh pekerja rumah tangga. Dia lebih suka mengerjakannya sendiri. Selama dia masih mampu, semua pekerjaan akan dia lakukan. Apalagi kalau hatinya ikhlas dan bahagia dalam mengerjakannya, beuuuhhh ... rasanya tiada terkira. Ditambah lagi Tuhan pasti akan berikan pahala yang berlipat-lipat bagi perempuan yang berhasil membuat rumah dan isi-isinya menjadi sempurna. Karena itu, sesibuk apapun Ami dia akan berusaha untuk tetap adil. Anak adalah nomor satu baginya. Kalaupun dia sedang ada tugas mengajar pagi hari di kampus, sementara, anak-anaknya akan dititip ke orangtuanya. Atau kadang suka Ami bawa ke kampus. Biar lebih mudah mengontrolnya. Apalagi anak pertamanya ini sedang genit-genitnya. Entah turunan dari siapa, bocah 10 tahun ini sedang gila-gilanya dengan anak perempuan. Genitnya mengalahkan Ami sendiri yang seorang janda kembang. Yah, Ami sih bersyukur saja atas kelakuan anaknya ini. Mungkin saja Kenji atau yang sering dia panggil Ken adalah hasil perpaduan dia dan mantan suaminya itu. Mesum, genit, dan humoris. Kalau sudah besar nanti, Ami tidak bisa membayangkan berapa banyak anak perempuan orang lain yang diterkam oleh Ken. Tapi mau bagaimana lagi? Memang beginilah nasib punya anak laki-laki. Mau dilepas sejauh apapun tidak akan pernah hamil ketika mereka pulang. Kalau menghamili ya bisa jadi. Beda rasanya ketika menjaga anak perempuan. Setiap saat harus menjaga-jaga agar tidak ada burung yang hinggap sebelum waktunya. Balik lagi, setelah menunggu lama, anaknya itu belum turun-turun juga dari kamar untuk sarapan. Padahal sekarang ini waktu sudah hampir pukul 7, namun sepertinya belum ada pergerakan dari Kenji sedikitpun. Memang jarak sekolah dan rumah begitu dekat. Dan biasanya Ken hanya menggunakan sepedanya untuk pergi ke sekolah. Tapi ... Ami sama sekali tidak akan mengizinkan anaknya ke sekolah sebelum sarapan. Sudah sarapan saja Ken masih sering terkena asam lambung. Karena itu Ami harus selalu putar otak untuk memikirkan jalan keluarnya. "Ken ... KENJIIIII!!!" Panggil Ami menggelegar. O ... ooo ... Siaga satu! Emak-emak berdaster mulai mengamuk tanda bahaya. Biasanya kalau tidak ada pergerakan dari anaknya, emak-emak berdaster dan berkonde ini akan langsung mendatangi anaknya. Dan menyeretnya agar segera mandi. Bagaimanapun bagi Ami, disiplin adalah nomor satu. "Bunda ... Ken hari ini enggak mau sekolah." Seorang bocah laki-laki muncul masih dengan tampang jeleknya. Perempuan yang sedang sibuk didepan kompor dengan satu tangan menggendong bayi mungil, berhenti sejenak. Tubuh tingginya berbalik. Menaikkan satu alisnya. Menatap Kenji yang kadang rajin kadang malas. "Kasih satu alasan ke bunda kenapa kamu enggak mau sekolah hari ini? Kamu tahu kan Kenji sekolah itu penting. Buat masa depanmu nanti. Masa anak bunda yang gantengnya nomor 1, harus bodoh." Tutupnya seperti sindiran. Bocah yang bernama Kenji itu hanya mencebik kesal. Hampir setiap hari dia dengar bundanya selalu ceramah masalah pendidikan. Entah apa dasarnya. Tapi yang jelas Kenji tahu kalau bundanya adalah salah satu orang berpendidikan. "Ken...." Tegur perempuan itu sekali lagi. Akhirnya bocah itu kembali pasrah. Dia mengangguk, berjalan malas menuju kamar mandi untuk mempersiapkan diri ke sekolah. Sedangkan Ami yang masih berdiri di tempatnya mendadak tersenyum senang. Senakal apapun Kenji, dia masih menurut atas apa yang bundanya ucapkan. Memang harus seperti ini ketegasan yang dimiliki oleh perempuan single parent, walau badai menghadang kehidupan rumah tangganya. Namun untuk urus mengurus anak harus tetap tegar. Mau sehancur apapun kehidupan rumah tangga, di depan anak tidak seharusnya menampilkan wajah emosional penuh kesedihan. Karena bagi anak-anak, apalagi yang sedang kepo-keponya seusia Kenji, semua harus tampil sesempurna mungkin. Walau tak menutup kemungkinan terkadang Ami juga merasa hancur, serta terpuruk sendiri. Memikirkan nasib dirinya. Yang menjadi perempuan menyedihkan ditinggalkan laki-laki karena mendapatkan perempuan lebih muda. Uuhhmm ... nasib-nasib. Gara-gara ada ponsel mahal dan canggih itu semakin banyak saja kejadian yang sering terjadi seperti Ami ini. Laki-laki banyak yang tergoda 'lobang baru' dengan harga sebatas ponsel keluaran terbaru. Tanpa dinikahi. Tanpa dikasih mahar besar. Tanpa dinafkahi. Para laki-laki bisa menikmati. Tapi lihat korbannya. Bukan hanya Ami, tapi anak-anaknya juga menjadi korban. Ami coba ambil sisi positifnya. Kadang hidup memang penuh cobaan. Sekolah aja ada ujiannya. Apalagi kehidupan berumah tangga. Ketika kapal mahligai rumah tangga harus berlubang di tengah lautan pernikahan, harusnya yang dilakukan menambalnya. Bukan malah mencari kapal baru atau mencari pantai terdekat untuk berhenti. Aihh ... sudahlah. Kenapa Ami jadi ikutan baper. Perempuan itu tersenyum. Menatap anak bungsunya yang sudah ileran ke sana ke sini. Dia harus kuat demi anak-anaknya.   ***   "Nanti bunda jemput jam berapa?" "Kakak selesai jam berapa? Bunda jemput langsung," jawab Ami sekenanya. Dia sedang sibuk mengemudi? Mengantarkan Kenji ke sekolah yang jaraknya hanya 5 menit dari rumah, kalau jalan kali. "Bener ya bunda. Ehh ... tapi...." Suara rem berdecit terdengar seketika. Kata yang ingin diucapkan oleh Ken terputus karena bundanya seperti sedang melihat hantu. "Bun..." "Sudah sana turun. Bunda kebelet pengen eek," ucapnya terburu-buru. Ken yang awalnya bingung mengangguk tanda paham. Dia turun dari sepeda setengah motor ini sambil memerhatikan bundanya yang terlihat begitu gelisah. "Bunda sana buru-buru. Nanti eek di jalan lagi. Kalau cantiknya luntur bareng kotoran kan Ken yang malu." Ami melotot. Dasar anaknya satu ini kalau bicara kurang saringan. Masa iya cantiknya Ami luntur. Tidak akan mungkin!!! Ami berani jamin itu. Buktinya dia masih mampu memikat laki-laki muda. Yang rasanya mirip mangga rujak. Tidak percaya? Perlu bukti? "Bunda.... Sana pulang. Jangan gatel sama temen-temen Ken deh!" Kurang ajarrrr.. Dalam hati Ami ingin berteriak pada Ken yang tersenyum senang. Jadinya karena sudah tidak bisa menahan kekesalan, Ami mengacungkan jari tengahnya pada Ken yang sudah ngibrit lebih dulu. Awas saja kalau Ken pulang ke rumah. Habis anak itu diserang dengan ciuman dari Ami. Karena hal yang paling ampuh membuat anak kecil memohon ampun, kalau tidak digelitiki ya diciumi. Pasti akan menjerit minta ampun. DIJAMIN!! Tapi yang ternyata tak disadari Ami, sesosok laki-laki muda mengabadikan gambarnya menggunakan kamera. Kemudian dia tersenyum licik, menggelengkan kepalanya tanda tidak percaya. Ini bisa jadi senjata baginya. Begitu batin laki-laki itu. Dengan berjalan santai, dia mendekati Ami yang baru saja ingin menghidupkan sepeda kemotor-motorannya itu. "Kalau kata orang sih perempuan yang suka acungin 2 jari tengah bukan tanda dia gaul atau galau. Tapi karena sering diledeki dan jarang digauli." Ami mendadak beku. Dia hati-hati melirik ke arah sampingnya di mana suara itu berasal. Dan buuummm!! Sosok Ucca di sana. Dengan tangan memegang kamera. Wajah krenyes mirip kacang telur itu sudah membuat Ami blingsatan setengah mati. Ini bocah satu sama-sama kurang ajar seperti Kenji. Bisa-bisanya memotret emak-emak berdaster dengan konde cepolan. Belum pernah Ami ajak main 'kuda-kudaan' kali. "Maaf ya, Bapak siapa?" ucap Ami berlagak bodoh. Dia tidak peduli Ucca mau bingung, atau memasang wajah begonya yang kelewat tampan. Yang dia pikirkan bagaimana caranya kabur dari sini. Akan tetapi baru saja Ami ingin menghidupkan sepeda yang bisa menjadi motornya itu kembali. Sebuah tepukan terasa pada daster merah jambu tanpa lengannya itu. "Jangan panggil saya bapak. Karena saya belum punya anak. Tapi panggil aja saya abang, karena saya masih sibuk mencari lubang?" Apaaaaa.... Kok sekarang Ami yang kena kata-kata m***m Ucca. Biasanya kan dia ... dia ... yang berhasil menaklukan remaja beranjak dewasa ini. "Kenapa? Kaget kalau saya bisa gombal, Bu Ay? Jangan salah bu, saya punya bibit yang bisa buat ibu mengangkang sambil menjerit kalau ibu mau," ucapnya sambil mengedip genit. Tanpa menunggu jawaban Ami, Ucca pergi begitu saja. Dia merasa menang kali ini. Kapan lagi coba membuat emak-emak diam tanpa kebawelan? Siapa suruh membuat jalan menuju sarjana Ucca terhambat. Kini rasakan pembalasannya. _____ Continue. Taplove dan komen ya... aku tunggu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD