“Lepaskan.” Elvis menoleh pada Edeline yang bersuara parau. Pria itu memindai Edeline yang tertunduk gemetaran, mencermati baik-baik Edeline yang bertingkah aneh—sama seperti pertama kali mereka bertemu. Edeline sedang mengalami serangan panik! Elvis sangat yakin pada penilaiannya. Dia memang bukan psikiater, tetapi profesinya dan lingkungan kerja membuatnya bertemu dengan orang-orang yang memiliki kasus serupa dengan kondisi Edeline. Sehingga Elvis memahami meski tanpa diperjelas secar mendetail. Elvis semakin percaya diri pada penilaian itu dikarenakan Edeline yang tidak mampu memberontak. Selain wajahnya yang memucat, gadis itu tidak mampu menggerakkan lengan kurusnya di dalam genggaman tangan Elvis. “Ada yang ingin aku bicarakan.” Elvis dengan sengaja mengencangkan genggamannya. “

