Bab 7. Mencari-cari Alasan

1509 Words
Taksi yang Edeline tumpangi telah berhenti sempurna di teras depan Omega Hospital. Gadis cantik yang mengenakan outfit casual—sporty itu menyegerakan diri keluar dari taksi itu setelah membayar tarif taksi. Edeline menghela napas kasar. “Tarif taksi dari rumah itu ke rumah sakit cukup mahal! Halte bus juga sedikit jauh! Aku harus cepat-cepat cari tempat tinggal di dekat rumah sakit. Tabunganku bisa habis kalau aku tidak hidup hemat,” keluhnya. Kakinya melangkah masuk ke dalam rumah sakit dengan tujuan ruangan dokter magang berada. Dokter cantik itu berniat mengganti pakaiannya dengan pakaian medis sebelum tenggelam di IGD. Senyum cantiknya mengembang kaku ketika berpapasan jalan dengan dokter-dokter senior. Sosok mereka begitu menyeramkan direkam benak Edeline. Ekspresi mereka begitu dingin, tidak ada kesan ramah yang membuatnya berani untuk lebih lanjut menyapa. Mungkinkah itu bentuk intimidasi senioritas? Edeline menyadari diri yang belum menyapa secara baik rekan-rekan senior di rumah sakit itu. Dokter cantik itu tidak sempat menyapa dokter lainnya dikarenakan kesibukannya menyambut dan mengobati para pasien yang datang ke IGD. “Kenapa semua orang di sini galak seperti pemiliknya?” ocehnya yang melirik-lirik ke arah belakang. “Siapa yang Dokter sebut galak?” Edeline tersentak, lalu menoleh ke arah depan—di mana bisikan mengejutkan itu berasal. “Ah, Lina! Kau mengagetkanku!” Lina tersenyum tenang. “Dokter kemarin baru pingsan. Harusnya Dokter datang sedikit lebih lama.” “I’ve been much better, Lina. Selain itu aku tidak suka datang terlambat,” jelas Edeline meyakinkan. Lina berseru panjang menggoda Edeline. “Semangat Dokter patut diacungi jempol! Hebat!” Edeline berdecih sembari tersenyum tenang merespon pujian Lina. “Kau sendiri bagaimana? Kenapa kau juga datang lebih awal?” “Ah ... itu, rumahku jauh dari rumah sakit. Kemarin aku memiliki apartemen kecil di dekat sini. Tapi aku jual karena kebutuhan ekonomi dan kembali ke rumah orang tuaku,” jelas Lina yang ditanggapi manggut-manggut oleh Edeline. “Tapi aku sedang mengajukan permohonan tinggal di asrama rumah sakit ini,” lanjutnya yang membuat Edeline tertarik. “Rumah sakit ini memiliki asrama?” Edeline antusias menyambut. Lina membenarkan lewat anggukkan kepala. “Staff Omega Hospital boleh mengajukan tinggal di asrama. Kenapa? Dokter terlihat sangat tertarik?!” “Ah ... itu, rumahku juga sedikit jauh dari rumah sakit. Untuk efisiensi waktu, aku memutuskan untuk mencari tempat tinggal di dekat rumah sakit,” ujar Edeline beralasan. “Kalau begitu setelah pulang nanti kita bisa mengajukan langsung, Dokter Edeline! Kita hanya perlu menyerahkan id card kita untuk didaftarkan ke akses masuk asrama. Aku dengar hanya tersisa beberapa kamar karena banyak staff rumah sakit yang memutuskan tinggal di sana.” Lina memberikan saran. Wajah Edeline berseri cantik ketika batin merengkuh kelegaan pasca menemukan jalan keluar dari permasalahan tempat tinggal. Selain itu, di dalam hati Edeline berterima kasih karena pagi itu bermula pada sesuatu hal-hal yang baik. “Kalau begitu, ayo kita segera ke IGD, Dokter!” seruan ajakan Lina membuyarkan lamunan Edeline. “Aku ingin mengganti pakaian terlebih dahulu. Kau duluan saja, Lina.” Dokter cantik itu mengulas senyuman manis kepada Lina yang berlalu pergi. Dan tanpa membuang waktu Edeline bergegas ke ruangannya untuk mengganti pakaiannya. Hanya bermodal Id card Edeline akan mendapatkan tempat tinggal gratis. Di dalam pikirannya, Edeline sudah menyusun strategi menabung dan hidup hemat sampai tujuannya untuk melanjutkan ke jenjang spesialis tercapai. Sayangnya, senyuman manis di bibirnya memudar ketika Edeline merogoh-rogoh tas miliknya. Gadis cantik itu memucat kaku di depan pintu akses—di mana di dalam sana terdapat salah satu ruangan Edeline. Id card itu sangat penting bagi Edeline. Selain nanti akan dipergunakan untuk meminta izin tinggal di asrama, Id card itu merupakan akses utama bagi Edeline masuk ke ruangan-ruangan penting di rumah sakit itu. “Aku tidak pernah membongkar tas ini saat di rumah! Aku hanya mengambil handphone-ku saja!” Edeline mengoceh panik saat merogoh-rogoh tas miliknya. Gadis cantik itu terpaku sejenak. Akhirnya, dia menyadari di mana keberadaan Id card yang dicari-cari. Edeline yakin sepenuh hati jika id card itu terjatuh di ruangan Elvis. Gadis cantik itu mengingat dengan jelas. Sebelum dia tidak sadarkan diri, id card itu masih bergantung di leher. “s**t!” Edeline mengumpat kesal. “Dari semua tempat, kenapa harus terjatuh di sana?” sambungnya yang frustrasi. Sumpah demi apapun, Edeline tidak mau terikat masalah baru dengan Elvis. Kejadian kemarin-kemarin saja sudah cukup menguras emosi dan tenaga Edeline. Tapi kenapa malah kesialan datang bertubi-tubi seperti ini? Saat itu, pikirannya menemukan solusi cerdik yang menyelamatkan dirinya. Edeline bisa saja meminta bantuan Abraham dan menceritakan permasalahan yang dihadapi. Akan tetapi, Edeline sangat tahu malu. Abraham sudah banyak membantu dirinya. Sehingga dia tidak akan menggunakan solusi itu untuk terlepas dari permasalahan itu. Edeline menghela napas kasar ketika opsi solusi lainnya telah memenuhi pikiran. Ekspresi wajahnya terlihat sedikit menderita. Sebab, dengan terpaksa Edeline datang menghadap kepada Elvis dengan sikap lembut—tak seperti kemarin-kemarin. “Yang terpenting id card itu aku dapatkan! Persetan dengan dia nanti yang akan mengejekku!” ucap Edeline meyakinkan hati sembari melangkah pergi. Edeline sudah mantap berjalan menuju ruangan Elvis. Sepanjang perjalanan menuju ke sana, gadis cantik itu tidak henti-hentinya untuk menghibur diri yang sangat tidak rela merendahkan diri. Langkah kakinya terhenti. Bibir mungilnya membentuk senyuman ketika berhadapan dengan seorang pria yang baru keluar dari ruangan Elvis—yang diyakini adalah sekretaris Elvis. “Aku ingin bertemu dengan Dokter Elvis.” Pria itu memindai Edeline dengan mata tajam. “Anda—” “Aku Edeline—dokter magang yang kemarin baru masuk. Dokter Elvis adalah dokter pembimbingku. Ada hal yang ingin aku sampai kepada Dokter Elvis mengenai pasien,” sela Edeline yang terburu-buru beralasan. “Silakan masuk! Beliau ada di dalam,” ucap pria itu dengan nada dingin mengizinkan Edeline. Ada aura dingin yang tak nyaman Edeline rasakan dari sekretaris Elvis sehingga dia tak menunda-nunda angkat kaki. Sementara batinnya menggerutu, kenapa hampir semua orang di rumah sakit itu sangat dingin dan menyeramkan? “Halo, Dokter Elvis,” Edeline berseru lembut ketika membuka pintu ruangan. Keheningan membentang, seolah seruan lembut Edeline tidak membutuhkan balasan apapun dari pria yang duduk tenang di sofa. Di mana—pria berkemeja putih itu sedang menikmati secangkir kopi beserta selembar roti panggang di atas meja. Mata Edeline tertarik pada setelan jas beserta kemeja yang menggantung di stand hanger—tidak jauh dari Elvis duduk. Di dalam hati dia pun menerka-nerka, pria itu menginap di ruangannya? “Apa kepentinganmu datang menemuiku pagi-pagi seperti ini, Dokter Edeline?” Elvis menegur Edeline yang tersentak dari lamunannya. “Oh ... itu, ada yang ingin aku bicarakan.” Edeline setengah gugup, pun setelahnya langsung berjalan mendekati Elvis yang acuh. “Apakah itu urusan pekerjaan?” Elvis bersuara tenang, sementara matanya tertuju pada iPad yang di tangannya. “Aku ingin terima kasih untuk pertolonganmu kemarin saat aku pingsan.” Edeline bersuara dengan nada agak tertekan. Elvis mematung sejenak, tetapi tak lama setelah itu matanya telah terangkat menatap Edeline yang berdiri dengan gugup. “Itu bukan urusan pekerjan,” ucapnya dingin. “Aku tahu, aku hanya ingin berterima kasih.” Elvis terkekeh mengejek ketulusan Edeline yang setengah mati dilakukan. “Dokter Edeline ... Dokter Edeline. Sebelum datang ke sini, harusnya kau tahu akan berhadapan dengan siapa?! Aku adalah managing director rumah sakit ini. Aku juga dokter pembimbingmu. Menurumu, apakah pantas menemuiku dengan pakaian santai seperti itu? Aku ini bukan temanmu! Yang bisa seenak jidat kau temui dengan tidak sopan seperti ini! Kau sedang berada di ruang lingkup pekerjaan. Jadi, bersikaplah dengan profesional!” Elvis menyebalkan! Edeline mengumpat di dalam hati. Tetapi wajahnya tetap berusaha tidak menunjukkan gambaran di dalam hati. Bagaimanapun, Edeline harus kuat mental menghadapi Elvis demi mendapatkan kembali id card miliknya. “Aku minta maaf.” Elvis kembali terkekeh mengejek ketulusan Edeline. “Jujur saja padaku, apa yang membuatmu bersikap aneh? Sampai kau terburu-buru ke sini dengan membawa tas. Apa mungkin efek pingsan kemarin? Maka dari itu kau berubah drastis seperti ini?” Arrgghh, pria menyebalkan! Batin Edeline sudah menjerit kesal atas perlakuan menyebalkan Elvis. Dan seperti sebelumnya, Edeline berusaha membujuk hati untuk sabar. “Aku mencari id card milikku. Sepertinya terjatuh di sini,” ujar Edeline mengabaikan Elvis yang masih tersenyum mengejek. “Aku sudah menduga, kau datang untuk menemukan ini.” Elvis menunjukkan id card milik Edeline yang diambil dari saku celana. “Syukurlah, id card-ku memang benar terjatuh di sini—” “Tapi aku tidak bisa mengembalikannya saat ini.” Elvis memotong Edeline yang berseru lega. “Apa? Kenapa?” Mata Edeline membulat sempurna terkejut. “Temui aku di luar rumah sakit jika kau ingin id card milikmu kembali. Aku tidak suka membicarakan hal-hal pribadi di ruang lingkup kerja. Selain itu, kau harus berterima kasih dan meminta maaf dengan cara yang benar,” jelas Elvis begitu licik memberi syarat. “Tapi Dokter Elvis, aku tidak bisa bergerak aktif selama bekerja tanpa id card milikku! Aku sangat butuh id card milikku!” Edeline bersikeras membujuk. “Itu bukan urusanku!” suara Elvis tegas menyanggah. “Jika kau sangat butuh id card-mu, datang ke hotel kemarin malam—di kamar yang sama pada jam delapan malam! Aku akan membuang id card-mu jika kau datang terlambat.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD