"Bos, seluruh uang dalam brankas hilang. Damian Marley juga tampaknya mencuri beberapa dokumen," lapor salah seorang pria bertato ular.
Cerutu itu menggantung di udara, embusan kuat asap membumbung tinggi. Pria di balik kursi menggebrak meja, senyap seakan membekukan jiwa mereka. Kursi berputar, sosok di baliknya memandang angkuh.
Uang hilang tidak masalah, sebab alat transaksi itu berjatuhan seperti tetesan air hujan bagi Ivanovic. Namun, dokumen? Untuk apa seseorang yang terdesak utang, justru memilih tumpukan kertas bernilai jutaan dolar.
Netra kelam itu menggelap. Ada satu yang dibenci Ivanovic, pengkhianat.
Sorot yang mampu membuat para manusia pembunuh itu kehilangan taring mereka.
"Damian Marley?" suara beratnya menggema.
Pria bertato ular mengangguk singkat. "Ya, dia orang baru yang dipekerjakan sebagai kepercayaan Nona Valerie."
Ah, sebuah skenario seketika muncul di kepalanya. Caesar Ivanovic, pria yang digadang-gadang sebagai pewaris perusahaan gelap farmasi Ivanovic, kini tersenyum licik.
"Valerie Lumanova?"
Kembali pria bertato ular mengangguk, kali ini tampak ragu. "Ya, Nona Valerie, tunangan Anda."
Caesar terdiam sejenak, lantas tertawa keras. Dia berdiri, kemudian menghadap kaca besar yang menampilkan pemandangan malam kota.
Perawakan tingginya membiaskan siluet di tengah ruang temaram. Asap berembus tinggi, aroma khas tembakau memenuhi ruang bernuansa modern itu.
Pintu dibuka kasar, sepasang kaki jenjang melangkah anggun. Orang-orang serentak undur diri, meninggalkan sosok cantik yang siap menyemburkan api.
"Sekarang alasan apa lagi? Lima kali, lima kali kau membatalkan makan malam kita. Kau tahu apa kata ayahku? Cari saja laki-laki lain, memalukan untukku mengemis."
Wajahnya memerah serupa bibirnya yang berceloteh. Caesar enggan melirik, sebaliknya disibukkan dengan cerutu di atas asbak kepala ular.
"Ya, tidak ada salahnya mencoba."
Kalimat singkat Caesar seperti menyiram minyak di atas api. Valerie Lumanova mendekat, lantas mencengkeram lengan Caesar memaksa lelaki itu menoleh.
"Kau gila?! Tanggal pernikahan kita sudah ditentukan, dan kau masih bisa becanda seperti ini?"
Namun, hening menyapa. Darahnya mendidih, Valerie merasa kepalanya akan meledak melihat sikap cuek Caesar. Tersusun banyak kalimat, tetapi melihat sosok tak tersentuh lelaki itu membuat Valerie membuang muka.
"Ku maafkan," ujarnya. "Sudah ku jadwalkan lain hari, pastikan untuk datang kali ini."
Caesar melirik sekilas, kemudian beranjak pergi. Valerie mengekor di belakang. "Ke mana lagi? Kau janji makan malam bersamaku."
Mantel hitam menjuntai, sarung tangan hitam kulit membungkus tangan, misi siap dilakukan. Revolver diusapnya lembut, perlakuan yang lebih manis dirasakan alat pembunuh itu.
Valerie mendengkus jijik, cukup muak melihat senjata api itu. Sudut matanya melirik ke ujung ruangan, tepat pada sebuah brankas yang tersembunyi apik di balik lukisan ular bermata karamel.
Mendadak dia gugup, berulangkali berdeham sesekali melirik Caesar yang balas melirik dari ekor matanya yang tajam. "A-Ah, bunga-bunga itu. Buket bunga mawar, aku menyukainya. Aku tidak mengira kau punya sisi romantis seperti ini."
"Berterima kasihlah pada si anak baru," ujar Caesar sembari membenahi revolver ke balik mantel.
"Apa?" Valerie menegang, suaranya lantang.
Caesar menuju pintu, diam sejenak lalu menoleh ke samping. "Dia punya mata yang bagus, selain otak yang dungu."
Pintu dibuka, Caesar tak memberi kesempatan Valerie bicara. Menyusuri lorong mansion gelap, diiringi derap langkah beratnya yang menggema.
"Ke kantor?" Seorang pria di balik kemudi bertanya, ketika bosnya memasuki mobil.
Caesar diam sejenak, lalu memalingkan wajah ke luar kaca. "Tidak," katanya. "Si anak baru, 90% utangnya sudah jatuh tempo."
Tanpa kata, pria di balik kemudi mengangguk patuh. Mobil melaju meninggalkan kediaman Ivanovic.
Membelah padatnya jalanan ibukota di malam hari. Hingar-bingar gemerlap kota menghilang, begitu memasuki kawasan kumuh, mobil mewah itu terlihat mencolok.
Gang itu sempit, hanya mampu dilewati satu mobil tanpa menyisakan ruang. Rumah-rumah sewa dengan cat temboknya yang sudah terkelupas berderet berhimpitan, gang kumuh tempat para kriminal kelas kakap berada.
Mobil hitam berhenti tepat di sebuah gang lain, gang gelap dan pengap yang tidak bisa dilalui kendaraan. Lalat mengerubungi tumpukan sampah basah seperti sebuah penyambutan, bau sampah tak lebih menjijikkan dari anyir darah yang menempel di sarung tangannya.
"Damian Marley sempat kabur," papar pria bertato naga. "Tempatnya berpindah-pindah, jadi kami sedikit kesulitan."
Caesar mengernyit, lantas melirik pria di balik kemudi. Seakan meminta penjelasan.
"Istrinya selalu pulang sekitar jam ini, kita bisa gunakan dia untuk umpan."
Istri? Caesar tidak pernah tahu pecundang itu sudah terikat, dan wanita tidak beruntung mana yang akan menjadi santapan para Ivanovic yang buas kelak.
Gedoran diberikan pada pintu reyot itu, seakan satu tendangan saja mampu membuatnya hancur berkeping-keping.
Caesar mendelik, tangannya meraba saku mantel. Cerutu yang diproduksi pada tahun 1968, kembali dihisapnya. Selalu ampuh atasi gundah. Sorotnya tajam seakan mampu melubangi pintu yang tak kunjung terbuka itu.
"Bos, apa kita dobrak_"
Tendangan keras diberikan, seketika engsel pintu terlepas. Tim Alpha dari Black Eagle, komplotan mafia berkedok gangster yang bersembunyi di balik nama rentenir, bergegas menyerbu, lalu memberi ruang untuk Caesar melangkah.
Pandangannya memindai tiap jengkal rumah sempit itu, dapur kecil yang menyatu dengan ruangan luas tepat pintu masuk dibuka, dan dua buah ruang yang diyakini sebagai kamar dan toilet.
Hidung mancung itu mengerut, aroma tajam sesuatu mengganggunya. Pandangan Caesar turun, pada semangkuk mie di atas meja pendek di depannya.
Asap cerutu memenuhi ruang, Caesar mengembuskan cerutu itu berulang. Matanya tajam menatap sosok mematung di depannya.
"Damian Marley."
"Apa? Kalian mau membunuhku?!"
Sudah tahu begitu mengapa tikus ini masih nekat? Rasanya Caesar ingin tertawa keras, pemandangan biasa para pengkhianat sebelum dijemput malaikat maut.
"Membunuh? Siapa_"
Suara serak itu tertahan, iris karamel membingkai indah kelopak serupa bunga sakura di tengah gurun. Dipenuhi teror kala bersitatap.
Caesar melangkah membuat sosok mungil itu terperanjat, tanpa sadar sudut bibirnya terangkat.
"J-Jangan mendekat!"
Ujung tajam garpu tepat di depan mata, serupa sorotnya yang menantang. Caesar mengernyit, tidak tampak ketakutan di wajah pucat itu.
Kulitnya seputih porselen, rona merah tersamarkan memar yang menghitam, memenuhi wajah manis yang sayangnya terlihat suram.
Caesar tidak memuji. Hanya saja tatapan tak tergoyahkan itu justru membuat darahnya berdesir.
Di tengah kepungan senjata api, sosok lemah itu justru bergeming. Tubuh kurusnya menjadi tameng untuk si pengecut yang mati kutu.
"Dasar hina! Berani sekali menodongkan senjata pada bos!"
Seruan itu menggema, serentak mereka siaga. Pelatuk siap ditarik, peluru panas siap melubangi.
"Aku bersumpah menyebut namamu di neraka sana," gumam Daphne.
Membelai lembut sudut beku hati Caesar, yang sontak tertawa keras. Tangannya terangkat, memberi titah untuk menurunkan senjata.
"Dia mencuri seperempat aset milikku, menyelinap di punggungku dengan pedang ditangannya."
Perempuan itu menegang, ada getaran aneh yang asing di hati Caesar. Baginya, hidup adalah sebuah permainan catur, dan setiap orang hanyalah pion yang bisa dikorbankan. Namun, mengapa kini dia meragu.
"I-itu tidak mungkin." Daphne tertunduk lesu, bibir pucatnya terus bergumam.
Caesar melirik heran. Pandangannya turun memperhatikan linangan air di sudut mata yang membengkak itu.
Seperti embusan angin, jemari kurus itu melayang cepat. Erangan tertahan terdengar, ketika Caesar mencengkeram lengan Daphne.
Mereka melirik garpu yang teronggok di lantai. Satu alis Caesar terangkat, dia melirik sosok meronta di lengannya.
"Lepas, sialan!"
Ah, sangat disayangkan bibir manis itu justru menghardik.
Caesar mendongak, tanpa melepas lengan Daphne, dia memberi titah yang seketika membuat iris karamel itu diselimuti teror.
"Urus dia."
Mereka mengepung Damian yang hendak kabur, menerjang tubuh itu satu persatu membuatnya meringkuk lemah.
"Tidak, Damian!!"
Air mata membanjiiri wajahnya, teriakan penuh ampunan terdengar, nelangsa menatap sosok tak berdaya sang suami.
"Kumohon, tidak!!"
Indah. Bagaimana bisa tangisan dan ratapan begitu indah.
Caesar tidak mengira bahwa duka seseorang justru membuatnya berbunga. Namun, dia tersentak. Iris karamel itu menatapnya tanpa kata, tersirat bara api di sana.
"Kau...Mati, matilah!!"
Daphne menerjang tubuh besar Caesar, membuat lelaki itu tersungkur dalam ketidakpercayaan.
Jemari lentik Daphne mencengkeram kuat batang leher Caesar. Mulutnya terus bergumam kata mati.
"Bos!!"
Caesar mengangkat tangan, memberi titah untuk para bawahannya agar diam. Sesak dirasa, tetapi dia justru menikmati. Caesar tersenyum miring, jemari panjangnya mendarat di pinggang Daphne.
Pasokan oksigen menipis, paru-parunya terasa sesak. Caesar enggan menepis tubuh seringan bulu itu.
"Kalian... Kenapa... Apa salahku?"
Cengkeraman itu melemah, menyisakan linangan air mata yang menatap luka. Tubuh Daphne ambruk, napas panas perempuan itu berembus di lehernya yang tegang.
Napas Caesar memburu. Dia melirik sosok tak sadarkan diri di dekapannya, lantas tertawa keras.
"Kita pergi, katakan pada si pak tua kalau utang Damian Marley lunas."