"Imah, mana nasi sama lauk untuk Ibu?"
Suara Mbak Anis terdengar keras membuatku harus menjauhkan ponsel dari daun telinga. Ini bukan pertama kali Kakak Iparku berkata ketus seperti itu. Bisa dibilang sudah menjadi kebiasaannya dan selama ini aku hanya bisa diam. Pernah membantah justru fitnahan yang dia lontarkan padaku.
"Maaf, Mbak, aku tidak masak hari ini." Aku menjawab sambil menepuk-nepuk b****g Gio yang tertidur di gendongan.
"Aku tidak mau tahu, kamu harus antar lauk ke sini. Kalau tidak aku lapor ke Dayat."
Nada suara Mbak Anis semakin keras. Lazimnya orang meminta pasti akan bersuara lemah-lembut, tetapi berbeda dengan Kakak iparku itu. Dia selalu ketus dan sinis, apa yang dia perintahkan harus dikerjakan. Tidak peduli aku sedang repot. Pernah mengeluh pada Dayat, suamiku, namun dia menyuruhku sabar, sebab Mbak Anis memang dimanja sejak kecil. Apa pun yang diminta pasti dipenuhi oleh Ibunya. Apalagi dia baru cerai dari suaminya sehingga emosinya tidak stabil.
"Gio demam, Mbak, maunya digendong terus. Aku tidak bisa ngapa-ngapain." Aku masih berusaha sabar. Bukan takut, aku tidak mau Gio terbangun. Dia baru saja tertidur setelah merengek dari pagi. Beruntung kemarin siang aku membawa Gio ke dokter, telat sedikit saja mungkin harus dirawat.
"Alasan terus. Kamu, kan, bisa beli? Jangan bisanya minta uang sama Adikku. Dasar par@sit!"
Aku menghela napas mendengar makian Mbak Anis. Pantas tidak ada lelaki yang tahan dengannya. Tiga kali menikah, sebanyak itu pula bercerai. Aku memilih memutus sambungan telepon daripada sakit hati mendengar hinaannya. Aku juga mematikan ponsel agar Mbak Anis berhenti mene-rorku. Aku sangat paham tabiatnya, tidak akan berhenti mengusikku sampai keinginannya terpenuhi. Aku memilih menidurkan Gio di atas tempat tidur. Sejak semalam panas menyerang tubuh putraku walau sudah diberi obat penurun panas. Aku terpaksa berjaga semalaman sebab tak ingin kejadian beberapa waktu yang lalu terulang. Saking panasnya Gio sampai mengalami kejang. Padahal aku sudah mengompres dengan air hangat, tetapi tidak mempan. Ruhku seakan tersedot keluar melihat kondisi Gio saat itu, yang bisa kulakukan memegang tangan sambil memanggil namanya. Sejak saat itu setiap dia demam aku fokus padanya saja.
Baru saja mere-bahkan badan di samping Gio, gedoran keras serta teriakan terdengar di pintu. Aku memijit pelipis yang terasa nyeri, dari suaranya saja aku bisa menebak milik siapa. Ingin mengabaikan, tetapi gedorannya pasti mengganggu tetangga.
"Mbak, bisa pelan? Gio baru tidur." Aku memilih membukakan pintu daripada Mbak Anis meng@muk membuat malu. Apalagi ada ibu-ibu berkumpul di depan rumah, biasa bila sore menjelang pasti mereka nongkrong. Ada-ada saja topik obrolan mereka, dari percakapan santai sampai menjurus gibah.
"Memangnya aku peduli anakmu tidur atau tidak?" Mbak Anis memelotot. Andai tidak ada hukum di negara ini pasti sudah kuc0lok matanya. "Mana u@ng?"
Dahiku berkerut melihat Mbak Anis menadahkan tangan kepadaku. "U-ang apa?"
"U@ng untuk beli lauklah."
"Ibu, kan, sudah diberi ua-ng sama Mas Dayat. Untuk apa minta sama aku lagi?"
"Heh, banyak omong kamu. Salah sendiri disuruh masakin lauk untuk Ibu kenapa tidak mau? Emang dasar tidak ta-hu diri." Mbak Anis melipat tangan sambil menatapku dengan sorot menge-jek.
Aku mengepalkan kedua telapak tangan untuk meredam gelegak emosi yang melesat ke ubun-ubun, rasanya tengkorak kepa-laku hendak pecah melihat sikap kurang ajar Mbak Anis. Sabar, Halimah, sabar. Menghadapi orang sin-ting memang harus kuat iman. Aku membatin.
"Mbak, aku memang dimintai tolong masak untuk Ibu, tetapi sekarang ada Mbak di rumah. Mbak aja yang masak, lagian Mbak tidak sibuk, kan?"
"Apa?" Muka Mbak Anis seketika berubah garang. "Kamu pikir aku pemban-tu? Kamu benar-benar harus dikasih pelajaran biar tahu diri!"
Mbak Anis mendo-rong tubuhku hingga aku tersaruk ke belakang, untung saja di belakangku ada meja sehingga bisa berpegangan di pinggirannya.
"Mbak, mau ngapain?" Aku menyusul Mbak Anis ke dapur. Di sana dia mengacak-acak dapurku. Dia juga membuka lemari tempat aku biasa menyimpan makanan.
"Nah, ini dia." Mbak Anis meraih dompetku lalu mengambil isinya. Tentu saja aku tidak membiarkan tindakannya itu.
Aku merebut dompet juga uang yang ada di tangan Mbak Anis. "Ini u-angku bukan ua-ngmu. Silakan keluar dari sini!" Aku menunjuk pintu keluar dengan suara lantang, tidak ada lagi rasa seganku pada wanita itu. Percuma, dikasih hati minta jan-tung. Kalau aku terus diam lama-lama kepalaku yang di-injak.
"Berikan uang itu. Aku mau beli makanan untuk Ibu!" Mbak Anis bersikeras merebut u-ang tadi dari tanganku.
"Tidak, Mas Dayat sudah ngasih u-ang untuk Ibu. Masak saja sendiri, selama kamu masih sehat dan bisa masak, isi perut kalian bukan tanggung jawabku!"
Kalimat ta-jam dari mulutku sukses membuat Mbak Anis ternganga. Kakak Iparku itu tidak terima dengan perkataanku hingga satu tam-paran dilayangkan padaku. Aku tidak sempat bereaksi, karena gerakannya begitu cepat. Panas menjalar di pipiku. Sejak kecil aku tidak pernah dipu-kul orang tua membuat reaksiku semakin frontal. Aku balas menam-par Mbak Anis, tetapi belum sampai tanganku melayang teguran keras menerobos gendang telingaku.
"Halimah, apa-apaan kamu?"
Aku melihat Mas Dayat berdiri di tengah ruangan dengan sorot mena-jam.
"Dayat, lihat istrimu. Aku minta lauk untuk Ibu dia malah mau mu-kul aku dan bilang tidak ada jatah lauk lagi."
Aku geleng-geleng kepala melihat pandainya Kakak Iparku itu memutar balik fakta, ternyata apa yang dikatakan orang-orang kalau Mbak Anis bermuka dua benar adanya. Bukan hanya muka dua, tetapi dia juga muka tembok. Baiklah, Mbak Anis. Kamu yang membuatku harus bersikap tegas sejak hari ini.