Apa yang Disembunyikan?

889 Words
Mataku tak bisa terpejam meski jam sudah berdentang dua belas kali. Aku melirik Mas Dayat yang tertidur pulas di sebelahku setelah meminta haknya sebagai suami. Selalu begitu, setiap berh@srat sikapnya sangat manis, tetapi bila sudah mendapatkan maunya, dia akan kembali acuh tak acuh. Aku mengamati setiap lekuk parasnya, sembari bertanya-tanya apa yang membuatku jatuh cinta padanya hingga bertahan dengan sikapnya. Dia tidak kaya, sangat penurut kepada Ibunya, dan cenderung plin-plan. Akhirnya aku sadar wajah tampan dan mulut manisnya yang membuatku terpikat. Alasan yang sangat b0doh. Kupikir memiliki suami tampan dan bisa berkata-kata manis sangat menyenangkan, rumah tangga kami akan diwarnai canda-tawa. Sebuah kekeliruan besar yang kusesali sampai sekarang. Andai tak ada Gio mungkin hatiku tak berat berpisah dengan Mas Dayat. Aku tumbuh di keluarga broken home. Pernikahan keduanya kandas di tahun ke tujuh, karena Ibu tak tahan menjadi istri kedua yang selalu dipandang hi-na oleh masyarakat. Walau pun Ayah tak pernah melalaikan kewajibannya, tetap saja ada yang hilang di hatiku. Aku tak mau Gio mengalami hal yang sama. Aku tahu rasanya melihat anak-anak lain dijemput Ayah dan Ibunya, sedangkan aku hanya ditemani Ibu atau Ayah. Aku tak mau putraku kehilangan figur Ayah di hidupnya. Demi Gio kurelakan hatiku berdenyut nyeri setiap saat. Aku bangkit dari tempat tidur bermaksud membersihkan diri. Kepalaku penuh dengan kecurigaan kepada Mas Dayat. Apa benar jual-beli di toko sangat sepi? Sependek pengetahuanku mengelola toko dulu, sesepi apa pun aku masih bisa mendapatkan pendapatan bersih lima belas sampai dua puluh juta sebulan, sangat jauh berkurang bukan? Firasatku mengatakan Mas Dayat menyembunyikan sesuatu dariku. Aku baru keluar dari kamar mandi ketika melihat ponsel Mas Dayat berkedip-kedip. Sejak kapan dia membisukan suara notifikasi di ponselnya? Didorong rasa penasaran aku meraih benda itu untuk melihat siapa yang menelepon. Dahiku berkerut melihat nomor tidak dikenal, hendak menerima panggilan telepon sudah terlebih dahulu terputus. Aku membuka aplikasi w******p Mas Dayat, sayangnya dikunci. Tentu saja rasa curiga tumbuh di hatiku. Biasanya aplikasi apa pun di ponselnya tak pernah dikunci. Kenapa sekarang seolah-olah ada sesuatu yang dirahasiakan? Terpaksa kuredam rasa ingin tahu untuk saat ini, tetapi cepat atau lambat aku pasti tahu apa yang dia sembunyikan * Pagi menjelang, setelah salat subuh aku sibuk di dapur menyiapkan sarapan juga menu makan siang untuk Mas Dayat. Beruntung suhu badan Gio sudah normal sehingga rasa cemas hengkang dari d**a. Aku menuang air mendidih ke dalam gelas yang berisi gula dan kopi, aroma wangi khas minuman itu membuat Dayat mendekat. "Imah, hari ini aku gak usah sarapan." Aku melirik Mas Dayat sembari meletakkan cangkir berisi kopi panas ke atas meja. "Kenapa, Mas?" "Aku buru-buru, mau antar Mbak Nisa ke pabrik untuk ngelamar kerja." Aku diam sejenak memperhatikan Mas Dayat menuang kopi ke piring kecil agar cepat mendingin. "Sejak kapan Mbak Anis kepikiran kerja?" Mas Dayat menghela napas mendengar sindiranku. Aku tidak bermaksud begitu, tetapi aneh saja mendengar Mbak Anis mau bekerja. Biasanya dia hanya pandai menadahkan tangan ke Mas Dayat. "Jangan begitu, harusnya kamu doakan agar Mbak Anis diterima." Aku tersenyum tipis lalu berkata, "Iya, aku doakan biar gak jadi para-sit lagi." "Halimah! Kamu kenapa jadi sinis gini sama Mbak Anis?!" Aku terkejut mendengar benta-kan Mas Dayat ditambah dia memu-kul meja. Sejak menikah baru kali ini dia bersikap seperti itu. Nyaliku sempat menciut melihat wajah garangnya, tetapi hanya sesaat. Aku tak akan membiarkan siapa pun mengin-timidasiku lagi, termasuk Mas Dayat. "Sinis?" Aku berdecih pelan. "Aku ngomong yang sebenarnya. Sejak dulu Kakakmu selalu memoroti keuangan kita. Bahkan, saat dia punya suami pun masih minta ke kita mulai dari belanja lauk, beras, sampai beli kebutuhan yang gak penting. Kita juga bayarin utang ju-di suaminya dulu. Apa aku protes? Gak! Tapi Kakakmu gak ada terima kasih ke aku." "Wajar aku nolong Mbak Anis, dia saudaraku. Lagipula itu u-angku, apa hakmu melarang?!" Aku terperangah mendengar balasan Mas Dayat. "Aku jelas punya hak melarang. Toko grosir itu milikku warisan almarhum Ayahku. Kamu hanya dititipi mengurusnya dan digaji. Jadi, u-ang yang dihasilkan dari toko itu milikku. Aku harap Mas tidak lupa itu." Aku terpaksa mengungkit jasa mendiang Ayah ke Mas Dayat agar matanya terbuka kalau selama ini kami masih menggantungkan hidup dari kebaikan keluargaku. Dulu, aku mengelola toko sembako dengan harga grosiran dan pangkalan gas yang bersebelahan dengan ruko itu. Mas Dayat menikahiku bermodal mahar seratus ribu saja. Ayah menentang keras pernikahan kami, karena menurutnya aku pantas mendapatkan lelaki yang lebih baik. Namun, cinta buta membuatku nekat sehingga Ayah mengalah. Kini, baru aku sadar insting orang tua tidak pernah salah. "Em, maksudku bukan begitu. Aku hanya ...." "Sekarang begini saja. Mas cari saja pekerjaan yang lain, biar aku yang urus toko sembako lagi. Lagipula aku lihat-lihat sejak Mas mengelola pendapatan toko semakin berkurang." Wajah Mas Dayat memucat. "Si, siapa bilang? Toko ramai, kok." Dahiku berkerut. "Ramai? Bukannya semalam Mas bilang akhir-akhir ini sepi? Mana yang benar?" Aku bersedekap dan menajamkan mata padanya. "Bu, bukan gitu. Em, maksudku toko ramai kemarin-kemarin, tapi akhir-akhir ini sepi." Mas Dayat bangkit lalu merengkuh bahuku. "Sayang, sudah, pagi-pagi gak baik bertengkar, pamali." Aku menepis tangan Mas Dayat, sikap garang tadi menghilang entah ke mana berganti dengan senyum manis. Selalu seperti itu kalau dia terdesak. Sikap Mas Dayat memantik rasa curiga di hatiku. Entah mengapa aku yakin ada yang dia sembunyikan. Aku harus mencari tahu keadaan toko yang sebenarnya termasuk isi ponselnya, sebab tak mungkin benda itu disandi kecuali ada yang tidak beres dan aku tak boleh tahu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD