Part 7

1185 Words
Mischa dan Olive sedang duduk menunggu film di bioskop, Olive tadi telah membeli popcorn dan minuman. "Misc, tadi si Lando kirim pesan nanyain kamu," kata Olive. Mischa tidak ingin memikirkan hal itu, akhir-akhir ini kepalanya hanya memusingkan satu hal saja. Itu Alvito. "Mischa," panggil Olive lagi. "Eh ... ohh iya, Lando bilang apa dia?" "Kamu ngelamun?" Olive tertawa. "Dia masih mengejar kamu tuh. Kenapa sih nggak kamu terima aja? Dia kan ganteng." Mischa mengangkat bahu. "Aku ... aku malas pacaran, Liv." Olive tertawa lagi, "Haha ... baru kali ini aku dengar ada yang berkata seperti itu." "Liv. Menurut kamu cinta itu apa?" Olive menyimak perkataan Mischa. "Entahlah, aku sendiri tidak bisa mendeskripsikan. Yang pasti perasaan sayang, takut kehilangan, selalu memikirkan dia." "Bukankah keluarga juga seperti itu?" "Mungkin, rasa ingin memiliki?" "Rasa ingin memiliki?" Mischa menoleh ke arah Olive. "Kalau keluarga pastinya tak punya rasa ingin memiliki bukan?" Mischa termenung. Dia teringat kata-kata Alvito. Mischa milik Abang, milik Alvito. Apa maksudnya dimiliki seseorang? "Eh itu Bang Alv." Mendadak Olive melihat ke arah meja di seberang mereka. Mischa menganga. Apa Bang Alv mengikutinya? Mischa menolehkan pandangan ke arah yang di tunjuk Olive. Jantungnya terasa menciut. Alvito sedang duduk berdua dengan seorang perempuan cantik. Berbincang dan tertawa. "Samperin yuk. Apa mereka kencan? Itu pacarnya Misc?" "Jangan! B-biarkan saja," sahut Mischa cepat. "Lho gimana sih?" Olive heran melihat sikap Mischa, biasanya saja mereka sangat dekat, Olive teman Mischa pun kerap mendapat perhatian dari Alvito. Mischa melirik-lirik ke seberang, hatinya pedih. Dia mengingat percakapan kemarin. "Kenapa terus menolak abang, padahal hati Mischa tidak begitu?" "S-siapa bilang? Aku tidak mau." Alvito membawakannya buket bunga mawar putih, meletakkannya di tempat tidur Mischa. "Abang bawakan bunga, biar seperti orang pacaran." "Ngga-nggak mau!" Mischa mengambil bunga itu dari atas tempat tidurnya dan melemparkan ke dinding. "Kamu benar-benar?" Alvito melenguh. Mischa mau Alvito gusar dan marah. Tapi Alvito malah meraih pinggang Mischa, mendekatkan tubuhnya ke tubuh bidang Alvito. "Kalau begitu, kamu tidak keberatan abang mencari kekasih?" "Bukan urusanku." Mischa yang selalu memanggil nama sendiri saat bicara dengan Alvito mulai ber -aku. "Tidak keberatan kalau abang melakukan hal-hal 'itu' dengan wanita lain?" "Minggir." Mischa meronta dari kukungan Alvito. "Kalau seorang pria sudah pernah melakukannya sekali, maka dia tidak bisa berhenti. Kamu yakin? Kamu mau tubuh abang dinikmati oleh wanita lain?" Mischa memalingkan wajahnya, tidak mau menatap Alvito. Alvito melepaskan tubuh Mischa. "Jangan menyesal nanti," bisik Alvito. Dia meninggalkan kamar Mischa. Mischa melihat tangan wanita itu memegang lengan Alvito, dan lelaki itu tersenyum. Apa dia menyukainya? A-aku tidak peduli. Aku tidak punya perasaan apapun padanya! "Eh panggilan film kita tuh ayo masuk," kata Olive seraya menarik tangan Mischa. *** Mischa gelisah mondar mandir di dalam kamar. Alvito belum pulang sejak tadi. Mischa keluar dan melihat kamar Alvito masih tertutup. Keluar-masuk-keluar lalu masuk lagi. Dia memutuskan untuk mencari mama. Mischa melihat mamanya duduk di ruang televisi. "Ma. Bang Alv belum pulang?" tanya Mischa. "Katanya menginap di rumah teman." Mischa semakin gelisah. Aduh bagaimana ini? Apa Bang Alv serius? "Siapa ma?" "Ya mama nggak tau. Tadi cuma kirim kabar lewat pesan singkat saja. Kenapa, sih?" Alvito tidak mengirimi Mischa pesan, padahal beberapa hari belakangan, dia selalu mengirimi pesan mesra terkadang menjurus. Yang membuat Mischa segera menghapus pesan itu, takut dibaca oleh seseorang. "Ma suruh Bang Alv pulang," rengek Mischa. "Lhoo biasa saja kan abangmu menginap di rumah temannya. Kamu tuh jangan manja sekali dengan Alvito sayang." "Mama ... bilang sama Bang Alv apa sajalah. Biar dia tidak jadi menginap." Mischa mulai cemas, pukul 9 malam. Mischa membayangkan Alvito mulai mencumbui wanita di bioskop tadi, tidak! Mischa tidak rela! "Memangnya kenapa?" Arisa menyelidik. "Mmm ... Mischa kepengen martabak, mau dibeliin Bang Alv." "Astaga! Alasan macam apa itu?" Mamanya menggelengkan kepala heran. "Ayolah ma," bujuk Mischa lagi, dadanya semakin berdebar kencang. "Ya telepon sendiri sana." "Kalau Mischa telpon nanti Bang Alv banyak alasan. Ma ...." Mischa menggoyangkan tangan mamanya. "Nggak. Mama nggak mau." Mischa merengut. Dia berdiri menuju kamarnya lagi. Arisa mendesah saat menatap kepergian Mischa dengan wajah suram, Mischa kelewat manja pada Alvito. Mischa berbaring resah. Kalau dia yang menelpon artinya sama saja dia setuju menjadi .... Aduh! Mischa pusing. Perutnya melilit. Alvito, kamu sungguh kejam. Mischa meringis. Dia akhirnya memutuskan untuk menelpon. "Ya Mischa," suara itu terdengar setelah Mischa melakukan panggilan yang kedua. "A-abang nggak pulang?" Suara Mischa bergetar. "Tidak." "...." "Ada apa?" Alvito bertanya lagi. "Menginap di mana?" "Kenapa tanya?" "Me-memangnya tidak boleh?" "Ya sudah dulu, ya." Mischa mendengar suara seorang perempuan samar. Dia tercekat. "T-tunggu! Bang Alv pulang sekarang." Alvito diam sejenak. "Kenapa?" "Mischa mau martabak. Beliin." Mischa mengatur nafas. "Besok saja." "Nggak, mau sekarang." "Sudah dulu ya." "Mi-Mischa mau abang." Deg! Mischa mengucapkan kata itu. "Apa?" "I-itu ...." "Coba ulangi?" Mischa tahu wajah Alvito pasti tersenyum simpul saat melontarkan permintaan itu. "Mi-Mischa mau Bang Alv sekarang," kata Mischa pelan. "Terus?" "Uh ... udah, jangan tanya apa-apa lagi. Pleasee." "Tunggu ya." Suara itu menjawab dengan sedikit serak. Mischa terhenyak di atas tempat tidur. Memikirkan sikapnya tadi. Apa dia ingin memiliki Bang Alvito? Mischa bergidik. Ohhh ... Mischa nakal dan liar, kata Alvito. Wajahnya bersemu. Bang Alv lebih parah lebih lebih ... semua gara-gara Bang Alv! 15 menit kemudian Mischa menerima pesan. "Bentar lagi abang ke kamar Mischa." Gila sekali, masa Bang Alv mau ke sini sekarang? Kamar Mischa dan Alvito terletak di belakang jauh dari kamar utama tempat papa dan mama, . Mischa seketika mengingat novel percintaan terlarang yang kerap dia baca. Untuk bertemu mereka harus sembunyi-sembunyi. Mischa mengoleskan lotion di lengan dan kaki, sedetik kemudian kaget. Kenapa dia memakai lotion? Teringat lagi dia pada kata-kata Alvito. Mischa ingin terlihat sempurna di depan abang. Apa benar bawah sadarnya menginginkan Alvito? Sudahlah! Apa yang akan terjadi nanti, Mischa berusaha tidak peduli. Mischa membayangkan seandainya Alvito dengan wanita lain, bagaimana dia sangat gelisah dan hatinya sakit seharian. Aaaaa ....!!! Mischa ingin menjerit. Mischa mengganti pakaian dalamnya dengan yang bewarna senada, dia juga mengganti baju tidurnya yang terlihat imut dengan memakai piyama satin berbentuk dress berwarna lembut. Mischa merasakan pipinya memanas. Mischa dengan cepat berbaring kembali. Pintu kamar Mischa terbuka, dia pura-pura tidur. Jelas Alvito tahu karena biasanya kalau tidur Mischa akan mematikan lampu. Mischa merasakan Alvito berbaring di sebelahnya. "Ssttt ... bangun. Abang bawa sesuatu untuk Mischa." Mischa membuka matanya. Melihat wajah Alvito yang tampan sedang tersenyum. "Apa?" Mischa bertanya lirih. Alvito membuka kotak bermerk toko berlian terkenal. Mischa membulatkan matanya. "Sini abang pakaikan." Alvito membelikannya kalung berlian? Mischa duduk membelakangi Alvito dan mengangkat rambut. Tengkuk Mischa yang mulus membuat Alvito refleks mengecupnya, membuat Mischa sedikit mengerang. Kalung itu memiliki bandul kecil berbentuk bulat. "Cantik," kata Mischa. "Makasih abang." Alvito mencium bibir Mischa, mengeksplor setiap sudut-sudut yang lembut. "Kalau untuk Mischa apapun abang belikan." Hati Mischa terasa deg-degan. "Kapan abang beli?" Bukannya seharian ini dia berkencan dengan wanita lain? keluh Mischa. "Sudah lama." "Masa?" Alvito memeluk Mischa ketat dan rapat, "Wangi," katanya seraya menciumi leher Mischa. "Emmhh." "Jadi Mischa sudah memutuskan untuk menerima abang?" "Nn-nggak tau." "Kenapa gitu? Abang sudah buru-buru pulang tadi." Mischa ingin bertanya tentang wanita tadi siang, tapi diurungkan jangan sampai Alvito tahu kalau dia sebenarnya cemburu. "Tapi Mischa masih takut." "Serahkan semua sama abang." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD