Part 11

1105 Words
Mischa berbaring dengan lesu, sepulang dari kampus dia tidur-tiduran saja di sofa depan televisi. Arisa yang melihat tingkah laku Mischa mendekat. "Kenapa lesu sekali sih?" tanya Arisa. "Bosen nggak ada Bang Alv," kata Mischa. Arisa menggelengkan kepala mendengar jawaban Mischa. "Baru juga dua hari, kemarin-kemarin Alv pergi lama nggak gini-gini banget," kata Arisa lagi. Mischa merenung, dulu juga kangen, tapi sekarang? Mischa ingin memeluk dan mencium Alvito terus. Rasanya ingin bersama Alvito terus. Mischa ingin bersamanya setiap detik. "Sayang, kamu jangan kelewat manja ih sama abangmu itu," kata Arisa. Arisa mengupas mangga sambil menghidupkan televisi menonton berita. "Mischa nggak manja, Ma," sahut Mischa. "Memang, tapi sama Alvito kamu manjaaaa sekaliii. Nanti gimana kalau kamu atau abangmu itu menikah? Jangan bergantung terus dengan dia." "Ma seandainya ...." Bang Alv menikah? Harusnya itu dengan dirinya. Apa orang tua mereka setuju. "Apa?" tanya Arisa. "Nggak jadi deh." Hampir saja Mischa keceplosan menanyakan bagaimana seandainya dia yang menikah dengan Alvito? Mischa biasanya selalu terbuka pada mamanya, tapi kali ini dia bungkam. "Nggak jadi deh." "Apa sih? Mama jadi penasaran." "Nggak ada hehe ...." Mischa cengegesan. "Oh iya, kemarin mama ketemu sama mamanya Lando di nikahan klien papa." Arisa tersenyum penuh arti. "Em---trus." Mischa berkata datar. "Dia nanyain Mischa, terus dia bilang mama sama papa calon besannya." Arisa tertawa. "Ih apa, sih. Mischa nggak suka sama Lando." "Kenapa? Lando kan ganteng, baik. Keluarganya juga baik." "Kalau nggak suka mana bisa dipaksa," sahut Mischa. Itu benar, ketika terjadi peristiwa antara dirinya dan Alvito, Mischa pernah berusaha untuk mencoba menyukai lelaki lain. Tapi nyatanya, nihil. Dia malah terperosok semakin dalam pada jeratan Alvito. "Mama bingung deh, waktu SMA, banyak teman cowok Mischa yang main ke sini. Sekarang udah nggak ada." Arisa kadang khawatir kalau Mischa selalu bergantung pada Alvito. "Habis mereka suka modus, pura-pura mau temenan eh pada nembak semua. Kalau ditolak, marah-marah ngatain Mischa kasih harapan palsu." Padahal dia hanya berusaha bersikap baik pada semua orang. Arisa tertawa, "Tapi Lando masih bertahan, ya. Memang Mischa nggak ada gebetan apa di kampus?" "Nggak ada." "Masa iya, nggak ada suka sama seseorang?" Arisa dan Mischa sering sekali membahas soal ini, hanya saja sekarang, Mischa merasa sedikit ragu membicarakannya. "Ada dong," jawabnya cepat, seketika menyesali kata-katanya. Bagaimana kalau mama menginterogasinya? "Oh ya, siapa? Kenalin mama sih. Ajak ke sini." Tuh kan. Mama langsung mencecarnya dengan pertanyaan. "Nggak ah." "Kenapa malah gitu? Gimana orangnya? Ganteng?" "Ganteng banget." Mischa membayangkan sosok Alvito dengan senyum yang khas menggoda, membuatnya berdebar. Arisa tertawa, pipi Mischa mulai memerah. "Terus ceritain sama mamalah." "Mm ... ganteng, badannya bagus, rajin olahraga, penyayang, perhatian ...," m***m. Yang terakhir tidak Mischa sebutkan. "Kenapa cirinya mirip Alvito, sih?" Arisa mengernyitkan kening.Mischa terkejut mendengar ucapan mamanya. Tuh, nyaris saja dia tidak bisa menahan diri. "Udah sih mama nanyain mulu nih." Mischa mengambil mangga yang sudah dipotong-potong, memasukkan ke mulutnya cepat. "Liat kamu, harusnya mama makan yang Mischa sediakan." Arisa memprotes. "Mama, kan mama nggak bilang suruh Mischa ngupasin mangga." Mischa tertawa memeluk mamanya. "Kamu itu." Arisa berdecak. Maafin Mischa, Ma, saat ini Mischa menyimpan rahasia dari mama. Habisnya Mischa bingung harus bagaimana. *** Mischa melonjak saat melihat Alvito melakukan panggilan video call. Mischa mengunci pintu kamarnya. Berbaring di kasur empuk kemudian menerima panggilan itu. Mischa menatap wajah Alvito yang tampak semakin tampan di layar ponselnya. "Abang di mana?" Dia bertanya lirih. "Sudah di kamar hotel. Mischa sedang apa sayang?" Suara abangnya terdengar merdu di seberang. "Buat tugas kuliah." Mischa berbohong, padahal sejak tadi dia memikirkan Alvito. "Oh kirain lagi mikirin abang." "Mmhh iya sih, lagi mikirin Bang Alv juga." Mischa tersenyum. "Abang rindu banget sama Mischa." "Mischa juga," jawab Mischa dengan perasaan membara. "Mama papa sudah tidur?" "Nggak tau, tapi udah masuk kamar." Mischa melirik jam, sudah pukul sembilan malam. "Abang kepengen Mischa." Suara Alvito mulai terdengar berat. "Hmm ...." "Kenapa jawabnya gitu?" Mischa menggeleng. "Ya udah, makanya pulang cepet." Mischa sangat rindu abang, Mischa ingin mengatakan itu. "Coba Mischa tebak. Sekarang abang lagi ngapain coba?" "Lagi nelpon Mischa." "Iya terus lagi apa?" desak Alvito lagi, suaranya makin berat dan pelan. "Nggak tau." "Lagi membayangkan yang menyenangkan." Alvito berkata dengan frontal. Tekanan pada suaranya membuat Mischa paham apa yang dia maksud. "Bang Alv ih!" Mischa terpekik, ketika menyadari maksud ucapan abangnya itu. "Abang nggak tahan jauh dari Mischa nih, sayang." "Sudah ah, Mischa males kalo abang kayak gitu." "Memang Mischa nggak?" Mischa membulatkan mata saat melihat wajah Alvito memejam dan memerah. "Mischaa ... sayang." Alvito membisikkan namanya, menggoda. Dag dih dug! Mischa mematikan sambungan itu. Dia sangat malu, kesulitan bernafas. Melihat wajah Alvito yang seperti itu membuat perasaan Mischa berdebar. Mischa gelisah menggigiti bibirnya. Teleponnya berbunyi lagi. Mischa menunggu beberapa dering sebelum mengangkat lagi telepon itu. "Apa?" "Kenapa dimatikan?" Suara Alvito sudah kembali seperti biasa. "Wifi-nya error," jawab Mischa asal. Alvito tertawa. "Mischa ngapain seharian?" Sepertinya Bang Alv sudah kembali normal. "Ke kampus, terus males-malesan." "Kenapa? Bosen nggak ada abang?" "Heemm ... udah tau masih juga nanya. Abang udah?" tanya Mischa ragu. "Apa?" tanya Alvito. "Yang tadi." "Apa sih?" "Pura-pura nggak ngerti." Mischa merajuk. Alvito tertawa geli. "Parah," rutuk Mischa. "Mischa pake piyama yang kita beli kemarin dong. Abang mau liat." Kemarin Alvito memasukkan salah satunya ke tas Mischa, saat mereka berada di rumah Alvito. Mischa berharap mamanya tidak melihatnya, dia tidak tahu harus menjawab apa nanti. Mischa jarang membeli piyama seperti itu. "Gimana liatnya? Cuma kelihatan muka." "Ya handphone-nya di senderin ke bantal atau ke dinding biar abang liat. Abang kesepian di sini sayang." Mmpphh ... Mischa berpikir, boleh juga biar Bang Alvito lihat betapa sexy-nya dia. Rasain dia tersiksa di sana. Mischa menyeringai. Dia meletakkan handphone di atas nakas mengarah ke atas ranjang. "Mana nih orangnya?" Terdengar suara Alvito. Mischa terkikik geli, dia melihat piyama itu. Pertama kalinya dia memakai yang seperti ini. Bewarna marun, berenda. Memperlihatkan lekuk tubuhnya. Mischa mematut tubuhnya di cermin. Emmmhh .... cantik. Dia memuji sosoknya di cermin, Bang Alvito pastilah terpukau. Mischa tertawa tertahan. Mischa kemudian merangkak ke atas ranjang. Dia berlutut di atas tempat tidur, rambutnya dia gerai ke samping. "Ya Tuhan. Abang kepengen bunuh diri sayang," suara Alvito bergetar. Mischa terkikik geli. Dia semakin semangat menggoda Alvito, Mischa melihat wajah Alvito yang frustasi. Beberapa kali menyugar rambutnya kasar. *** Mischa berbaring memandang langit kamarnya. Mischa terengah, menarik dan menghembuskan nafasnya cepat. Mischa menginginkan abangnya saat ini, memeluk juga menciumnya. Mata Mischa terpejam, membayangkan saat ini Alvito b******u dengannya. Percintaan yang panas. Dia mengirim pesan menggoda pada Alvito untuk pertama kalinya. Tapi, uh ... Mischa nggak mau Bang Alvito mengira dia wanita nakal. Mischa melihat ponselnya. Ada pesan dari Alvito. Nggak apa sayang, itu normal. I miss you badly, sampai menggila rasanya. Benarkah? Benarkah itu normal? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD