Mata Alvito menatap nyalang Mischa yang sedang tertawa bersama teman kuliahnya, dadanya bergemuruh. Dia memantau kampus Mischa sudah sejam, padahal sedang ada kerjaan di workshop. Sejak kejadian malam itu Alvito juga merasa gelisah, dia memutuskan untuk menjemput Mischa di kampus dan pekerjaan ditinggalkan pada orang kepercayaannya.
Mischa beberapa kali telah menoleh ke belakang. Dia pasti tahu mobil ini. Biasanya dia segera datang menghampiri dengan senyum gembira. Mischa membuang muka. Dia dan teman-temanya malahan menjauh dari tempat Alvito mengawasinya.
Alvito memukul dasbor, rahangnya bergemeletuk. Tampaknya Mischa tidak hamil, Alvito selalu memantau. Mischa minum jamu pereda nyeri dan membeli pembalut kemarin, kemurungannya sudah lenyap. Alvito tahu Mischa pastilah gugup karena sekalipun dia tidak mengadu tentang peristiwa itu, wajahnya pucat sampai dua minggu kemudian.
Alvito memarkir mobilnya di tempat terdekat dengan posisi Mischa dan membanting pintunya kasar. Dia berubah menjadi sosok yang tak sabaran. Alvito memanggil Mischa, kemudian tersenyum pada teman-temannya.
"Bang Alvito." Teman-teman Mischa menoleh. Hampir semuanya mengenal Alvito, bagaimana tidak? Mischa selalu membanggakan dan menceritakan abangnya.
"Abang jemput, pulang, yuk."
Mischa menjawab gugup, "Mischa mau pergi dengan teman-teman."
"Mischa dan aku ada keperluan, bisa dibatalkan, ya?" Alvito berbicara ke arah teman-teman Mischa.
Teman-teman Mischa mengangguk, adiknya itu langsung mengeluh. Terpaksa mengikuti langkah kaki Alvito yang panjang menuju mobil. Mischa menghempaskan tubuh di kursi penumpang, merengut.
"Kamu kenapa, sih?" Alvito membuang nafas keras.
"Lagi PMS," sungut Mischa.
Ternyata benar dugaan Alvito. "Kita ke mall, yuk? Ada yang mau dibeli?"
Mischa menggeleng, entahlah sejak peristiwa dua minggu kemarin Mischa enggan berdekatan dengan abangnya itu.
Sangat mudah jatuh cinta pada seorang Alvito, tapi Mischa tahu itu akan terlarang. Mereka juga telah berdosa, Mischa menahan dengan kuat agar tidak ada perasaan yang tumbuh dalam hatinya. Mischa memejamkan mata, mencium aroma maskulin Alvito. Biarlah, kejadian kemarin hanya akan jadi jejak kelam dalam kehidupan mereka.
"Kenapa sekarang kamu tidak mau berduaan dengan abang?" Alvito memberi tekanan pada suaranya.
Mischa terdiam.
"Jawablah Mischa, kamu nggak mau menerima abang?"
"Mischa punya pacar."
"Putuskan. Mudah bukan?"
"Mischa menyukai dia."
"Siapa? Apa si Landak?"
"Iya. Kemarin dia nembak jadi Mischa terima."
Alvito mengerem mobilnya mendadak. Dia tahu lelaki itu Orlando, biasa di panggil Lando sering diplesetin menjadi landak, teman SMA Mischa dulu, beberapa kali main ke rumah. Sudah lama mengejar-ngejar Mischa, setahu Alvito sudah berkali-kali Landak menyatakan perasaannya, tapi di tolak. Mischa selalu menceritakan soal teman-temannya, bahkan lelaki yang mendekatinya. Sedekat itulah mereka.
"Kamu terima dia karena kamu marah sama abang?"
"Bukan. Mischa memang suka dia." Mischa mengelak.
Alvito mendengus kesal. Seandainya ini bukan di jalan, sudah dia seret dan dia hukum Mischa dengan caranya. Mischa melipat tangannya diperut, tubuhnya menggigil.
"Kamu akan putus dengan dia, abang akan memastikan itu." Alvito menjalankan lagi mobilnya.
"Abang nggak berhak!" Mischa menjerit. Mischa tidak pernah berteriak marah pada Alvito, sebelum kejadian di villa waktu itu.
"Tentu. Kamu sudah mencuri keperjakaan abang, kamu harus tanggung jawab." Alvito menyeringai.
Apa?!! Apa dia sudah gila? Mata Mischa membulat.
***
Alvito mengusap bibir Mischa, tangannya ditepis. Mereka sedang makan di restoran, sejak dari kampus tadi Mischa memang lapar karena tadi pagi dia tidak sarapan. Dia berusaha menghindari sosok Alvito.
"Mischa, sudahlah sayang, sampai kapan kamu memperlakukan abang seperti ini?" keluh Alvito.
"Sampai abang sadar."
"Kamu kira selama ini abang pingsan?"
Mischa menatap dalam-dalam mata Alvito yang hitam kelam.
"Berhenti merayu Mischa."
"Nggak mungkin, abang jatuh cinta padamu."
Mischa menggeleng, "Nggak. Kita bersaudara."
"Kita nggak ada hubungan darah, kita boleh saja menikah." Alvito menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Itu tidak boleh terjadi, please abang jangan memaksa Mischa membenci abang."
"Kamu tidak akan bisa. Besok abang akan mengecek cabang di Lampung. Kamu mau ikut?"
Mischa menggeleng.
"Ikut yuk biar kita bisa bermesraan."
"Nggak mau!"
"Kenapa sekarang kamu suka marah-marah?"
"Pikir!" Mischa tersedak, Alvito segera berdiri dan mengusap punggung Mischa. Sekilas mata bening Mischa melirik ke arahnya. Alvito menyodorkan mineral water miliknya karena tadi Mischa memesan jus mangga.
"Lama lho, dua mingguan, nanti kamu kangen." Alvito masih menghujaninya dengan kata-kata.
Kalau dulu mungkin iya, Mischa pasti akan kangen dan kehilangan. Setiap hari dia harus bercerita pada Alvito tentang kegiatannya, tapi sekarang Mischa tidak mau lagi berdekatan dengan seorang Alvito. Dia takut kejadian malam itu terulang. Dia takut pada wajah Alvito saat itu. Dia takut merasakan kesakitan seperti itu lagi.
Alvito mengecup pipi Mischa. "H-hentikan. Banyak orang." Mischa memerah.
"Biarkan saja, paling kita dikira pasangan suami istri muda."
Mischa terhenyak, bagaimana Alvito sekarang berubah menjadi orang seperti ini? Perayu, penggombal, m***m.
"Jadi kamu mau ikut?"
"Aku akan kencan dengan Lando."
Alvito terdiam, mengesalkan. Mischa akan menggunakan 'aku' untuk menyebut dirinya kalau sedang marah atau kesal. Mischa harus jatuh cinta padanya. Hanya padanya.
"Oh iya Lando kemarin ngajak snorkling. Sepertinya akan menyenangkan."
"Jangan berani pergi." Alvito berkata gusar, kekesalannya memuncak.
"Mungkin kami bisa bermesraan di sana." Mischa semakin senang melihat rahang Alvito yang mengeras, pipinya berdenyut. Dia semakin bersemangat memanas-manasi Alvito.
"Tidak akan abang biarkan." Alvito sudah ingin melempar meja di hadapannya, tapi tidak dia akan bertahan.
Tunggu saja kamu, Mischa.
***
Alvito telah kembali dari luar kota, dia memastikan Mischa tidak pergi dengan Lando. Sedikit lega karena ternyata Mischa hanya memanas-manasi dia. Benar juga mana mungkin Mischa mau pergi berduaan dengan seorang pria kecuali dia, apalagi sampai menginap.
Alvito mendatangi rumah sakit tempat adik papanya bekerja, Tante Rika.
"Tante aku butuh obat penyubur." Alvito tanpa basa basi mengatakan itu, sedetik setelah Rika duduk di ruangannya.
Rika kaget mendengar permintaan keponakan tersayangnya itu.
"Apa maksudmu Vito?" Sebulan yang lalu Alvito meminta salep untuk pereda nyeri wanita dan sekarang? Apa sudah terlalu liar keponakannya ini?
"Aku mau pacarku hamil."
"Tidak! Kamu gila, tante akan lapor ini sama papa kamu. Berhenti melakukan seks bebas!"
"Ini bukan seks bebas ini karena suka sama suka," kata Alvito dingin.
"Kamu ingin pacarmu hamil? Kenapa kamu tidak nikahi saja dulu." Merinding tubuh Rika, keponakannya ini seorang idola keluarga sejak sekolah, selalu berprestasi, bandel-bandel biasa bukan b******k, sejak kuliah merintis workshop kayu dan saat ini sudah buka cabang di mana-mana diusianya yang ke 25.
Kenapa sekarang dia seperti orang yang tidak dikenal? Terkadang matanya menyimpan amarah, sinis dalam berkata.
"Mau nanam saham dulu."
"Astaga Vito, kamu kesurupan? Jangan buat tante marah."
"Jadi apa? Lebih baik aku beli yang dijual bebas?" Alvito memicingkan matanya.
"Kalau dia hamil kamu mau tanggung jawab?"
Alvito terdiam, "Lihat nanti saja."
Rika mengerang frustasi, akhirnya meresepkan apa yang diinginkan Alvito.
Alvito tersenyum, Tante Rika tidak pernah menolak keinginannya sejak dulu. Sedikit heran kenapa wanita sangat mudah dipengaruhi dengan bumbu sedikit ancaman. Dia menelepon ke rumah untuk mengecek apakah orang tuanya ada dan bergegas pulang setelah memastikan, papa dan mama tidak ada.
"Sayang." Alvito memanggil Mischa, tidak ada jawaban. Dia meletakkan bungkusan pizza itu di atas meja makan. Alvito berjalan menuju kamar Mischa.
Kebiasaan, pintu kamar Mischa tidak terkunci. Alvito menyeringai. Dilihatnya Mischa sedang tidur siang, kakinya mulus tersingkap. Alvito mengelusnya, Mischa bergerak pelan.
"Bang Alv," ujarnya lirih.
"Abang bawa pizza. Mischa mau?"
"Mau." Mischa menjawab cepat, dia tadi tidak selera dengan makanan yang dimasak oleh Bibi Teti, ART mereka.
"Ya udah cuci muka dulu, ya," kata Alvito lembut.
Mischa mengangguk kemudian mengusap matanya.
Sejak Alvito pulang dari Lampung Mischa sedikit melunak padanya. Sikapnya juga mulai melembut pada Alvito.
"Nih abang ambilin jus jeruk." Alvito menyodorkan jus yang telah ditaburkan pil penyubur.
"Makasih." Mischa tersenyum, sangat manis. Alvito merasa berdebar.
"Enak?" Alvito bertanya.
"Enak. Makasih abang." Mischa tertawa.
Alvito membelai rambut Mischa, tidak ditolak lagi.
***