KADO TAK BIASA

1161 Words
  Setelah keluar dari ruangan Dameer, gadis itu termenung memikirkan ucapan Dameer. 'Selama setahun aku kerja, Pak Dameer gak pernah menunjukkan gelagat suka sama aku. Kenapa tiba-tiba dia malah nembak? Ini gak mimpi kan?' Dia menepuk pipinya beberapa kali. Seketika, dia teringat hadiah misterius yang kerap datang ke kontrakannya. Klung! Sebuah notifikasi chat masuk ke benda berbentuk pipih. Tak lama, Yasmin membukanya. [Yasmin. Kita perlu pendekatan, biar bisa saling kenal satu sama lain. Mau gak, makan malam sama aku?] Rupanya Dameer yang mengirimkan chat. Jantungnya kembali berdetak tak karuan, dia pun membalas dengan tangan bergetar. [Boleh Pak. Kapan?] [Dua hari lagi ya. Besok aku masih sibuk soalnya, nanti kukabari lagi.] [Baik, Pak. Saya tunggu.] [Aduh, please! Jangan formal gitu dong biar gak kaku. Manggilnya aku kamu aja, trus kalau gak di kantor panggil aku Dameer aja, jangan Pak, ya.] Yasmin tersipu dengan penuturan Dameer. [Oke, Pak. Eh, Dameer.] Huft! 'Dinner? Oh my God, moga bukan mimpi.' Yasmin merasa sangat bahagia entah kenapa, kalau saja tidak ingat sedang di kantor, dia rasanya ingin loncat tinggi-tinggi saking bahagianya. **** Waktu salat zuhur, Yasmin masih asyik makan sambil menggulirkan ponsel di cafe dekat kantor, berselancar di dunia maya, mencari gaun di toko online. Dia pikir, harus tampil maksimal di acara dinner pertamanya, tapi sayangnya harga gaun yang dia inginkan sangat fantastis, Yasmin pun hanya bisa mengerucutkan bibirnya. “Yas! Udah waktunya salat, masih makan bae. Ayo, ke mesjid,” ajak Cici rekan kerjanya yang mulai beranjak dari tempat duduknya. Yasmin mendengkus halus. “Ya gimana, aku masih makan. Kamu duluan aja deh, tar aku nyusul.” “Perasaan, kamu tiap hari kayak gini deh, tar aku nyusul. Tapi aku gak pernah lihat kamu ada di mesjid,” tukas Cici. Yasmin mendelik. “Ya iyalah ... kan pas aku datang, kamu pasti udah selesai salat dan balik ke kantor, gimana sih!” “Hm, ya udah cepetan makan, trus simpen dulu hpnya. Ingat, salat itu tiang agama, robohlah iman kita tanpa ibadah yang satu itu. Lagi pula, salat itu pembeda antara kita dengan non muslim.” Kalau saja Cici bukan seniornya, Yasmin pasti menyumpal mulut perempuan itu dengan tissu. “Baik ustazah salihah!” “Jangan panggil ustazah ah, kita kan wajib saling mengingatkan.” “Iya, ya.” “Oke deh, aku duluan ya.” Yasmin menganggukkan kepala lalu mengendikkan bahu tak peduli. Matanya mendadak sendu, iris matanya menatap lurus ke depan. Sejak ditinggal ayahnya dan menjadi tulang punggung keluarga, senyumnya hilang. Gadis itu selalu disibukkan dengan bekerja dan bekerja, agar dia dan Lilis bisa tetap bertahan hidup, terlebih pengobatan rutin ibunya itu juga tak sedikit. Hal itu juga yang membuatnya kesulitan dalam mencari jodoh, dan membuatnya dipenuhi beban psikis. Tak jarang dia protes pada Tuhannya, kenapa nasibnya sedemikian rupa. Hingga akhirnya, dia meninggalkan kewajibannya untuk salat. Yasmin menghela napas berat, lalu melap bibir mungilnya dengan serbet. Dia bangkit sambil menggamit tas cangklongnya, hendak membayar tagihan makanan. Namun, dia terkejut karena bill-nya sudah dibayar seseorang. “Siapa yang bayar Mas? Apa teman perempuanku?” tanya Yasmin pada salah seorang kasir. “Bukan Mbak. Seperti biasanya, dia cowok yang sering diam-diam datang untuk bayar makanan Mbak, sambil pake masker dan topi.” Gadis itu terdiam sesaat. Dalam pikirannya bertanya-tanya, siapa yang kerap membayar makanannya. “Aku jadi penasaran deh. Lain kali, kalau dia datang cepat panggil aku ya!” titahnya. “Baik, Mbak.” “Oke deh, makasih ya.” “Sama-sama Mbak.” Yasmin keluar dari kafe sambil melirik kanan dan kiri, mencari sosok lelaki yang membayar makanannya. Tapi sosok yang dicarinya tidak ada. 'Apa itu pak Dameer ya? Ah, apa mungkin dia sempet-sempetnya nyamar, kurang kerjaan aja.’ **** Yasmin pulang kerja saat magrib hampir habis, dia merebahkan tubuhnya di kursi sambil sesekali memijat leher belakangnya. “Salat dulu, Sayang.” “Nanti aja Ma, sekalian sama isya.” “Jangan gitu. Kita gak tau kapan meninggal. Satu detik aja, Allah mampu mencabut nyawa kita,” ucap Lilis. “Tapi aku capek banget Ma ....” “Salat kan gak sambil lari-lari. Ayo, Nak lawan rasa malasmu dan pergi wudu.” Tak ingin berdebat dengan sisa tenaganya, dia pun bangkit dengan langkah gontai ke kamar mandi. Yasmin memang mencuci wajahnya, lalu masuk ke kamar. Tapi bukan untuk salat, melainkan kembali merebahkan tubuhnya di ranjang. Beberapa menit kemudian, Lilis mengetuk pintu kamarnya. “Yas, ada paket lagi nih buatmu. Kotak gede warna merah, ada pitanya lagi,” ucap wanita paruh baya itu sambil tersenyum. “Nanti ajalah Ma, aku capek.” “Ya udah, bukanya nanti. Tapi simpan dulu nih.” Yasmin kembali bangkit dan membuka pintu dengan rasa malas. “Pasti dari cowok misterius itu lagi ya?” tanya Yasmin. Lilis terkekeh. “Siapa lagi.” “Ya udah. Makasih ya Ma, met istirahat.” “Ya sayang sama-sama. Tidur yang nyenyak.” Yasmin meletakkan begitu saja kotak itu di nakas, awalnya dia tak peduli. Namun iris hazelnya mulai melirik perlahan diiringi rasa penasaran. Lalu, gadis itu mulai membukanya. Seketika matanya membulat, terdapat sebuah baju panjang menjuntai warna marun yang cukup mewah. ‘Waah, baju! Pasti Pak Dameer yang ngasih. Aku makin yakin, dia lah yang ngasih hadiah misterius itu selama ini, walaupun pake inisial DV,' batinnya. Dengan antusias dia mencoba memakai baju itu. Namun kedua alisnya berkerut, karena baju yang dia pakai lebih terlihat seperti gamis, tangannya panjang padahal umumnya sebuah gaun itu tanpa lengan atau hanya tali yang tipis. Dia lebih kaget lagi, saat mendapati sebuah jilbab warna senada di bawahnya. 'Ih, apa-apaan ini! Pak Dameer ngajak aku dinner apa pengajian!' Yasmin mendengkus kesal. Lalu sedikit melempar baju itu ke lantai dan kembali merebahkan tubuhnya. Rasa bahagia mendapatkan hadiah baju, mendadak menguap seketika, dia pun tertidur dengan perasaan kesal. Di tempat yang berbeda, seorang lelaki mengharapkan gadis yang dicintainya berbahagia dengan hadiah pemberiannya. **** Keesokan hari, di sore yang menyiratkan warna jingga keemasan. Yasmin pergi bersama karyawan lain, untuk menghadiri pesta pernikahan rekan kerjanya. Beruntung, semua kompak memakai baju kerja, sehingga dia tak perlu mengeluarkan uang untuk membeli gaun. Brukk!! “Aduh!” ujar seorang gadis mengaduh sambil mengusap-usap lengannya. Yasmin bergegas menempelkan kedua telapak tangannya. “Maaf Mbak, gak sengaja.” “Yasmin?” Yasmin menatap ke arah gadis itu. “Eh, Gladys. Apa kabar?” Mereka bersalaman dan saling berpelukkan. “Baik. Lo gimana?” “Baik juga. Udah lama ya gak ketemu, sejak kita wisuda. Lo gak berubah, tetep cantik kayak dulu,” cetus Yasmin. Kedua gadis itu, pernah satu perguruan tinggi dan berteman cukup akrab walaupun beda jurusan. “Ah, lo juga tetep cantik. Iya nih, habis lulus gue tinggal di London, jadi model. Tapi sekarang mutusin tinggal lagi di Jakarta.” “Wuih, keren. By the way, lo jadi bridesmide?” tanya Yasmin kemudian, sambil menatap gaun mewah berwarna salem yang dipakai Gladys. “Iya. Yang nikah itu, kakak sepupuku.” “Oh, gitu. Eh, tukeran nomor hp dong!” “Boleh banget!” Setelah mengobrol beberapa saat, mereka berpisah karena Gladys harus menjalankan tugasnya sebagai bridesmide.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD