Awalnya, saat melihat Adinda di bawa ke satu tempat oleh Isti CS, Ria hanya berfikir untuk menolong Adinda. Salah satu caranya adalah dengan Ria yang menerobos dan pasrah setelahnya. Namun, ketika Ria berfikir jika seperti itu kemungkinan Isti juga akan membully Ria. Mungkin juga akan lebih aprah dari yang Adinda dapatkan nantinya.
Setelah berfikir cukup lama, Ria yang punya satu kesempatan untuk menolong Adinda keluar dari zona itu kini berlari ke tempat dimana Adinda tadi mempermalukan dirinya lagi. Lagi – lagi Ria merasa bersalah kepada Adinda.
Ulah dirinya yang membuat Adinda sampai ke titik ini. Padahal, niat awalnya Ria memberikan kesempatan untuk membuat Adinda menjalin hubungan pertemana dengan yang lainnya. Bukan hanya dengan Ria.
Ria berlari ke lapangan basket kemudian berlari ke tengah orang yang sedang bermain tanpa takut akan bertubrukan dengan orang – orang yang sedang bermain di sana. Lalu menarik Yudha keluar dari lapangan.
Perlakuan Ria itu membuat riuh orang – orang yang sedang menonton permainan basket dari Yudha dan juga para pemaiin yang sedang asyik bermain dengan Yudha. Sebelumnya, Yudha tidak tertarik dengan Ria. Namun saat Ria menyebutkan jika Adinda dalam bahaya rasa khawair dari hati Yudha mulai timbul.
Namun, Ria benar – benar tidak mengerti dengan Yudha yang mengabaikan perkataannya waktu itu. Lalu, Ria memohon dengan sangat kepada Yudha.
“Kenapa harus gue ?” Tanya Yudha pelan.
Ria meneguk ludahnya.
Sebenarnya, Ria sendiri tidak tahu kenapa dia berlari ke arah Yudha. Itu hanya refleks dan tentu saja Ria tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa lagi selain Yudha.
Tentu saja, selain Yudha tidak ada yang ditakuti oleh Isti. Pemikiran itu baru saja muncul ketika Ria sudah melihat Adinda tertekan di ruangan yang tertutup rapat. Namun, pada saat sebelum itu, Ria tidak berfikir seperti itu.
“Hanya lo yang bisa nolongin Adinda. Gue mohon, lo bantuin gue sama Adinda.”
Perkataan Ria menguap begitu saja ke udara tanpa di dengar Yudha. Yudha benar – benar tidak merespon permintaan Ria saat itu. Kemudian, Ria menatap Yudha yang kembali bermain basket bersama teman – temannya. Kemudian, Ria benar – benar harus menghadapi Isti sendiri.
Namun, tidak di sadari Ria. Setelah melihat Ria berlari entah kemana. Yudha mengejar Ria secara diam – diam. Mengikutinya kemana Ria pergi lalu terdiam sebentar ketika Ria membuka pintu. Sebenarnya, Ria cukup lama berfikir untuk masuk atau tidak ke ruangan itu. Namun, Ria benar – benar tidak bisa berbuat apa – apa lagi. Setidaknya, Ria bertanggung jawab di depan Adinda.
Dirinyalah yang membuat Adinda ada di titik ini. Ada di ruangan ini. Dengan luka yang tidak pernah Adinda dapatkan.
“Gue ga tau juga si Yudha ikutin gue sampe ke Gudang.”
Adinda sekarang mengangguk ketika cerita Ria selesai. Ria benar – benar sangat berani. Menolong Adinda walau harus berhadapan dengan ke- gilaan Isti dan ke- bar-bar- an anak buahnya Isti.
Lalu Adinda juga memuji Ria yang berani sekali meminta tolong Yudha walaupun dia sendiri tidak mengenal Yudha secara pribadi.
“Gue pas masuk ke sini kaget. Lo deket – deketan sama dia.” Kata Ria lagi.
Adinda terkekeh, “ga tau juga gue, dia aja yang begitu.”
“Apa dia suka sama lo ?”
Adinda yang sedang tertidur di kasur UKS di temani Ria yang duduk di kursi kini terbangun kemudian menatap Ria yang sedang tersenyum kecil.
“Ga mungkin.” Kata Adinda, “ga boleh juga.”
Kerutan di kening Ria membuat Adinda menelan ludahnya susah payah.
“Nyokap gue, kalo tau gue deket sama cowok. Mungkin di gorok gue.”
Kemudian Ria tertawa, “ya ampun. Kolot banget nyokap lo.” Ucap Ria, “lo udah umur segini masih di urus gini gitu sama nyokap lo ?”
Adinda tersenyum kecil. Tidak tahu saja Ria bagaimana ketatnya seorang Bianca ketika di rumah dan di tempat les. Ketat dan sangat perfectionist.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Adinda pulang ke rumah diam – diam. Takut – takut ibunya itu sudah pulang ke rumah. Adinda tidak bisa menyembunyikan luka di sudut bibirnya. Jadi, Adinda takut akan di marahi jika ketahuan.
Hembusan nafas dari Adinda benar – benar menandakan bahwa rumah itu kosong. Setidaknya, jika harus di marahi Adinda tidak ingin sekarang. Rasanya kepalanya mau pecah ketika mengingat bagaimana kerasnya punggung Adinda berbenturan dengan dinding dingin di ruang dengan lampu redup itu.
Adinda membersihkan diri kemudian bercermin. Lukanya benar – benar sobek sampai ke bibir depannya. Jika orang perhatian, mungkin luka kecil ini akan terlihat walau singkat. Namun, sebaliknya. Jika orang tidak melihatnya, itu artinya orang tersebut tidak terlalu memperhatikan Adinda.
Perkataan itu, Adinda ambil dari beberapa quotes yang pernah di bacanya di beberapa buku novel yang diam – diam Adinda baca di perpustakaan sekolahnya.
“Ameera.”
Adinda kemudian membuka bukunya, mengambil pena kemudian menuliskan beberapa rumus yang ada di buku matematika itu. Menutupi bibirnya dengan tangan yang disanggakan ke dagunya.
“Kenapa, Ma ?”
“Sudah makan ?”
Adinda tidak melihat orang yang membuka pintu kamarnya di belakang. Sudah pasti itu ibunya. Adinda kemudian menggeleng untuk menjawab pertanyaan ibunya tadi.
“Makan dulu.”
Adinda menggeleng lagi. “Duluan aja, Ma. Tanggung.”
Bukan tanggung yang sebenarnya, Adinda hanya tidak ingin bertemu dengan ibunya dulu. Hanya itu dan satu – satu caranya adalah berbohong untuk kebaikannya. Kemudian ibunya berjalan mendekati Adinda lalu menatap anaknya yang tengah belajar.
“Ada ujian besok ?”
Lagi – lagi Adinda menggeleng, “ini ada pelajarannya besok. Setidaknya, aku harus ngerti dulu.”
Iya.
Biasanya seperti itu juga. Hanya saja hari ini Adinda tidak berniat belajar. Terpaksa untuk menutupi lukanya. Ibunya itu mengusap puncak kepala Adinda kemudian berjalan menjauhi Adinda.
“Mama masakin kamu dulu, abis itu kamu panasin lagi kalo udah laper.”
Adinda mengangguk kali ini.
“Jangan makan kemaleman. Entar gendut.” Kata ibunya sebelum benar – benar keluar dari kamarnya dan menutup pintu kamar Adinda.
Adinda menghembuskan nafasnya lega. Melepaskan pena yang tadi dipegangnya lalu menyandarkan diri di sandaran kursi belajar miliknya. Adinda sedang malas malam ini. Lagi pula, Adinda akan belajar pada pagi harinya. Setidaknya, prinsip siswa lain harus Adinda terapkan juga.
Jika ada besok untuk belajar, kenapa harus dari sekarang ?
Perkataan itu tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar. Ada benarnya, karena sebagai seorang siswa, Adinda harus ada waktu untuk mengistirahatkan otaknya dari beberapa pelajaran. Kemudian salahnya, kita sebagai pelajar juga harus memulai dari sekarang sehingga tidak akan menyelesai nantinya.
Entah, hanya beberapa perbedaan dan menurut Adinda itu bisa situasional. Menyesuaikan dengan keadaan. Jika keadaanya sulit seperti Adinda sekarang, perkataan itu bisa di gunakan. Namun, jika situasinya dimana Adinda harus belajar dan ditekan belajar, perkataan itu sangat salah.
“Ameera.”
Adinda terkaget di tempat duduknya saat ibunya memanggiln dirinya sekaligus membuka pintu kamarnya lagi.
“Kenapa ?” Tanya Adinda lalu berhadapan dengan ibunya itu.
Ibunya Adinda duduk di kursi di samping kursi Adinda sambil menatap Adinda, “Yudha, dia jadi mengambil les di tempat mama.”
Adinda kira itu akan menjadi berita baik untuk Adinda juga. Namun yang terjadi adalah itu hanya ebberita baik untuk ibunya sedniri. Adinda tidak mau ada di kelas bersama Yudha. Di sekolah sudah cukup bertemu dengan Yudha. Sekarang apa harus di tambah di kelas les juga ?
“Dia akan ikut di kelas kamu.”
Iya.
Berita yang tidak enak di dengar oleh Adinda dari ibunya itu membuat Adinda berputar kembali ke meja belajarnya lalu mulai menuliskan beberapa angkat dan menjumlahkannya setelah mengatakan ‘iya selamat’ kepada ibunya itu.
“Bibir kamu kenapa ?”
Oh.
Sial.