Bab 3. Ramalan

1312 Words
"Ada, Panglima. Semalam saya melihat beberapa prajurit kerajaan bertarung di tengah-tengah desa, tapi saya tidak bisa melihatnya secara jelas." Styx mengusap-usap dagunya, berpikir. "Nanti saya coba bertanya dengan mereka. Sekarang kamu pulanglah, sudah siang, nanti sore kamu harus berlatih pedang, langsung dengan saya." Pria itu membelalak, berlatih pedang langsung dengan Panglima Styx yang sangat dihormati? Mimpi ini bahkan terlalu mengasyikkan untuk diakhiri, Adrasta berpikir ia ingin terus tinggal di zaman ini, di mana ia bisa dihargai orang lain secara terang-terangan. Sang panglima menepuk punggung pria yang tengah melamun itu, ia terlonjak kaget. "Kamu punya tempat tinggal?" Pria yang ditanyai hanya menggeleng. "Tinggallah bersamaku, aku tinggal di salah satu gubuk tua, lokasinya tidak jauh dari istana Bergelmir. Ke sanalah, jika kamu merasa kebingungan atau tersesat, tanya saja dengan masyarakat sekitar sana, kediaman Panglima Besar Bergelmir." Adrasta segera mengangguk dan beranjak dari duduknya, ia sangat lelah hari ini, ingin segera merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk. °°° "Permisi, Pak. Apa bapak tahu rumah Panglima Besar Styx?" Pria setengah tua yang ditanyai hanya melihat penampilan Adrasta dari atas rambut hingga ujung kaki. "Apakah Panglima Styx memiliki saudara kembar?" tanya pria itu yang merasa wajah pemuda di depannya ini hampir mirip dengan Styx, yang membedakannya hanyalah tanda lahir yang terlihat seperti cakaran hewan buas dan memenuhi sebagian wajah pemuda itu. "Bu-bukan, saya ini hanya ... prajurit ... nah, iya prajurit baru." Bapak-bapak itu hanya mengangguk paham. Sebenarnya ia tidak begitu yakin dengan perkataan Adrasta. "Rumahnya yang ini, kamu masuk saja tidak apa, mungkin Panglima Styx masih sibuk di istana." "Oh, baik, Pak. Terima kasih banyak." "Pak? Saya ini bukan bapak kamu." Setelahnya ia berlalu meninggalkan pemuda itu, orang yang aneh, pikirnya. Ia meninggalkan Adrasta yang terlihat kebingungan dengan sikap orang-orang di sini. Akhirnya Adrasta sampai di depan sebuah gubuk tua yang terlihat tidak terlalu sempit, ia pikir kostan yang ia tinggali di Jakarta lebih kecil dari bangunan ini. Ia segera masuk ke rumah itu dan yang ia lihat hanyalah bangunan kosong yang tidak ada sedikit pun hal yang menarik. Pemuda itu berusaha mencari kamar tidur, ia berharap semoga saja ada dua kamar tidur di sini karena tidak mungkin ia akan tidur satu ruangan dengan Panglima Styx, bisa-bisa ia tidak dapat tidur nyenyak. Akhirnya ia menemukannya, sebuah kamar kosong yang tidak ada tanda-tanda seseorang menempatinya, ia membuka sebuah lemari kayu yang terlihat begitu tua, di bagian paling atas ia menemukan sebuah lukisan yang menampakkan dua orang pria dengan seorang wanita di tengahnya. "Ini Panglima Styx, lalu ini ... Raja Triton, lalu siapa wanita ini?" Tak ingin mendapatkan masalah karena terlalu ingin tahu urusan Panglima Styx, Adrasta segera mengembalikan lukisan itu dan meraih sebuah tikar di bagian paling bawah lemari. Ia segera menggelar tikarnya di atas lantai, lalu segera menidurkan dirinya di sana. °°° Seseorang kembali terbangun dari tidurnya dengan keadaan bingung dan terkejut. Ia terbangun dari tidurnya karena jam alarm yang berbunyi, menunjukkan pukul 08.00. Ia masih mematung di atas tempat tidurnya. Apakah ia tadi hanya bermimpi? Namun, kejadian itu terlihat begitu nyata. "Apa benar hanya sebuah mimpi? Ya, mungkin terdengar mustahil seseorang bisa kembali ke masa lalu dan menemui wujud reinkarnasi sebelumya. Mungkin aku hanya terlalu keseringan menulis cerita fantasy." Pria beranjak dari tempat tidurnya dan segera membersihkan diri. Setelah kembali dari kamar mandi, ia segera menghadapi sebuah komputer yang sudah menjadi teman sekaligus penyelamat hidupnya selama hampir tiga tahun ini. Ia diam sejenak, ia baru ingat bahwa semalam ia baru saja menyelesaikan naskah ceritanya. Sebenarnya ia masih memiliki ide-ide lain. Namun, karena teringat dengan mimpinya semalam, ia berpikir akan menulis mimpi itu saja, dengan itu ia tidak akan pernah lupa mengenai kejadian di mimpinya yang aneh itu. Kata demi kata ia susunkan dengan rapi, kalimat demi kalimat ia rangkai sedemikian rupa. Setelah kurang lebih satu jam bergelut dengan komputernya, akhirnya Adrasta berhasil menyelesaikan satu bab di awal ceritanya yang berjudul 'Reinkarnasi Sang Panglima Bergelmir', ia segera mempublikasikannya di salah satu platform menulis, mungkin untuk esok hari ia akan mengembangkan alurnya berdasarkan imajinasinya sendiri. Pria itu masih duduk di kursinya setelah mematikan komputernya, ia masih memikirkan mengenai mimpi itu. Entahlah, ia merasa itu bukan hanya sekedar mimpi. Tiba-tiba sebuah ide muncul begitu saja dalam otaknya. "Ya! Mungkin aku akan bertanya pada seorang peramal." °°° Di sisi lain, seorang gadis bernama Cordelia tengah duduk bersama kedua orang tuanya di depan seorang peramal yang cukup terkenal di daerahnya. "Jadi, dokter bilang tanda lahirmu itu tidak bisa dihilangkan?" Cordelia mengangguk mengiakan pertanyaan wanita tua itu. "Mohon maaf, tapi saya juga tidak tahu cara menghilangkan tanda lahir itu. Mungkin ada. Namun, itu hal yang terdengar mustahil." "Apa itu?!" tanya Cordelia dengan api harapan yang terus berkobar di matanya. "Biar saya jelaskan. Menurut kepercayaan suatu kaum, kita ini memiliki tiga belas kali proses reinkarnasi." "Maksudnya?" "Kalian paham arti kata reinkarnasi, bukan?" Mereka mengangguk. "Manusia itu akan bereinkarnasi sebanyak tiga belas kali, tentunya di zaman yang berbeda dan setelah generasi sebelumnya mati. Dan menurut tanggal lahir dan garis keturunan, Cordelia ini merupakan reinkarnasi yang ke tujuh." "Lalu apa hubungannya dengan penghilangan tanda lahir saya?" Wanita tua itu tertawa kecil. "Tanda lahir itu dipercaya berasal dari bagaimana cara kematian generasi sebelum kamu dilahirkan, artinya adalah tanda lahir yang kamu miliki itu berasal dari luka di leher milik reinkarnasi ke enam yang menyebabkannya mati." Mereka bertiga mengangguk paham. "Jadi, satu-satunya kemungkinan untuk menghilangkan tanda lahirmu itu dengan cara menyelamatkan reinkarnasi ke enam itu di zamannya." "Bagaimana caranya saya bisa kembali ke zaman reinkarnasi ke enam itu?" Wanita itu menggeleng. "Mustahil, itu terdengar seperti dongeng. Namun, ada yang bilang tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, tunggu saja keajaiban itu jika ada, jika tidak, nikmati saja kehidupanmu yang sekarang. Jika bukan fisik yang membuatmu dihargai, maka cobalah dengan hal lain." Wanita itu pun berlalu meninggalkan ruangan itu. "Kembalilah, kamu akan menemukan hal yang terdengar kebetulan hari ini, bersiap-siaplah." Ketiga orang itu segera beranjak dari duduknya, hendak meninggalkan kediaman sang peramal itu dengan perasaan yang kurang puas. Cordelia belum juga menemukan jawaban dari pertanyaan besar yang ia simpan sejak lahir itu. Namun, setidaknya ia tahu bagaimana tanda lahirnya itu bisa terbentuk. Di depan rumah sang peramal, gadis itu tak sengaja menabrak sebuah bayangan seorang pria dengan masker hitam dan topinya. "Oh, maaf, Tuan." Mereka pun berdiri. Adrasta menatap setiap inci dari wajah gadis yang sempat menabraknya tadi. Ia seperti tidak asing dengan wajah gadis dengan syal rajutnya itu. "Ayolah berpikir, Adrasta! Siapa dia?" ucapnya dalam hati, berusaha mengingat-ingat. "Sekali lagi mohon maaf, saya permisi." Gadis itu pun berlalu dengan kedua orang tuanya tanpa sepengetahuan Adrasta yang tengah melamun di sana. Seperti disambar petir, Adrasta mengingatnya. Dia adalah gadis yang berdiri di antara Panglima Styx dan Raja Triton dalam lukisan yang ia temui di dalam lemari sang Panglima. "Tunggu! Kamu---" Terlambat, mobil yang ditumpangi gadis itu sudah melaju, Adrasta segera mengejarnya. Namun, hasilnya nihil, gadis tidak terkejar. Tanpa pikir panjang, pria itu segera memasuki bangunan kayu yang merupakan tempat tinggal sang peramal. "Apakah benar tebakanku, baru saja kau bertemu dengan seorang gadis yang sempat hadir dalam mimpimu?" Adrasta tersenyum miring di balik masker hitam yang ia kenakan. Benar-benar seorang peramal, pikirnya. "Ya, dan saya kemari ingin bertanya mengenai mimpi saya malam tadi." "Mendekatlah!" Pria itu menurutinya, ia segera mendekat dan wanita itu menatap maniknya dengan seksama. "Itu bukanlah mimpi. Namun, perjalanan lintas waktu yang sangat jarang terjadi." Adrasta menatap wanita itu tidak percaya. "Memangnya ada kejadian seperti itu?" "Entahlah, tapi kamu baru saja mengalaminya, mungkin akan berlanjut." Tidak ada jawaban dari mulut pria itu. "Kau lihat gadis tadi? Ia kemari untuk menghilangkan tanda lahir di lehernya, dan satu-satunya cara adalah menyelamatkan generasi sebelumnya, yaitu reinkarnasi ke enamnya, dengan kata lain ia harus kembali ke zaman itu." "Mungkin ini keajaiban dari Tuhan," ucap Adrasta pelan. "Jika kamu merasa pernah melihat gadis itu di mimpimu, berarti generasi sebelum kalian berada pada zaman yang sama, kalian akan menemukan jalannya bersama." °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD