Beberapa detik terpaku kaget Rere segera bangkit saat sadar posisinya yang menindih Abian di atas kasur.
Rere menghentakan tangan Abian yang mencekalnya balas menatap Abian tajam.
"Maling" ucap Abian lagi.
"Sebarangan lo ngomong. Lo yang duluan ambil hp gue sini balikin" Rere akan merebut ponselnya tapi dijauhkan oleh Abian.
"Sialan! balikin" Namun lagi-lagi Abian menjauhkan ponsel itu dari jangkauan Rere.
Rere yang semakin kesal memukuli Abian dengan guling.
"Stop. Dasar cewek bar-bar" Abian mencekal tangan Rere lalu menariknya agar Rere duduk di atas kasur.
"Diem" Rere akhirnya memilih diam. Lelah juga tarik urat dengan Abian. Abian menyalakan lampu kamar hingga keadaan yang tadi temaram jadi terang benderang. Keadaan sedikit canggung saat Rere menyadari Abian shirtless. Tidak pakai baju. Astaga! Sebenarnya sudah biasa melihat kakak-kakak lelakinya shirtless ketika di rumah. Tapi ini Abian. Lelaki asing.
"Ngiler liat d**a gue" ejek Abian menyadari lirikan Rere pada dadanya.
"Dih. Amit-amit!"
Rere menahan napas ketika tiba-tiba Abian mendekat. Menyampirkan rambut Rere ke sebelah kiri hingga terlihat leher Rere yang putih bersih namun ada sedikit luka disana bekas tak sengaja tersundut rokok oleh Abian kemarin.
Rere mendorong Abian menjauh lalu langsung berdiri menghindari Abian. Apa-apaan tadi itu? Apa yang akan dilakukan Abian.
"Tenang aja gue cuma mah liat bekas luka lo kemarin. Udah kering ternyata" jelas Abian tak mau Rere salah sangka.
"Lagian enggak napsu gue sama lo yang masih.... kecil" diakhir kalimat dengan lancang tatapan Abian beralih pada d**a Rere disertai seringai penuh ejekan.
Sialan Rere merasa dilecehkan.
"Gila!" dengan cepat Rere merebut ponselnya yang ada di tangan Abian lalu melemparkan ponsel Abian yang ada padanya ke atas kasur.
"Selesai. Semoga setelah ini gue gak perlu ada urusan lagi sama lo" setelah mengatakan itu Rere berlalu dari sana dengan menghentakan kakinya tak lupa disertai lirikan sinis yang ia tujukan spesial untuk Abian.
"Lo gak akan bisa semudah itu lepas. Resyana" gumam Abian melihat kepergian Rere.
*****
Rere baru sampai rumah dengan ojek online. Ia terdiam sebentar di depan pintu rumah yang masih tertutup. Menunduk melihat dadanya yang memang tidak terlalu besar itu. Tapi apa perlu diperjelas dan dikatakan oleh seorang pria pula membuatnya insecure saja.
"Kapan-kapan gue ganjel kaos kaki" ucap Rere menahan kesal.
"Apa yang diganjel kaos kaki, dek?" terdengar suara dari belakang tubuh Rere, ketika berbalik terlihat Satria dan Dean disana. Yang tadi bertanya adalah Satria.
"Sepatu, Bang. Aku beli sepatu kegedean" Alibi Rere tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Bisa malu dia.
"Hahahaha emang bener kamu tuh cocoknya belanja di kids store, dek. Badan kamu semua serba ekonomis" ledek Dean tertawa puas.
"Enak aja sebentar lagi aku punya ktp tau" kesal Rere memukul pundak Dean kencang.
"Sakit" Rere hanya menjulurkan lidahnya meledek.
"Beli apa, bang?" tanya Rere melihat plastik hitam di genggaman tangan Satria.
"Soto. Kak Gemma ngidam. Aneh-aneh aja padahal dia enggak suka soto tapi minta soto" jelas Satria.
"Oh, jadi kamu enggak ikhlas?" Satria menahan napas ketika pintu rumah terbuka dari dalam dan terlihat istrinya Gemma berdiri di depan sana dengan perut besar.
"Bukan gitu sayang maksud aku" Satria mencoba menjelaskan tapi Gemma acuhkan berlalu dari sana.
"Bodo amar, Sat. Aku marah pokoknya sama kamu. Aku mau mogok makan" samar-samar terdengar ucapan Gemma dan Satria yang masih terus membujuk.
"Ngambek kok bilang-bilang, kak" Dean hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah suami istri itu.
*****
Hari senin seperti biasa dibawah teriknya matahari pagi semua siswa siswi berkumpul dilapangan untuk melaksanakan upacara bendera.
Rere sedikit menundukan kepalanya saat wajah memejamkan mata tak kuat tersorot matahari pagi. Keringat membanjiri wajah Rere. Wajahnya pun sedikit memerah.
Rere membuka matanya saat merasa terik matahari tak terlalu menyilaukan wajah dah tubuhnya. Barisan didepan yang tadinya kosong terisi seorang pria tinggi dengan bahu lebar yang cukup melindungi Rere dari terik matahari. Fyi, Rere berbaris di barisan paling depan perempuan dan tepat dibelakang barisan laki-laki. Teman sekelasnya Gofar yang tadi baris sendiri karena tidak kebagian teman kini sudah ada teman baris di sampingnya.
Rere sedikit mendongkak lalu memiringkan kepalanya melihat siapa gerangan yang berdiri di hadapannya.
"Kak Abian" gumam Rere.
"Hmmm" Abian bergumam merasa dirinya terpanggil.
Abian tadi terlambat sekolah. Seperti biasa ia akan melompati pagar samping sekolah yang lumayan tinggi itu. Mengendap-ngendap. Ketika barisan kelas paling pojok masih ada yang kosong Abian segera menyelinap. Tapi wajah Abian yang sudah sangat familiar di sekolah ini memudahkan orang-orang mengenalinya. Buktinya Bu Uti yang sedang menjadi pembina upacara, guru BK kesayangannya itu sempat menatap tajam padanya. Setelah selesai upacara pasti ada hukuman menanti. Sia-sia Abian melompati pagar tahu begitu tadi ia trobos saja masuk gerbang sekolah.
"Lo ngapain disini" bisik Rere. Sebisa mungkin bicara pelan tanpa menggerakan bibirnya.
"Upacara" balas Abian singkat.
"Ngapain lo ikut di kelas sepuluh. Tempat lo disana enak bawah pohon adem" Abian hanya mengakat bahu cuek. Rere yang masih kesal dengan ucapan Abian kemarin ditambah sikap Abian sekarang refleks memukul kencang punggung Abian hingga menimbulkan suara cukup keras. Lupa masih ditengah-tengah upacara.
"Kalian yang ribut silakan maju kedepan" Pembina upacara yang tadi sedang memberikan amanat teralihkan dengan keributan kecil yang Rere buat.
Seakan tersadar apa yang ia lakukan Rere menunduk takut.
"Saya ucapkan sekali lagi kalian silakan maju kedepan" ucapan bu Uti kali ini terdengar lebih tegas.
Abian menarik tangan Rere membawanya maju kedepan. Rere dan Abian berdiri di samping Bu Uti si pembina upacara.
Rere menundukan kepalanya. Saat ini ia benar-benar merasa sangat malu.
*****
Hukuman yang diterima Rere dan Abian adalah berdiri sikap hormat di depan tiang bendera sampai istirahat pertama.
Rere merasa seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat. Matahari benar-benar terasa sangat terik. Tangannya pun sudah benar-benar pegal.
Rere mendongkak ketika merasa sesuatu mengenai kepalanya. Abian menempelkan tangannya bagian siku yang sedang hormat pada kepala Rere. Tinggi Rere yang hanya sebatas d**a Abian memudahkan Abian melakukan itu. Tangan Abian sudah sangat pegal. Bisa saja Abian pergi dari sini tapi jika Bu Uti tahu pasti urusannya akan semakin panjang. Lagipula tinggal beberapa menit lagi. Sedikit tak tega juga meninggalkan adik kelas bar-barnya ini sendiri. Ingat hanya sedikit!
"Jauh-jauh. Ini semua gara-gara lo" ucap Rere ketus menatap Abian sengit. seumur ia sekolah tak pernah sebelumnya dihukum seperti ini.
"Lo yang gak mau diem" balas Abian.
"Pokoknya ini semua salah lo. Kalo bukan karena lo pancing emosi gue gak bakal gue dihukum begini. Kaki gue sakit ini lama-lama begini mana panas untung tadi gue sempet pake sunblock. Tapi, tenggorokan gue haus banget ini. Bisa pingsan gue lama-lama" Abian mendengarkan saja ocehan adik kelasnya itu tanpa ada niat membalasnya.
Hingga bel istirahat berbunyi Abian dan Rere bisa bernafas lega. Hukuman mereka selesai. Abian menggerakan tangan kanannya yang terasa sakit begitupun Rere.
Rere berlalu dari lapangan tanpa menatap Abian. Pergi begitu saja.
Abian berjalan menghampiri Romi yang sudah duduk di pinggir lapangan bahkan sebelum bel istirahat berbunyi.
"Thanks" ucap Abian saat Romi melemparkan sebotol minuman dingin padanya.
"Tumben lo nurut kena hukuman. Biasanya udah cabut ke kantin" tanya Romi heran. Abian hanya mengangkat bahu acuh. Tanpa Romi sadari senyum kecil terlihat di wajah tampan Abian.