2.Abian Shaka A.B

1147 Words
Bel tanda istirahat berbunyi tanda bahwa siswa siswi bisa beristirahat sejenak sebelum nanti melanjutkan kembali pelajaran. Rere menghela napas bosan. Masih terasa kesal di hati ponselnya masih belum kembali. Abian Shaka A.B Rere sekilas melihat nametag pria yang mengambil ponselnya. "Nyok ke kantin" Selin sahabat Rere menepuk pundak Rere yang sedari tadi melamun. "Kamu kenapa, Re? Aku perhatiin kamu dari pagi ngelamun terus?" Tanya Asyifa atau yang kerap disapa Syifa. Syifa gadis keturunan jawa yang lemah lembut itu merasa ada yang berbeda dari sahabatnya. "Tau dah asem bener gue liat muka lo" Taya yang masih sibuk mencatat ikut menimpali. "Ada yang kenal orang yang namanya Abian?" Ketiga teman Rere hanya menatap heran. "Abian rohis?" "Abian OSIS?" "Abian Shaka Ali Biantara 12 IPS 3?" Rere alihkan perhatiannya pada Taya yang masih asyik dengan catatannya. "Abian Shaka. Lo kenal Tay?" Rere ingat nama itu sekilas membaca nametag nya "Tay..." Taya masih bergeming fokus pada catatan. "Tay Tay lo kira gue tayi" nyinyir Taya sebal. "Taya gue tanya serius loh" Rere gemas melihat sikap Taya. "Abian Shaka Ali anak 12 IPS 3 temennya sepupu gue, badung banget tuh orang" ucap Taya yang sudah menyelesaikan acara menulisnya sambil membereskan alat tulisnya. "Ada urusan apa lo sama dia, Re? Gue tau tuh gengnya minggu kemarin baru dihukum guru BK gara-gara ketauan ikut tawuran" jelas Selin. "Enggak, udah yuk ke kantin" "Yok, laper banget gue" **** "Buru-buru amat, Re?" Tanya Selin yang ketika guru pamitan terburu-buru merapikan buku dan barang lainnya. "Iya, lo tau sendiri Abang gue suka rese kalo nunggu" jelas Rere setelah berpamitan pada 3 temannya Rere langsung melesat keluar. "Hari ini Rere aneh banget ya" Syifa buka suara melihat keanehan Rere yang dari pagi banyak melamun. Selin dan Taya mengangguk mengiyakan. "Taudah tuh anak ngapa aneh banget" **** Gedung kelas 12 berada cukup jauh dari gedung kelas 10. Rere harus berjalan menebalkan muka melewati barisan kelas-kelas kakak tingkatnya. "Asem kaya lagi liatin pelakor lewat aja" Badge anak setiap tingkat ada perbedaan jadi bisa dengan mudah membedakan setiap angkatan. Rere yang melewati kawasan kelas 12 tentu dengan mudah dikenali bahwa dirinya adik tingkat. "Suitt..suit..." Rere risih saat beberapa pria yang dilewati mulai menggodanya. "Nah ini IPS 3" Rere yakin si Abian itu belum pulang karena memang kelas 12 ada bimbingan untuk persiapan Ujian Nasional. Kecuali jika pria itu membolos. Mengintip sedikit dari jendela kelas tatapannya langsung terarah ke pojok kelas. Yakin jika orang-orang seperti Abian ini pasti langganan di pojok belakang kelas. Tidak ada si Abian itu tapi Rere melihat salah satu dari empat pria kemarin. Sedang duduk bermain game di ponsel. "Permisi" ucap Rere memberanikan diri hingga mengalihkan atensi orang-orang yang ada di dalam kelas. "Iya dek kenapa?" Tanya seorang pria, mungkin itu ketua kelas karena dia yang paling sigap. "Apa ada yang namanya Abian?" Semua yang ada dikelas langsung melihat ke pojok kelas. Pria yang tadi Rere lihat sedang bermain game juga sedang serius menatap Rere. Di Sana, di pojok kelas terlihat seorang pria yang sedang tertidur di kursi yang dijejerkan merapat. "Bangun ada yang nyariin lo" pria yang tadi sedang bermain game dengan seenaknya melemparkan sebuah buku catatan yang tepat mengenai wajah Abian. "Sialan" Abian mengumpat kesal saat tidurnya terganggu. Abian melihat kode lirikan temannya yang menunjuk arah pintu. Dengan mengernyit dia mencoba mengingat siapa gadis yang berdiri di depan sana. Selang beberapa detik Abian bangun berjalan kedepan menghampiri Rere. "Rom titip tas gue" usap Abian sambil berlalu. Abian menarik tangan Rere untuk mengikutinya. Dengan terseok-seok Rere mencoba mengimbangi langkah besar Abian. Mereka menjadi tontonan anak-anak yang berdiri di lorong sekolah. "Sakit. Lepas!" Rere merasakan perih dipergelangan tangannya karena cengkraman Abian. Sampailah mereka di tempat kemarin Rere memergoki pengeroyokan. Shaka melepaskan tangan Rere dengan kasar hingga hampir membuat Rere terjatuh limbung. "Kasar banget jadi cowok" Dengan kesal Rere mencoba memukul Abian tapi dengan cepat Abian bisa menghindar yang menyebabkan Rere tersungkur ke tanah. Rere melirik Abian. Ia bisa melihat senyum sinis di pria itu. "Kenapa lo cari gue?" Tanya Abian langsung. Rere berdiri menepuk lututnya yang kotor dan sedikit perih lalu menatap Abian tajam. "Masih nanya lagi, balikin hp gue" sengit Rere "Nanti" "Lo emang niat buat rampok hp gue, ya!" "Kalo lo mau hp lo kembali ikutin kata gue" setelah mengatakan itu Abian berlalu dari sana. Rere ingin mengejar tapi lututnya sekarang baru terasa perih hingga Ia meringis kesakitan. Abian yang mendengar ringisan Rere menghentikan jalannya. Melihat lutut kiri Rere sedikit mengeluarkan darah. "Pake, itu baru lo gak usah khawatir" Abian melemparkan sebuah saputangan yang dengan sigap Rere tangkap. Setelah itu Abian kembali melanjutkan jalannya. Rere melihat Abian berjalan mendekati tembok dan dengan mudah Abian melompati tembok itu. "Males banget gue berhadapan sama manusia macam dia" dengan tertatih Rere mencoba berjalan menjauh dari sana. **** Di rumah keluarga Rere sedang heboh melihat Rere pulang dengan keadaan lutut terluka. Dean yang kebetulan tadi menjemput Rere langsung dijadikan tersangka utama. "Dede kamu apakan adik kamu?" Tanya Jaris selaku sang Papa melihat anak bungsu kesayangannya masuk dengan jalan tertatih. Dengan sigap Haris menggendong Rere lalu mendudukkannya di sofa terdekat. "Jefri, Sultan sini cepat periksa adik kamu" Jefri yang kebetulan berprofesi sebagai dokter segera menghampiri Rere memeriksa keadaan adik bungsunya itu. "Aku enggak tau apa-apa, Pah" Dean langsung memberikan pembelaan. Enak saja Dia yang dijadikan tersangka. "Aku cuma jatoh, Pa" jelas Rere sedikit meringis ketika Jefri sedang membersihkan lukanya. Ternyata lukanya cukup besar juga. Rere ingat tempat Ia terjatuh banyak terdapat kerikil tajam. "Loh ada apa ini?" Mama Rere tadi sedang dirias untuk siap-siap menghadiri lamaran putranya mendengar ribut-ribut menghampiri sumber keributan. "Ya ampun adek kenapa?" Melihat Rere yang sedang meringis kesakitan diobati Jefri. "Abang tadi Mama kan sudah suruh kamu jemput Rere pake mobil" kembali Dean disalahkan. Anita berpikir mungkin Rere jatuh dari motor mengingat putra terakhirnya itu suka kebut-kebutan di jalan. Rere yang tidak tega Dean terus disalahkan memberikan pembelaan. "Tadi aku lagi jalan ternyata tali sepatuku copot enggak sengaja keinjek terus aku jatuh" jelas Rere tidak ingin Kakak yang sebenarnya menyebalkan itu terus disalahkan. Bagaimana pun juga, tadi saat mengetahui keadaanya Dean juga terlihat khawatir bahkan terus menawari untuk menggendong Rere tapi selalu Rere tolak. "Tuh dengerin" **** Selesai diobati Rere dibantu kakak iparnya bersiap menghadiri pertunangan Sultan. Sudah disiapkan satu set pakaian yang senada dengan pakaian anggota keluarga yang lain. "Jelek banget aku perutnya pake kebaya begini" Gemma kakak ipar Rere melihat pantulan dirinya di cermin. Istri Satria itu sedang mengandung bayi kembar 6 bulan hingga perutnya jelas terlihat sangat besar. "Oh, jadi kamu nyesel hamil anak aku" Satria yang kebetulan baru masuk kamar mendengar ucapan sang istri berucap kesal. Langsung berlalu keluar. Gemma tentu saja ikut menyusul suaminya yang sekarang sedang kesal. "Gem jangan lari-lari" Hanna yang sedang dirias berseru gemas melihat Gemma berjalan cepat mengejar Satria. "Semenjak kak Gemma hamil Abang Sat jadi manja ngambekan banget ya kak" ucap Rere "Hormon kehamilan, malah Abang kamu yang muntah sama ngidam aneh-aneh si Gemgem nya yang anteng"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD