Sekitar lima menit kemudian, Arya mencabut pelan-pelan penisnya dari v****a Vina. Arya bergeser ke arah Vera yang sudah terlentang bersiap menerima serangan Arya. Hal yang pertama Arya lakukan adalah mencium bibir Vera. Ciuman itu saling balas dengan panasnya. p***s Arya seperti biasanya masih tegang meski baru saja ejakulasi di v****a Vina. Di tengah cumbuan panas itu, p***s Arya semakin tegang mencapai puncaknya. Arya berpindah menempatkan dirinya di antara s**********n Vera. Dipegangnya penisnya sendiri dan diarahkannya ke k******s Vera. Gesekan-gesekan ujung p***s Arya bermain di muara v****a Vera yang basah. Vera mulai menggelinjang kegelian bercampur nikmat.
"Ayo dong Kak, buruan masukin," rengek Vera.
"Apanya yang di masukin?" pancing Arya. Dia berharap mulut Vera mengucapkan kata-kata jorok yang biasa diucapkan Vina jika sudah bernafsu.
"Itu kontolmu," jawab Vera sambil tersipu malu-malu ketika sadar dia sudah meniru gaya jorok Vina yang dilihatnya tadi.
"Masukin ke mana?" pancing Arya lagi.
"Masukin ke memekku. Entotin memekku, please," jawab Vera semakin menggila.
Arya memasukkan pelan-pelan penisnya ke v****a Vera. Setelah mentok ke ujungnya, tiba-tiba Arya memutar tubuh Vera sehingga dia berada di atas Arya. Sebuah pemandangan indah terpampang di mata Arya. Vera duduk di atasnya, menyanggah tubuhnya dengan kedua tangannya yang bertumpu di paha Arya. Dalam posisi itu, Vera nampak semakin sensual. Kedua belah teteknya yang montok membusung menantang. Dagunya diangkat ke atas. Rambutnya terurai ke belakang.
Vera memulai gerakan naik turun yang membuat tercabut dan tertusuk ke vaginanya. Gerakannya dilakukan dengan perlahan sambil Vera menikmati sensasi yang ditimbulkan gesekan p***s Arya di dinding vaginanya. Vera menggerak-gerakkan otot-otot di dalam vaginanya seolah-olah mengurut p***s Arya.
Arya menikmati permainan Vera yang terasa sungguh nikmat. Dia tidak sedang membandingkan permainan Vina dengan sahabatnya itu tapi lain Vina lain Vera. Mereka berdua sama-sama memberi kenikmatan yang luar biasa bagi Arya. Remasan otot-otot v****a Vera sungguh enak terasa di p***s Arya. Dia mengatur napasnya agar tak cepat mengalami ejakulasi karena diterpa kenikmatan yang ditimbulkan v****a Vera.
Posisi Vera yang memompa Arya dalam posisi condong ke belakang itu membuat kepala p***s Arya menyentuh area G-spot Vera saat dia mengangkat pantatnya. Itu membuat Vera merinding merasakan kenikmatan yang luar biasa. Kenikmatan itu membuat pertahanan Vera gampang bobol. Dia sudah merasa akan sampai ke puncak kenikmatannya lagi. Pantatnya dinaik-turunkan dengan lebih cepat. Semakin lama semakin cepat. Vera menggila. Kedua belah teteknya terguncang-guncang.
Jangankan Arya, Vina pun terpana melihat pemandangan sensual itu. Sensualitas Vera seolah semakin terpancar dari bentuk dan gerakan tubuhnya yang meliuk-liuk seksi di atas tubuh Arya. Tak lama kemudian Vera telah sampai di ujung birahinya. Tubuhnya bergetar hebat berkali-kali. Dijatuhkannya badannya ke belakang dan membuat p***s Arya tertarik ke arah bawah meski masih menancap keras digigit v****a Vera. Kedutan-kedutan v****a Vera masih berlangsung berkali-kali. Kian lama kian melemah dan tubuh Vera berangsur lunglai dan lemas. Wajahnya menampakkan kepuasan bercampur keletihan.
Arya mengangkat badannya ke arah depan. Pelan-pelan dicabutnya penisnya dari v****a Vera yang sudah lemas. Dibetulkannya posisi kaki Vera yang tadi terlipat karena Vera tampak sudah lemah seolah tanpa daya lagi. Dikecupnya bibir Vera sambil dia bisikkan terima kasih di telinga Vera. Ucapan Arya dibalas dengan senyuman tipis oleh Vera yang sedang lemas. o*****e itu sangat menguras tenaganya. Sebuah pengalaman yang baru dialaminya seumur hidupnya. Sebuah kepuasan yang luar biasa.
Vina tahu kalau Arya belum klimaks lagi. Dia berinisiatif untuk menjadi pelampiasan nafsu suaminya yang belum tuntas. Vina bersiap dengan posisi menunggingkan pantatnya dan memposisikan diri sejajar dengan tubuh Vera yang lunglai. Arya mengerti apa yang dimaksudkan Vina lalu bergerak ke belakang b****g Vina. p***s Arya yang masih tegang dimasukkannya ke v****a Vina yang sudah siap tempur.
"Oooohhh..." Vina melenguh pelan sambil mengangkat kepalanya saat Arya menusukkan penisnya dalam-dalam ke v****a Vina. Arya memompa vaginanya dengan tempo agak cepat. Sensasi yang dia rasakan tadi dari v****a Vera membuat Arya panas dan ingin segera mencapai puncaknya. Kurang dari lima menit genjotan p***s Arya di v****a Vina membuat keduanya memuncak. p***s Arya menyemburkan spermanya berkali-kali dalam v****a Vina. Itu dilakukannya sambil terus memompa v****a Vina dengan cepat. Setelah semua spermanya menyemprot habis di v****a Vina, Arya masih memompa cepat. Vina mendesah-desah kenikmatan dan menjelang o*****e keduanya. Akhirnya tercapai sudah klimaks Vina. Tubuhnya mengejang-kejang berkali-kali dan ambruk tertelungkup ke kasur. Tubuh Arya ikut ambruk menimpa tubuh istrinya. Mereka berdua lemas. p***s Arya sedikit melemas setelah o*****e keduanya di v****a Vina. Pagi ini kedua ejakulasinya tercapai di v****a Vina. Vera tidak kebagian semprotan s****a Arya.
Vera mulai pulih tenaganya. Dia baru saja menyaksikan sepasang suami-istri sahabatnya itu mempertontonkan permainan yang tak pernah dialaminya dengan Bimo, suaminya. Bimo hanya menyetubuhi Vera dalam posisi misionaris. Itu pun dilakukan dengan monoton. Kadang Vera tidak mencapai klimaksnya lalu menuntaskannya di kamar mandi dengan melakukan m********i sambil mandi.
Arya bergerak melepaskan penisnya dari v****a Vina. Digulirkannya tubuhnya ke samping ke area kosong antara tubuh Vera dan Vina. Tubuhnya terlentang sambil menikmati udara sejuk di kamar Vera. Napasnya mulai teratur. Matanya dipejamkan untuk beristirahat sejenak setelah pergumulan panjang dengan dua perempuan telanjang yang ada di kedua sisi tubuhnya.
Vera memandangi tubuh Arya yang terlentang. p***s Arya masih setengah tegang dan berlumuran sisa spermanya serta cairan v****a Vina. Melihat itu, Vera berhasrat untuk merasakan p***s Arya di mulutnya. Dia penasaran apa rasanya menikmati p***s di dalam mulutnya. Hal yang belum pernah dia lakukan terhadap Bimo karena Bimo tak pernah mengajarkannya. Vera seolah terobsesi ingin mencoba mengoral p***s Arya di mulutnya. Dia bergerak mendekati p***s Arya yang terlentang di sampingnya. Digenggamnya p***s Arya yang masih agak tegang lalu dijilatinya kepala p***s Arya dengan lidahnya. Arya sadar apa yang dilakukan Vera padanya. Dibiarkannya Vera menikmati penisnya dengan jilatan-jilatan lidahnya. Arya menganggap itu hidangan penutup yang disajikan Vera untuk menutup pergumulan mereka bertiga pagi itu. Vina hanya memandangi Vera yang sedang asyik bermain dengan p***s suaminya. Dibiarkannya Vera tak terusik keasyikannya.
Saat Vera sudah selesai bermain dengan p***s Arya, Vina menepuk lengan suaminya yang masih terpejam terlentang di sampingnya. Arya terbangun dan membuka matanya.
"Kamu mesti ke kantor kan, Kak?" tanya Vina. Arya hanya mengangguk pelan sambil menatap muka istrinya.
"Kita mandi bareng, yuk!" ajak Vina pada Arya dan Vera. Ketiganya beranjak menuju kamar mandi di kamar Vera. Mereka bertiga selanjutnya asyik mandi bersama dan saling menyabuni tubuh mereka. Lagi-lagi Vera mengalami pengalaman baru dalam hidupnya mandi bersama laki-laki yang baru saja menyetubuhinya. Tak hanya itu, dia juga baru kali ini mandi bareng Vina yang telah merelakan membagi kenikmatan dari suaminya dan ikut serta dalam pergumulan gila ini.
Arya pamit kepada dua wanita yang barusan ditidurinya setelah menghirup kopi yang tadi disuguhi Vina yang sudah dingin karena ditinggal lama.
"Aku ke kantor dulu ya," ujar Arya kepada keduanya. Dikecupnya kening Vina penuh kasih sayang. Arya juga sempat mencium pipi Vera. Ketiganya tersenyum lalu Arya meninggalkan Vina melanjutkan obrolannya dengan Vera.
"Eh...kamu gak jemput Seno?" tanya Vina yang baru sadar sambil melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul sebelas kurang lima.
"Pagi tadi aku sudah bilang Mela, adikku untuk menjemput Seno dan membawanya ke rumah ibu," jawab Vera.
Arya masuk ke mobilnya untuk mengambil Laser Distance Meter. Alat pengukur jarak itu akan digunakannya mengukur jarak yang dibutuhkanya untuk merancang bangunan Vera yang sudah dijanjikannya tadi. Sesaat kemudian, Arya sudah sibuk mengukur jarak-jarak yang dibutuhkanya di belakang rumah Vera. Setelah selesai, dia masuk ke mobilnya dan berjalan menuju ke kantornya meninggalkan Vina yang masih asyik ngobrol sama Vera. Dari penampilan Vina tadi, Arya bisa menebak bahwa Vina tak akan masuk kantor hari ini.