7 - Cemburu

1411 Words
(adj.) katanya tanda cinta. Tapi kadang absurditas alasannya bikin muak. Terlebih lagi, jika ternyata tidak punya hak. -(at)commaditya *** Setelah aksi Damar makan siang 'paksa' dengan Melody, meski dengan sedikit 'rayuan' yang membuat Melody kalah telak. Dirinya berpikir dengan menuruti permintaan Damar, akan membuat lelaki tersebut segera pergi dari ruangannya. "Lo- ehm, kamu nggak balik kantor?" tanya Melody yang hampir saja membuat kesalahan. Tangannya mulai membereskan bekas makanan mereka dan berjalan menuju tempat sampah. Damar masih tetap duduk di sofa, dengan tangan yang memegang botol air mineral dan siap meminumnya. "Nggak. Aku stay," sahut Damar setelah meletakkan kembali botol minumnya diatas meja. Melody yang mendengar ucapan Damar pun mengernyit. "Stay nungguin kamu dan pulang bareng," jelasnya yang mengerti maksud dari raut wajah Melody. "Gu- aku bisa pulang sendiri. Palingan nanti lembur juga," ucap Melody yang mencoba menghilangkan kebiasaan lo-gue. "Aku tunggu," tegas Damar. Final. Tanpa bantahan. Melody menghela nafas mendengar jawaban Damar. Pupus sudah harapan Melody. Kembali memasuki jam kerja setelah lunch break, Melody duduk di singgasananya dan Damar tetap di sofa. Mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sampai suara ketukan pintu mengalihkan atensi keduanya. Ceklek. "Mel," ucap seseorang yang membuka pintu ruang kerja Melody. "Ada apa, Yo?" Melody mendongak setelah memastikan suara familiar milik Rio, teman sedivisinya. Munculnya mahluk berkromosom XY tersebut membuat radar siaga Damar berdiri. Matanya menatap tajam sosok tersebut, sayangnya Rio tidak menyadarinya. "Pulang kerja temenin gue yuk. Lo lembur nggak?" ucap Rio yang kini sudah berdiri di depan Melody. "Mau kemana, Yo?" tanya Melody setelah menghentikan aktivitasnya. "Ke mall aja sih, cari kado buat ulang tahun  nyokap," Rio menjelaskan tujuannya. "Gimana?" tanya Rio lanjut. "Harus banget hari ini, ya?" tanya Melody was-was mengingat jika Damar mengajaknya pulang bersama. "Enggak sih, besok juga bisa. Kenapa? Lo lembur hari ini? Gue temenin deh," Rio yang tadinya berdiri, akhirnya duduk berhadapan dengan Melody. Masih gue pantau, batin Damar dengan sorot mata tajam pada keduanya. " Sorry, kalo hari ini gue nggak bisa. Kalo besok, ay-" Ekhem. Suara deheman memotong ucapan Melody. Melody baru tersadar jika ada orang selain dirinya dan Rio. Mampus lo Mel, batin Melody setelah mendapati Damar dengan sorot mata tajamnya. Rio juga tersadar jika ada orang lain, selain dirinya dan Melody. Seketika ia memutar badannya untuk melihat siapa yang berdeham. "Eh? Ma-af pak," Rio terkejut dan langsung bersikap sopan pada Damar. Ia menganggap jika Damar adalah orang penting karena dilihat dari setelan kerjanya yang branded. Damar tidak menanggapi ucapan Rio, dirinya justru berjalan mendekati Melody. Langkahnya pelan, namun entah mengapa membuat Melody ketar-ketir. Mati lo Mel, batin Melody. Semakin dekat jarak Damar dan Melody. Disisi lain, kedua mata Rio menangkap gerak-gerik keduanya. Ada yang aneh, batin Rio. Semakin dekat Damar, degup jantung Melody juga berdetak kencang. Hingga sampailah ia, berdiri menjulang disamping Melody duduk. "Berdiri," Damar mengulurkan tangan ke arah Melody. Melody sempat bingung, namun tetap menyambut uluran tersebut dan berdiri sesuai perintah Damar. Dirinya menurut seakan terhipnotis dengan ucapan Damar. "Mendekat," kembali Damar memerintah Melody dan Melody lagi-lagi menurutinya. Grep. Melody terkejut. Damar dengan tiba-tiba merangkul pinggangnya begitu posesif, seolah-olah ingin menunjukkan pada dunia luar jika dirinyalah pemilik Melody. Bagaimana reaksi Rio? Tentu saja terkejut. Bahkan hampir tidak percaya, jika seseorang yang dianggapnya tamu adalah pasangan Melody. Karena selama yang ia ketahui, Melody seorang single woman. "Mel?" Rio memanggil sang pemilik ruangan, sekaligus menyadarkan Melody dari keterkejutannya. "E-eh?" Melody terbata saat merasakan rengkuhan Damar yang mengerat. "Ya, Yo?" Melody mengerjapkan mata dan berusaha untuk fokus dengan lawan bicaranya. "Lo sama dia-" "Ekhem. Damar Eka Wiratama, kekasih Melody Anjani," suara Damar menginterupsi ucapan Rio disusul uluran tangannya. Ada yang patah, tapi bukan kayu. Meski dalam mode siaga, Damar tetap bersikap sopan ketika bertemu dengan orang baru. Ia harus tetap menjaga wibawanya. "Eh?" Melody menoleh ke samping dan menatap mata Damar, bertanya tentang maksud dari ucapannya. Bukan penjelasan, tapi senyuman manis yang ia dapatkan. "Mario Pradipta," Rio membalas uluran tangan Damar sebagai bentuk sopan santun serta memperkenalkan nama lengkapnya yang jarang sekali ia lakukan. Tak lupa senyum tipis tersungging dibibirnya. "Jadi?" Rio kembali bertanya, atau lebih tepatnya klarifikasi tentang hubungan kedua orang tersebut. "Seperti yang saya katakan tadi. Saya kekasih Melody sejak lama," bukan, bukan Melody yang menjawab, melainkan Damar. Melody hanya diam mematung berdiri disamping Damar, seseorang yang mengklaim sebagai kekasihnya. "Mel? Beneran?" Rio yang seolah tak puas akan jawaban Damar, kembali menanyakannya pada Melody setelah perkenalan singkat dengan Damar. "Bu-" "Ya. Jika maksud Anda, selama ini Melody terlihat kemana-mana sendiri, karena saya baru kembali dari luar negeri. Kita kenal sejak lama, walau sempat putus karena LDR yang banyak resiko, tapi kita sudah kembali bersama lagi. Bahkan saya sudah mengenal keluarga kekasih saya ini," Damar berucap panjang lebar demi memenuhi rasa penasaran Rio. Melody sebenarnya ingin menyanggah, namun entah mengapa sedari tadi mulutnya terkunci rapat. Tangan Damar yang sejak tadi merengkuh pinggangnya, sesekali memberi usapan lembut disekitar pinggang. Membuat Melody dongkol karena pinggang merupakan salah satu area sensitif bagi Melody. Ia mati-matian menahan gejolak dalam dirinya yang tiba-tiba naik dan ingin lebih dari usapan. Sial, cari kesempatan banget nih kampret, batin Melody kesal. Disisi lain, Damar yang mengetahui bagaimana raut wajah seseorang yang ia klaim sebagai kekasih terebut, tersenyum jumawa, namun ia tahan. Dirinya merasa diatas awan karena kali ini Melody menjadi penurut dan tidak ada aksi brutal seperti biasa. Cup. Damar mengecup pelipis Melody, hingga membuat gadisnya menahan nafas. "Bernafas, hon," Damar berbisik di telinga yang berhadapan dengan mulutnya. Melody pun akhirnya menghembuskan nafas yang selama ini ia tahan. Disisi lain, Rio yang berhadapan dengan mereka dan melihat adegan demi adegan sejak tadi, hanya mampu mengulas senyum pahit. Dirinya telah kalah. Kalah telak. Mereka memiliki history, sedangkan dengannya new story. Sungguh miris romansa Mario Pradipta yang bahkan belum terjalin. "O-oh. Congrats buat kalian. Gue tunggu PJ-nya, Mel. Dan soal ajakan gue tadi, biar gue cari sama Wulan aja," Rio berusaha menormalkan nada bicaranya pada Melody, seolah-olah ia baik-baik saja. "Kalo gitu, gue balik ke meja dulu. Mari, Pak," Rio berpamitan pada Melody dan Damar. Sebenarnya, Melody ingin menanggapi ucapan Rio, tapi Rio malah buru-buru keluar dari ruangannya. Setelah Rio keluar, kini ruangan tersebut kembali ditinggali oleh dua orang dengan posisi yang sama. Barulah Melody melepaskan tangan Damar yang merengkuhnya dan menatapnya penuh amarah. "Maksud lo apa, hah? Kekasih? Ngimpi lo?" suara Melody meninggi karena rasa amarahnya yang sejak tadi ia tahan. "Dy," Damar memanggil namanya seolah sebagai tanda peringatan, namun Emlody tidak menggubrisnya. "Apa, hah? Asal lo tahu ya, lo itu bukan pacar gue. Cuma mantan. M-a-n-t-a-n," Melody mengeluarkan segala unek-uneknya tepat dihadapan Damar. Persetan dengan hukuman Damar. "Ody," Damar sekali lagi memanggilnya, namun lagi-lagi Melody acuh. Tidak tahukah ia jika Damar menahan emosinya sejak tadi? "Gue peringatin sama lo. Jangan banyak tingkah. Inget, kita cuma mantan. Apa perlu gue eja?" suara Melody merendah tanda ia telah selesai menumpahkan rasa amarahnya sejak tadi. "Udah?" Damar memastikan jika Melody telah selesai dengan unek-uneknya. Meskipun marah dengan tingkah Damar, tapi ia tetap mengangguk sambil menormalkan nafasnya yang terengah-engah. Cup. Damar kembali mencium bibir Melody. Tangan kanannya merengkuh pinggang Melody agar lebih dekat, sedangkan yang kiri menahan tengkuk Melody untuk merasakan sensasi bibirnya lebih dalam. Melody yang awalanya terkejut dan sempat berontak, lama-lama hanyut terbawa suasana. Kedua tangannya mengalung ke leher Damar. Merasa kurang nyaman dengan posisinya saat ini membuat Damar mengangkat tubuh Melody dan membawanya ke sofa. Kedua kaki Melody ikut membelit pinggang Damar dan tangannya turut bermain dengan rambut Damar. Setelah berhasil duduk dengan Melody yang berada diatas pangkuannya, membuat hasrat Damar dan Melody menjadi tinggi. Mereka ingin 'lebih', tapj kembali lagi ingat dengan pesan orang tua mereka. Bibir Damar terus mencium, melumat, mencecap dan menggigit bibir Melody yang sejak lama menjadi candunya. Tangannya yang merengkuh pinggang, beralih memberi usapan sensual naik-turun disekitar pinggang dan punggung. Melody juga seolah lupa dengan amarahnya tadi. Lenyap sudah dengan sebuah ciuman. "I'm jealous," Damar berucap disela ciumannya dengan Maudy. "Lo ng-" Cup. "Bilang sekali lagi lo-gue, abis kamu sekarang juga," Damar mengecup bibir yang membengkak tersebut dengan tersenyum smirk yang membuat Melody bergidik. "Kamu nggak ada hak, dong. Inget kan, kita cuma mantan," Melody membalas ucapan Damar sekaligus mengingatkan akan status mereka kini. "Bukan lagi hak, aku bahkan bisa membuatmu memiliki kewajiban," bisik Damar di telinga kanan Melody. Melody meneguk ludah mendengar ucapan Damar. "Kalau hak-ku udah hilang, bakal aku munculin lagi plus kewajiban kamu nantinya," Damar melanjutkan ucapannya dengan suara lirih namun tegas dan tanpa bantahan. Cup. Damar kembali menyatukan bibirnya dengan Melody. Seolah lupa dengan ucapan Damar, Melody membalas aksi Damar dan membiarkan dirinya menikmati momen ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD