Suasana duka menyelimuti kediaman utama Alexander. Kepergian Shara dan Robert yang begitu mendadak membuat semua orang terkejut. Ditambah lagi, terungkapnya penyebab kejadian tragis yang berhasil menyebabkan Shara dan Robert meregang nyawa.
Awak media berbondong-bondong memenuhi halaman besar mansion. Para pemburu berita tentu saja akan meliput acara yang sudah barang tentu akan menggegerkan dunia maya. Tidak hanya itu, para sahabat, teman serta partner bisnis Robert dan Shara pun hilir mudik hanya demi menyaksikan wajah pasangan sehidup semati itu untuk yang terakhir kalinya.
Ratusan kepala rela berdesakan hanya demi memberikan penghiburan kepada keluarga yang ditinggalkan. Menjadi salah satu pengusaha sukses menjadikan nama Robert dan Shara melambung tinggi. Tak sedikit dari mereka yang datang dari luar negara hanya untuk memberikan penghormatan terakhir.
Kejadian tragis itu memenuhi halaman media elektronik. Berita mengejutkan itu mengundang banyak pertanyaan serta spekulasi dari berbagai sumber.
Keadaan mansion semakin padat menjelang siang hari. Shara dan Robert di bawa pulang oleh pihak keluarga sebelum matahari terbit. Wajah sendu para maid dan penjaga pun tak luput dari tiap pasang mata yang menyaksikan.
Penjagaan diperketat, ada beberapa bodyguard yang berlalu lalang di sekitar mansion. Para pelayat yang ingin masuk ke kediaman megah itu pun tidak luput dari pemeriksaan ketat. Tidak sembarang tamu yang diperkenankan melewati gerbang mansion begitu saja sebab ada beberapa persyaratan yang harus mereka lalui. Meski merepotkan, untungnya para pelayat yang hadir cukup bisa diajak bekerja sama dan mau mengerti kondisi.
Berbeda jauh dengan keadaan di bawah sana, keadaan kamar Thomas justru sunyi. Hanya suara debaran jantung dan deru nafas Belinda saja yang mengisi kamar bernuansa masculine tersebut.
Belinda sudah menyiapkan seluruh kebutuhan Thomas. Sebagai seorang istri sudah kewajibannya menyiapkan kebutuhan suami, bukan? Dan itulah yang Belinda lakukan saat ini. Meski hatinya diliputi kegelisahan yang menyeruak karena ia belum menerima kabar lanjutan mengenai kondisi kesehatan Exel.
Setelah berganti status, Belinda tidak bisa mengabaikan tugasnya begitu saja. Ia pun menyadari bahwa saat ini Thomas jauh lebih membutuhkannya. Menyaksikan secara langsung bagaimana rapuhnya seorang Thomas Alexander membuat Belinda merasa berkewajiban untuk tetap berdiri di samping pria itu dan menemaninya. Pria yang selama ini ia kenal dingin dan berwibawa nyatanya tidak sekuat yang ia kira. Nyatanya, Thomas tetaplah manusia biasa yang memiliki sisi lemahnya sendiri.
Berdiri di depan jendela yang menyajikan hamparan berbagai jenis bunga bermekaran membuat suasana hati Belinda sedikit tenang. Saat ini, Thomas sedang berada dalam kamar mandi. Belinda sendiri sudah lebih dulu membersihkan tubuhnya.
Dengan sangat terpaksa, Belinda bersedia mengenakan pakaian pemberian Gabrielle, sebab ia tidak memiliki pakaian ganti. Untung saja ukuran mereka sama, dan untungnya juga Gabrielle memberikan beberapa set pakaian baru. Sejujurnya Belinda sedikit merasa risih sebab dress yang dikenakannya saat ini cukup pendek dan ketat. Belinda tidak terbiasa memakai pakaian terbuka, ia lebih suka menyembunyikan lekuk tubuhnya di balik pakaian longgar.
Sejak tadi, Belinda ingin keluar dari kamar karena rasanya sangat aneh berada dalam satu kamar yang sama dengan Thomas. Namun, permintaan Cecilia terus terngiang di kepalanya. Wanita cantik yang telah resmi menjadi ibu mertuanya itu memintanya agar tetap berada di sisi Thomas, dimanapun pria itu berada.
Saat memutuskan untuk menjauhi Thomas, sejak saat itu pula Belinda membatasi diri untuk berinteraksi dengan pria itu. Bukan hanya sekedar keinginan hati, Belinda benar-benar merealisasikannya. Dan kemarin, untuk pertama kalinya Belinda kembali membuka komunikasi dengan pria itu.
Sibuk bergelut dengan pemikirannya sendiri, Belinda sampai tidak menyadari Thomas yang ternyata telah selesai membersihkan diri.
Pemandangan indah di depan matanya membuat Thomas meneguk liurnya. Thomas memindai penampilan Belinda yang tampak berbeda dari biasanya. Dress yang wanita itu kenakan mencetak jelas lekuk tubuhnya. Beberapa bagian menonjol mengusik pikiran liar Thomas. Sewaktu ia hendak membersihkan tubuhnya, wanita itu lebih memilih mengenakan pakaian gantinya di walk in closet. Dan tanpa ia sangka-sangka, Belinda memberinya kejutan lewat penampilannya. Thomas menarik nafas kuat-kuat, sepertinya ia tidak akan mampu membatasi pikiran liarnya. Netranya menangkap satu set pakaian yang tergeletak di atas kasur. Layaknya seorang pemburu, Thomas berderap pelan mendekati Belinda.
"Apa yang kau lakukan?" Secara alamiah, Thomas mendekap tubuh Belinda dari belakang. Aroma manis yang sebelumnya tercium saat berdekatan dengan wanita itu, kini bisa ia baui dengan jelas.
Belinda tersentak. Perlakuan Thomas yang tiba-tiba membuat sekujur tubuhnya menegang. Aroma maskulin dari sabun yang Thomas gunakan memompa kinerja jantungnya jauh lebih cepat. Dan Belinda kehilangan kata-katanya kala merasakan bahunya basah akibat tetesan air yang jatuh dari rambut Thomas.
'Apa-apaan ini? Untuk apa pria itu memelukku seperti ini? Dan mengapa Thomas tidak memakai pakaiannya?'
"Bel?" Thomas memajukan kepalanya, mengintip sepasang pipi yang ternyata mengeluarkan rona merona. Ia tersenyum tipis, tak menyangka ternyata wajah Belinda terlihat jauh lebih cantik jika ditatap dari jarak sedekat ini.
"Kenapa kau tidak memakai pakaianmu?" Setelah mendapatkan kembali ketenangannya, akhirnya Belinda memberanikan diri untuk bertanya.
Suara kekehan berat yang terdengar seksi di telinganya berhasil menggemparkan jiwa Belinda.
"Kenapa memangnya?" Bisik Thomas, pelan.
Thomas pun sangat menyadari bahwa saat ini Belinda sedang diserang rasa gugup berlebih. Wanita mana yang bisa bersikap biasa saja ketika di peluk oleh pria yang hanya memakai handuk sebagai penutup tubuh bagian bawahnya? Dan kepercayaan diri yang ia miliki meyakini asumsinya.
Belinda mengerjap, bulu mata lentiknya bergerak pelan. "Apa maksudmu?" Susah payah Belinda berupaya melepas lengan Thomas yang melilit perutnya. "Sebaiknya kau memakai pakaianmu, Thom. Kita sudah ditunggu banyak orang di bawah." Belinda menyerah. Bukannya terlepas, rengkuhan itu justru semakin menguat.
Dan dengan santainya, Thomas menjatuhkan keningnya di pundak Belinda. "Tapi aku sedikit lelah. Pasti banyak orang di luar, dan aku malas bertemu dengan mereka." Tuturnya seraya membaui dengan rakus aroma manis yang sejak tadi membuatnya penasaran.
Mati-matian Belinda menenangkan debaran jantungnya yang berdentum gila-gilaan. "Jangan mengada-ada. Setidaknya kau harus menghargai kehadiran mereka. Setelah ini, kau bisa istirahat." Belinda berharap Thomas mau melepasnya karena ia tidak dapat mengontrol debaran jantungnya. Ia hanya takut Thomas menyadarinya, bahkan lebih parahnya lagi sampai mendengar suaranya.
"Tapi aku belum memejamkan mataku sejak semalam," Thomas mengangkat kembali wajahnya, kini dagunya yang menempel di pundak Belinda. "Apa kau tidak mengantuk? Kau juga tidak tidur semalaman, bukan?"
Belinda meremas kedua tangannya, gugup. "Ya, memang. Tapi aku masih bisa menahannya."
Kedua tangan Thomas kini hinggap di pundak wanita itu kemudian memutarnya, sehingga Belinda bisa melihat dengan jelas tubuh kekar Thomas yang dipenuhi otot. Rasa gugupnya semakin bertambah, apalagi Thomas menatapnya begitu intens.
"Apa kau yakin? Lebih baik kita istirahat sejenak. Aku akan menghubungi Mom. Dia pasti akan memaklumi."
Secara spontan Belinda memalingkan wajahnya yang terasa panas. Belinda sama sekali tidak habis pikir karena bisa-bisanya Thomas bersikap santai dengan keadaannya yang seperti itu. Mereka memang telah menikah, akan tetapi untuk pernikahan yang tidak dilandasi oleh cinta, bukankah seharusnya pria itu lebih bisa menjaga penampilannya. Mereka bisa berpisah kapan saja, terlebih Exel sudah melewati masa kritisnya.
"Kenapa kau hanya diam?" Thomas mengernyit heran, detik berikutnya ia menyeringai begitu menyadari sejak tadi Belinda enggan menatapnya. "Apa kau malu melihatku seperti ini?"
Belinda mendelik. Oh Tuhan, rasanya ingin sekali ia kutuk bibir pria itu. Kenapa harus ditanyakan lagi?
"Oke, oke." Thomas mundur seraya mengangkat kedua tangannya ke udara. "Aku akan memakai pakaianku. Tapi, kita tetap akan beristirahat sebentar."
Tanpa harus repot-repot menunggu jawaban, Thomas langsung memutar balik tubuhnya setelahnya ia mengambil boxer yang tergeletak di atas kasur kemudian memakainya dengan santai tanpa malu sedikitpun. Apa yang dilakukan Thomas berbanding terbalik dengan reaksi Belinda yang secara reflek lansung memalingkan kembali wajahnya yang terasa lebih panas dari sebelumnya. Bersamaan dengan itu mulutnya komat kamit tak berhenti melontarkan umpatan kasar untuk pria tidak tau malu itu.
Selesai memakai boxer, Thomas langsung melemparkan tubuhnya ke atas kasur. Seketika matanya terpejam. Hembusan nafasnya terdengar puas saat merasakan seluruh tubuhnya yang sebelumnya terasa kaku langsung rileks begitu menyentuh lembutnya kasur. Thomas menoleh, mengamati Belinda yang ternyata berpaling muka.
"Apa yang kau lihat? Kemari lah." Thomas menepuk sisi ranjang yang kosong. "Percayalah padaku, tubuhmu akan terasa lebih rileks."
Kalimat terakhit Thomas berhasil memancing Belinda untuk menoleh. ia pun menatap ragu Thomas dan ranjang bergantian. Apakah ia memang harus mengistirahatkan tubuhnya seperti saran Thomas?
Selagi Belinda masih sibuk berperang dengan isi kepalanya, Thomas bergerak cepat mengirimkan pesan pada Cecilia dan Devan. Setelah memastikan pesannya terkirim, Thomas kembali menatap Belinda yang masih berdiri di tempatnya. "Apa lagi yang kau tunggu? Aku sudah mengirimkan pesan pada Mommy dan Daddy."
Belinda berdecak, pada akhirnya ia bergerak mendekati ranjang yang terlihat sudah menunggu kedatangannya. Meskipun ragu, akan tetapi yang dikatakan Thomas ada benarnya. Ia memang butuh istirahat sejenak, agar tubuhnya tidak tumbang.
Gerakan Belinda sangat hai-hati sewaktu ia mendaratkan bokongnya, begitupun sewaktu mengangkat satu persatu kakinya. Thomas yang kelewat gemas, langsung menarik lengan wanita itu hingga Belinda spontan memekik sangking terkejutnya.
"Apa yang kau lakukan?" Belinda melotot diiringi jantung berdebar kencang karena terlalu syok.
"Kau terlalu lama, Bel. Apa sebenarnya yang kau pikirkan, huh?" Thomas mengabaikan tatapan tajam Belinda. Yang ia lakukan justru menarik tubuh wanita itu semakin merapat padanya, membuat Belinda menahan nafas karena jarak mereka terlalu dekat.
Belinda menahan d**a Thomas agar tidak menabrak wajahnya. Tangan dan kaki pria itu sudah melilit tubuhnya seperti ular. "Thom, kenapa kau memelukku seperti ini?"
Sepasang netra indah yang sudah tenggelam itu kembali naik kepermukaan. "Apa ada yang salah? Sekarang kau adalah istriku. Dan aku rasa, aku bebas untuk memelukmu. Bahkan lebih dari sekedar memelukmu."
Perkataan ambigu Thomas membuat kedua mata bulat Belinda melebar. Memang benar Thomas suaminya, akan tetapi...
"Sudahlah, jangan pernah menyamakan pernikahan kita dengan drama pernikahan yang sering kau tonton itu!" Thomas sedikit kesal, tubuhnya sudah sangat lelah tapi Belinda sepertinya masih ingin berdebat dengannya tentang hal yang menurutnya konyol.
Belinda mendongak membuat tatapan mereka bertemu. "Tapi, Papaku sud---" Seluruh ucapannya tertelan begitu saja karena tiba-tiba Thomas meraup bibirnya dengan buas.
"Dengar!" Thomas mengusap bibir bawah Belinda yang sedikit membengkak sembari mengatur nafasnya. "Jika kau berbicara satu kata lagi, aku akan melakukan lebih dari ini!"
Ancaman Thomas berhasil membuat mata Belinda yang semula terpejam sontak terbuka lebar. Yang Belinda lihat dari sorot matanya, pria itu terlihat tidak main-main dengan kata-katanya. Belinda menelan ludahnya susah payah, ia cukup ngeri hanya dengan membayangkannya saja. Pada akhirnya Belinda menurut, menutup bibirnya rapat-rapat.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" Thomas mengangkat satu alisnya, heran. "Hei.. ini bukan pertama kali kita berciuman, bukan?" Thomas tergelak sebab wajah ketakutan Belinda justru sangat lucu dimatanya. Sejak kemarin ia sudah mati-matian mengatur ekspresi wajahnya agar tetap terlihat biasa saja, dan kali ini ia tidak mampu lagi menahan gelitik yang lagi dan lagi mengguncang perutnya.
Belinda mendelik, reflek ia kembali menunduk. Wajahnya yang awalnya pucat karena ketakutan kini berubah drastis menjadi merah padam. Mengapa Thomas mengajaknya mengenang kejadian lampau itu? Bukankah seharusnya mereka tidak perlu mengingatnya lagi karena kejadian itu hanyalah sebuah kesalahan fatal yang patut disesali?
"Jangan pikirkan apapun, tidurlah. Aku sangat lelah." Thomas bergumam pelan seraya menarik kembali tubuh Belinda merapat padanya.
Dan Belinda hanya mampu memasrahkan tubuhnya dalam dekapan Thomas. Suara dengkuran halus membuat Belinda percaya bahwa pria itu benar-benar kelelahan. Wajar saja, musibah yang menguras energi serta pernikahan yang dilandasi keterpaksaan pastinya membuat Thomas lelah secara fisik dan mental. Belinda menghela nafas, sepertinya akan lebih baik jika ia menyerahkan seluruh hidupnya pada garis takdir yang mungkin sudah mulai memainkan perannya.
Bukan tidak ingin menerima dan mencoba menjalani pernikahannya seperti pasangan normal lainnya. Hanya saja, kondisi Exel yang sudah bisa dikatakan lebih baik membuat hatinya meragu. Apakah pantas jika ia tetap meneruskan pernikahan konyol ini?
Belinda hanya tidak ingin menggantungkan harap pada sesuatu yang tidak pasti. Kebanyakan pernikahan yang dilandasi keterpaksaan biasanya akan berakhir pada sidang perceraian. Dan, Belinda hanya ingin menikah sekali seumur hidupnya.
Lama bergelut dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyumbat otaknya, pada akhirnya Belinda kalah oleh rasa lelah yang mendera. Kelopak matanya perlahan tertutup dibarengi dengan deru nafas yang mulai teratur.
Suara pintu yang terbuka tidak membuat pasangan yang saling memeluk itu terjaga. Gabrielle cekikikan dari ambang pintu karena berhasil menangkap basah pasangan lovebird yang tampak nyaman dalam posisi yang begitu romantis.
Mulanya, Gabrielle bermaksud menemui Belinda, berniat menemani wanita itu yang pastinya akan merasa canggung menghadapi banyaknya kerumunan manusia yang tidak dikenalnya. Dan saat ia bertanya pada Cecilia tentang keberadaan Belinda, sang mommy mengatakan bahwa Belinda sedang beristirahat. Oleh sebab itu, Gabrielle memutuskan untuk menghampiri Belinda yang sudah dipastikan berada di kamar kakaknya.
Sudah berulang kali ia mencoba mengetuk pintu. Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, Gabrielle memutuskan untuk membuka sedikit pintunya. Tak disangka-sangka, Gabrielle justru mendapatkan momen manis dari pasangan yang baru saja berubah status itu. Dan kini ia sedang sibuk mengarahkan ponselnya ke arah pasangan yang terlihat nyaman dengan posisi mereka.
Setelah merasa puas dengan hasil bidikannya, Gabrielle berjalan mengendap-endap. Berusaha sebisa mungkin agar tidak menimbulkan suara. Bahkan menutup pintunya pun ia lakukan dengan sangat pelan.
"Gotcha!" Gabrielle menatap puas hasil jepretannya. Setelah ini ia akan mengirimkan semua foto yang berhasil diambilnya kepada Rebecca. Gabrielle yakin, Rebecca akan merasakan kebahagiaan yang sama dengan dirinya.