Langit Milan berwarna abu-abu metalik saat jet pribadi Dante mendarat kembali di landasan pacu rahasia miliknya. Rencana untuk membiarkan Rania tinggal di Indonesia hancur total setelah konfrontasi berdarah di Surabaya.
Dante tidak bisa membiarkannya pergi, dan Yusuf—yang kini mengetahui siapa Dante sebenarnya—terpaksa diseret ke dalam pusaran ini demi keselamatannya sendiri.
Kini, mereka kembali ke tempat semuanya bermula. Namun kali ini, atmosfernya jauh lebih mencekam.
Klan Valenti telah menyatakan perang terbuka, dan Milan telah berubah menjadi zona tempur.
"Bawa Yusuf ke sayap barat mansion. Jaga dia, tapi jangan biarkan dia keluar dari kamarnya," perintah Dante kepada Marcello saat mereka melangkah masuk ke aula utama mansion Moretti yang megah.
"Tuan! Anda tidak bisa mengurung kakak saya seperti tahanan!" seru Rania, langkahnya terhenti di tengah tangga marmer. Ia menatap Dante dengan kemarahan yang meluap, meskipun tubuhnya masih gemetar karena kelelahan.
Dante berbalik. Mantel wol hitamnya berkibar saat ia melangkah mendekati Rania. Ia mencengkeram pegangan tangga di kedua sisi tubuh Rania, mengurung gadis itu dalam ruang sempit di antara lengannya.
"Kakakmu selamat karena aku membawanya ke sini, Rania," bisik Dante, suaranya berat dan berbahaya. "Di Indonesia, sisa-sisa Valenti akan memburunya hanya untuk memancingku kembali. Di sini, di bawah atapku, dia aman. Dan kau..."
Dante menurunkan wajahnya, menghirup aroma lembut dari kerudung Rania yang kontras dengan bau mesiu yang masih melekat di tubuhnya.
"Kau tidak akan pernah meninggalkan Milan lagi. Aku sudah mencoba melepaskanmu, tapi kau justru membuatku semakin haus. Kau bukan lagi sekadar donor darah bagiku, Rania. Kau adalah obsesiku yang paling murni."
Rania memalingkan wajahnya, menolak tatapan tajam pria itu. "Anda adalah monster, Tuan Dante. Anda menyelamatkan kami hanya untuk menjadikan kami koleksi di museum berdarah Anda."
Sementara itu, jauh di bawah fondasi mansion yang kokoh, di sebuah sel isolasi yang kedap suara, Bianca duduk di lantai beton. Ia mendengar suara langkah kaki di atasnya. Ia tahu Dante sudah kembali. Dan ia tahu Dante membawa "kelemahannya" kembali ke jantung pertahanan Moretti.
Bianca tersenyum gila. Ia meraih sebuah kepingan kecil logam yang ia sembunyikan di dalam jahitan bajunya—sebuah pemancar frekuensi rendah yang ia dapatkan dari seorang penjaga yang berhasil ia goda sebelum Dante memindahkannya.
"Ayo, Enzo..." bisik Bianca pada kegelapan. "Serang mansion ini. Bakar semuanya. Biarkan Dante memilih antara menyelamatkan tahtanya atau gadis kecilnya itu."
Pukul 04.00 pagi. Kabut tebal menyelimuti jalanan Milan. Tiba-tiba, suara ledakan keras mengguncang gerbang depan mansion Moretti. Alarm keamanan melolong membelah kesunyian malam.
Marcello menyerbu masuk ke ruang kerja Dante. "Tuan! Valenti melakukan serangan bunuh diri! Mereka membawa tentara bayaran dalam jumlah besar. Mereka tidak mengincar gudang senjata, mereka langsung mengarah ke sayap barat—tempat Yusuf berada!"
Dante menyambar dua pistol Beretta dari mejanya. Matanya berkilat dengan kegembiraan yang mengerikan; ia sudah lama menantikan saat untuk menghabisi Valenti secara permanen.
"Rania, masuk ke ruang perlindungan bawah tanah sekarang!" perintah Dante.
"Tidak! Kak Yusuf ada di sana!" jerit Rania.
Dante mencengkeram bahu Rania, menatapnya dengan intensitas yang tak tergoyahkan. "Aku akan menjemput kakakmu. Tapi jika kau keluar dari garis perlindunganku, aku tidak akan segan-segan merantai kakimu ke tempat tidur ini selamanya agar kau tetap aman. Paham?!"
Dante melepaskan Rania dan berlari menuju medan tempur di dalam rumahnya sendiri, sementara suara tembakan otomatis mulai merobek dinding-dinding mewah mansion Moretti.
Dinding mansion yang biasanya menampilkan lukisan Renaisans kini hancur terkena rentetan peluru kaliber tinggi. Asap putih memenuhi lorong-lorong megah, bercampur dengan bau mesiu yang menyesakkan. Dante bergerak dengan kecepatan yang mengerikan, melumpuhkan dua penyerang di koridor utama hanya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap menggenggam senjata dengan stabil.
"Marcello! Amankan balkon lantai dua!" perintah Dante melalui radio. "Jangan biarkan satu pun b******n Valenti menyentuh pintu sayap barat!"
Di sayap barat, Yusuf terbangun karena suara ledakan yang meruntuhkan sebagian langit-langit kamarnya. Sebagai pria yang terbiasa dengan ketenangan doa dan buku, situasi ini adalah neraka yang nyata. Ia mencoba membuka pintu, namun terkunci dari luar—protokol keamanan Dante untuk menjaganya tetap di dalam.
"Rania! Rania!" teriak Yusuf, suaranya parau tertutup suara tembakan otomatis.
Tiba-tiba, pintu itu hancur diterjang tendangan sepatu bot militer. Dante muncul di ambang pintu, wajahnya terpercik darah namun matanya memancarkan fokus yang mutlak.
"Keluar! Sekarang!" geram Dante. Ia menarik Yusuf dengan kasar tepat saat sebuah granat meledak di ujung koridor.
Yusuf terbatuk, mencoba berdiri tegak di tengah reruntuhan. "Di mana adikku? Di mana Rania?!"
"Dia aman di ruang bawah tanah. Tapi jika kau tidak bergerak sekarang, kau akan menjadi beban yang membuat kami berdua mati di sini," ucap Dante dingin. Ia menyerahkan sebuah pistol cadangan kepada Yusuf. "Gunakan ini jika ada yang mencoba mendekat. Jangan tanya soal moral sekarang, Yusuf. Ini soal bertahan hidup."
Di kedalaman bawah tanah, kekacauan di atas memberikan kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh Bianca. Ledakan di gerbang depan menyebabkan korsleting pada sistem keamanan elektronik selnya. Dengan sisa tenaga dan kecerdikan yang gila, Bianca berhasil menarik tuas manual yang melonggarkan jeruji besinya.
Ia merangkak keluar, kakinya yang tanpa alas kaki menginjak pecahan kaca. Namun ia tidak lari menuju pintu keluar. Tujuannya adalah ruang perlindungan—tempat Rania disembunyikan.
"Dante mengira dia bisa menyimpan permata di bawah tanah sementara rumahnya terbakar," bisik Bianca dengan tawa kecil yang mengerikan. "Dia lupa bahwa ular selalu tahu jalan di bawah tanah."
Rania duduk gemetar di dalam ruangan berlapis baja itu, memegang tasbih kayu zaitunnya erat-erat. Tiba-tiba, layar monitor keamanan di dalam ruangan itu mati. Suara gesekan logam terdengar dari ventilasi udara.
Pintu darurat terbuka sedikit, dan sosok Bianca muncul dengan seringai kemenangan. Ia memegang sebilah pisau bedah yang ia curi dari lemari medis di koridor.
"Halo, Gadis Suci," sapa Bianca, suaranya bergema dingin. "Dante sedang sibuk menjadi pahlawan untuk kakakmu di atas sana. Dia lupa bahwa kaulah alasan semua orang ini ingin membakarnya."
Rania berdiri, mencoba mundur ke sudut ruangan. "Apa yang Anda mau? Dante sudah menghancurkan klan Anda. Anda tidak punya apa-apa lagi!"
"Aku ingin melihat wajahnya saat dia menemukan jasadmu," desis Bianca, melangkah maju dengan mata yang berkilat gila. "Dunia ini terlalu kecil untuk kita berdua, Rania. Dan darahmu... aku ingin melihat apakah warnanya benar-benar seindah yang Dante katakan."
Di atas, Dante baru saja berhasil membawa Yusuf ke area yang lebih aman ketika radio di pinggangnya berbunyi nyaring. Suara Marcello terdengar panik.
"Tuan! Bianca keluar! Dia meretas sistem ruang perlindungan! Dia ada di dalam bersama Nona Rania!"
Dante membeku sejenak. Matanya menatap Yusuf yang masih terluka, lalu menatap ke arah tangga menuju bawah tanah. Di depannya, selusin anak buah Valenti baru saja masuk dari pintu samping, siap menghujani mereka dengan peluru.
"Pergilah," ucap Yusuf tiba-tiba, suaranya tegas meskipun tangannya gemetar memegang pistol. "Selamatkan adikku. Aku bisa bertahan di sini."
Dante menatap Yusuf dengan rasa hormat yang muncul secara terpaksa. "Jangan mati, Yusuf. Jika kau mati, dia tidak akan pernah memaafkanku."
Tanpa membuang waktu, Dante berbalik dan melompat melewati pagar balkon, meluncur langsung ke arah tangga bawah tanah, siap menghadapi iblis dari masa lalunya demi masa depan yang ia dambakan.